Lampu Penyeberangan Jalan Di Malioboro

ilus:Anam/Bul

Meningkatnya volume kendaraan dan pejalan kaki di sepanjang Malioboro menjadikan prioritas keselamatan kurang diperhatikan. Lalu, bagaimana langkah yang ditempuh pihak terkait untuk menjaga keselamatan pengguna jalan?

Setiap sudut Malioboro tak luput dari aktivitas manusia. Di sepanjang jalan kerap dipadati orang-orang yang sedang berkeliling dan mencari cinderamata. Meningkatnya volume kendaraan dan jumlah pengunjung saat akhir pekan turut menimbulkan ketidaknyamanan kepada pejalan kaki.

Menanggapi permasalahan tersebut, revitalisasi berupa pembenahan area pedestrian (area pejalan kaki) dan penataan lapak pedagang menjadi solusi yang telah digalakkan sejak dua tahun lalu. Beberapa lampu penyeberangan jalan sudah mulai dipasang di kawasan Malioboro.

Lalu lintas Malioboro

Meningkatnya volume kendaraan dianggap sebagai pemicu dari ketidaknyamanan pejalan kaki di Malioboro. Hal ini tidak dapat dipastikan sebagai satu-satunya pemicu ketidakkondusifan lalu lintas. Menurut Hendro Wahyono, Kepala Unit Kecelakaan Lalu Lintas (Kanit Laka), Polresta Yogyakarta, wilayah dengan tingkat volume kendaraan yang tinggi belum dapat dikatakan sebagai titik kemacetan. Suatu wilayah dikatakan sebagai titik kemacetan hanya jika durasi berhentinya kendaraan 30 sampai 60 menit. “Kalau di Jogja, biasanya kepadatan kendaraan akan kembali lancar setelah 10 menit,” jelas Hendro. Salah satu upaya yang dilakukan oleh polisi ialah menjalankan pengalihan jalur menuju Malioboro. Upaya tersebut memberikan kesempatan arus kendaraan dari segala arah untuk masuk ke kawasan Malioboro.

Keselamatan pejalan kaki

Selain pengaturan arus kendaraan, pembuatan sarana prasarana juga dilakukan sebagai wujud kepedulian terhadap para pejalan kaki di Malioboro. Sarana dan prasarana bagi pejalan kaki telah banyak disediakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta di Malioboro. Fasilitas seperti zebra cross dan lampu penyebrangan jalan dapat ditemukan di sepanjang Malioboro bahkan hampir di setiap perempatan. Jika dihitung, terdapat kurang lebih lima lokasi yang telah dipasang lampu penyebrangan, di antaranya; sebelah utara Hotel Inna Garuda, depan Dinas Pariwisata DIY dan UPT Malioboro, sebelah selatan Mall Malioboro, sebelah utara Ramai Mall, dan depan Pasar Beringharjo.

Tiang besi panjang berwarna kuning dengan lampu lalu lintas di bagian atas dan tombol hijau bertuliskan “Tekan Tombol Sebelum Menyeberang” adalah ciri dari lampu penyeberangan tersebut. Selain pejalan kaki, seorang Jogoboro (petugas UPT Malioboro di sepanjang jalan) mengaku mendapatkan manfaat dari adanya fasilitas ini. Lampu penyebrangan telah membantu tugas Jogoboro untuk turut menjaga kenyamanan dan keselamatan pengunjung. “Adanya lampu penyeberangan ini, bagi saya, sangat membantu (Jogoboro, -red) untuk menyeberangkan pengunjung,” ungkap Jiyono, salah seorang Jogoboro.

Kendala

Pembangunan lampu penyeberangan jalan dan pengalihan jalur masuk Malioboro dianggap menjadi solusi ampuh untuk meningkatkan kenyamanan pengguna jalan khususnya pejalan kaki. Meski begitu, bukan berarti eksekusi program tersebut tidak mengalami kendala. Kendala-kendala yang biasa ditemukan antara lain berupa masalah seperti lampu penyebrangan mati, hingga pengguna kendaraan yang kurang memperhatikan lampu tersebut.

Namun, masyarakat pengguna lampu penyebarangan di kawasan Malioboro dapat melapor kepada petugas melalui nomor telepon yang tersedia di tiang lampu penyeberangan. Permasalahan lainnya ialah pengendara yang kurang memperhatikan lokasi penyeberangan juga disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai fasilitas ini sehingga melampaui batas kecepatan yang dianjurkan. “Meskipun begitu, kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki dalam tiga tahun terakhir itu tidak ada atau bisa dikatakan nol,” pungkas Hendro.

Penulis: Okky Chandra Baskoro, Muhammad Ridho Affandi, Brenna Azhra Syahadati/ Fatimatuz Zahra/Bul
Ilus: Anam/Bul