Konversi Sawit Menjadi Tumbuhan Hutan Menimbulkan Banyak Dampak

Ilus: Arum/Bul

Kelapa sawit yang akan dikonversi dari tumbuhan perkebunan menjadi tumbuhan hutan menuai berbagai pandangan.

Polemik isu sawit merebak ke topik pemberitaan media. Pro dan kontra mengenai isu tersebut sudah wajar terjadi. Berikut beberapa penjelasan dari petani, dosen, dan mahasiswa.

Tanaman Sawit

Isu tentang tumbuhan kelapa sawit yang akan dikonversi dari tumbuhan perkebunan menjadi tumbuhan hutan, sebenarnya bukan merupakan isu yang baru. Pada tahun 2010, upaya klasifikasi sawit menjadi tanaman hutan telah digadang oleh Kementrian Kehutanan. Wacana pengelolaan sawit di kawasan hutan produksi dinilai dapat menekan kerusakan hutan yang terjadi.

Dilansir dari Sawit Indonesia, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) mendukung usulan ini. Jika tanaman sawit diklasifikasikan sebagai tanaman hutan, maka jumlah hutan Indonesia akan semakin meluas hingga 14 juta hektare.

Ditinjau dari perspektif biologi, Dosen Ekologi Fakultas Biologi UGM, Mukhlis Jamal Musa Holle M Env, mengungkapkan bahwa sawit kurang cocok untuk ditanam di Indonesia. “Pertama, sawit itu sendiri bukan tanaman asli Indonesia. Secara alami, ia tidak sesuai dengan ekosistem tropis Indonesia. Kedua, dari sisi ekosistem, ketika sawit dibuka besar-besaran, akhirnya mengubah fungsi dan peran dari hutan tropis itu sendiri,” jelasnya.

Dampak Ekologis dan Sosial-Ekonomi

Mengonversi kelapa sawit menjadi tumbuhan hutan tentunya juga menimbulkan dampak bagi berbagai pihak. Salah satu dampak yang terlihat jelas adalah dampak ekologis. “Dampak ekologisnya sendiri, fungsi hutan yang sebagai habitat itu hilang,” ujar Mukhlis. Ia juga menambahkan bahwa dampak ekologis yang terlihat sangat nyata itu terlihat di hutan-hutan yang berada di Kalimantan. “Fungsi-fungsi hutan yang di Kalimantan itu kan banyak yang dikonversi menjadi hutan gambut. Nah, fungsi hutan gambut itu sendiri awalnya yang berperan sebagai penyimpan karbon dan sebagainya itu akhirnya hilang dan karbon itu terlepas ke udara. Itu yang sebenarnya merupakan dampak ekologis yang sudah sangat nyata,” terang Mukhlis.

Senada dengan Mukhlis, Wawan Sadewo, selaku Kepala Departemen Riset dan Kajian Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, juga menyuarakan ketidaksetujuan terhadap isu ini. “Nah, dari pembukaanya sawit sudah banyak merugikan dari sisi ekologisnya. Pertama, untuk menanam sawit di lahan gambut, kita harus mengeringkan lahan. Akibatnya, ketika waktu kering, air semakin surut lagi. Kedua, kebanyakan perusahaan sawit belum bisa menerapkan standar untuk menjaga kondisi tanah tetap lestari. Pemberian pupuknya juga begitu masif.,” jelasnya.

Wawan juga menambahkan, bahwa pembukaan sawit juga berdampak negatif terhadap rantai makanan yang  sudah terbentuk di dalam hutan. “Kalau di perkebunan kelapa sawit, kita tuh jarang melihat sebuah rantai makanan terbentuk dan malah itu dapat memutus rantai makanan yang sudah terbentuk di dalam hutan,” tambahnya.

Ditinjau dari dampaknya terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar, Wawan mengungkapkan bahwa dampak yang timbul bukan hanya ketika masyarakat membuka lahan, tetapi juga pada bagaimana mereka mengelola hingga memasarkan hasil dari perkebunan mereka. “Tambahan nilai ekonomi tetap ada, tapi kan lahan yang digunakan itu asalnya dari mana. Kalau itu memang lahan pribadi mereka sendiri tidak jadi masalah, tetapi kalau kemudian membuka lahan di hutan, itu akan menjadi masalah,” tutupnya.

Sumber:

http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/releases/Laporan-Greenpeace-International-Hutan-Indonesia-Masih-Dalam-Ancaman-Industri-Kelapa-Sawit/
http://www.indonesianpalmoil.com/2010/03/bolehkah-kelapa-sawit-ditanam-di-hutan.html
http://www.ptpn13.com/news-selengkapnya&c=0118041807561484582-akademisi-kehutanan-ipb-susun-naskah-akademik-sawit-sebagai-tanaman-hutan.html
https://sawitindonesia.com/rubrikasi-majalah/berita-terbaru/petani-dukung-sawit-dijadikan-tanaman-hutan/

Penulis: Farhan Wali, Maya Ristining Tyas, Agatha Vidya N/ M. Zahri Firdaus/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul
Ilus: Arum/Bul