Tombol Penyebrangan Jalan Terkadang Terlupakan

T

Pemerintah telah berupaya memberikan fasilitas kepada masyarakat demi meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan. Namun, fasilitas tersebut belum digunakan dengan baik.

Bicara tentang Yogyakarta, tentu tidak asing lagi dengan tempat yang satu ini. Malioboro merupakan salah satu tempat wisata yang menjadi destinasi favorit wisatawan. Pemerintah juga sudah menyediakan fasilitas yang menunjang kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat. Konon katanya, Malioboro merupakan perwujudan kota yang ramah pejalan kaki daripada pengguna kendaraan. Oleh karena itu, diberikan inovasi dalam wujud sistem penyeberangan.

Fasilitas tombol penyeberangan

Dinas Perhubungan DIY menyediakan fasilitas berupa tombol penyeberangan di Malioboro. Fasilitas ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia penyeberangan. Beberapa negara sudah menerapkan sistem ini untuk membantu pejalan kaki menyeberang agar aman. Seperti yang diutarakan Lativa Savitri Elba, seorang mahasiswi asli Jogja yang sempat melakukan pertukaran pelajar ke Amerika Serikat “Kebetulan aku kan (dulu di AS tinggal) di kota kecil. Jadi, jalanan relatif sepi dan orang mostly sadar untuk otomatis berhenti di tiap perempatan,” tutur gadis yang kerap disapa Tivaini itu.

Tombol ini merupakan tombol yang diperuntukkan bagi pejalan kaki agar lebih mudah dalam menyebrang. Penggunaannya pun sangat mudah. Pejalan kaki yang akan menyeberang jalan harus menekan sebuah tombol yang menempel pada di tiang lampu lalu lintas. Setelah ditekan, lampu lalu lintas akan menyala berwarna merah dan secara otomatis kendaraan yang melaju akan berhenti. Lampu tersebut akan berubah menjadi hijau menandakan bahwa kendaraan dapat melaju lagi dan pejalan kaki menyeberang dengan aman.

Tombol penyebrangan tersebut terdapat setidaknya berjumlah empat buah yang tersebar di sepanjang kawasan Malioboro. Namun, saat ditelusuri lebih lanjut pada hari Selasa (13/3), ditemukan bahwa dari keempat tombol tersebut hanya tersisa satu tombol yang masih berfungsi dengan baik. Satu-satunya tombol penyeberangan yang masih berfungsi saat ini yakni tombol yang bertuliskan “Tekan Tombol Sebelum Menyeberang”, berada dekat kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) kawasan Malioboro.

 Penggunaan fasilitas belum optimal

Seorang penjual sate dekat tombol penyeberangan yang masih berfungsi mengatakan bahwa pengunjung kerap kali menggunakannya, bahkan disaat tahun baru kemarin. “Iya, banyak kok yang pakai terutama kalau rombongan,” ujar ibu yang sudah 2 tahun berjualan sate di Malioboro.

Namun, tak semua pengunjung menggunakan fasilitas ini. Tiga orang pengunjung yang merupakan siswa SMA Lampung, menuturkan, mereka tidak mengetahui jika di Kawasan Malioboro terdapat tombol khusus untuk menyebrang bagi pejalan kaki. Alih-alih menggunakan tombol penyeberangan, beberapa penyeberang malah tidak melintasi zebra cross. Sering juga ditemukan masyarakat yang asal menyeberang lalu membuat jalanan menjadi riwuh. Erna, salah satu pegawai toko di Malioboro, mengaku, akan lebih cepat menyeberang seperti biasa daripada harus menggunakan tombol tersebut. “Jika menyeberangnya harus pada tempat yang ada tombolnya, nanti jauh,” ungkap Erna.

Ke depannya, masyarakat perlu diberikan sosialisasi terkait keamanan lalu lintas terutama pengunjung dan pengguna area pedestrian (area pejalan kaki), termasuk sosialisasi fasilitas tombol penyebrangan. “Seharusnya para pejalan kaki menyeberang pada tempat yang sudah ditentukan. Mereka, secara tidak sadar, berdiri tepat di samping tombol tapi tidak menggunakannya. Sangat disayangkan sekali karena tombol tersebut very helpful, bikin nggak semrawut plus aman,” tutur Chisa (Filsafat’14).

Penulis: Maya Ristining, Saraswati LCG, Septiana N M/ Teresa Widi/Bul
Ilus: Desta/Bul

 

Oleh Divisi Redaksi

Rubrikasi

hari_sindrom_se-dunia
Ilus: Bul