Simbiosis Mutualisme Penjual Bakpia Pathok dengan Para Penarik Becak

S

Hubungan baik yang terjalin antara pedagang Bakpia Pathok dengan para penarik becak menciptakan peluang kerja sama bisnis yang saling menguntungkan. Bahkan, peluang pekerjaan ini bisa jadi sumber penghidupan mereka.

Sebagai salah satu kota destinasi wisata di Indonesia, Yogyakarta memiliki banyak tempat-tempat ikonik yang patut untuk dikunjungi. Salah satunya ialah Malioboro. Di sana, wisatawan dapat mengunjungi kawasan pusat oleh-oleh khas Yogyakarta yang terletak di kawasan Pathok, sebelah barat Malioboro. Tempat tersebut terkenal dengan sentra atau industri bakpia pathok yang menjual bakpia dan makanan lainnya yang menjadi oleh-oleh khas Yogyakarta.

Peluang bisnis

“Pak, Bu, lima ribu ke Bakpia Pathok, sepuluh ribu ke Bakpia Pathok,” begitulah sapaan yang sering dilontarkan oleh para penarik becak sekitaran Jalan Pathok (sekarang bernama Jalan AIP. K. S. Tubun). Kawasan tersebut tak jarang dikunjungi oleh pelancong domestik luar Yogyakarta dan mancanegara. Di sepanjang jalan, terdapat toko-toko besar yang terletak di pinggir jalan seperti Bakpia Pathok 25 dan 75 serta toko kecil lainnya yang terletak di dalam gang-gang kecil. Tak heran, banyak penarik becak yang memangkalkan becaknya di daerah ini sembari melontarkan sapaan seperti itu, bermaksud menawarkan jasanya kepada para wisawatawan.

Setelah wisatawan menerima tawaran mereka, para penarik becak akan mengantarkan wisatawan ke Sentra Bakpia Pathok. Untuk bisa menggunakan jasa ini, wisatawan harus membayar tarif yang sudah ditentukan. “Biasanya saya akan mengantar wisatawan dengan mematok harga sekitar lima sampai sepuluh ribu rupiah. Tapi, seringnya saya suruh bayar lima ribu saja,” tutur Sugeng yang sudah menjalani profesinya sebagai penarik becak sejak tahun 1985.

Kerja sama keduanya pun mendapat dukungan positif dari wisatawan. Salah satu wisatawan, yang tidak mau disebutkan identitasnya, mengaku, ia tidak keberatan selama tidak merugikan wisatawan atau pembeli. “(Bayarannya, -red) bisa menjadi tambahan penghasilan bagi para penarik becak. Bagi toko-toko bakpia, bisa kedatangan banyak pembeli,” ujarnya.

Tak jarang, jika berhasil mengajak wisatawan untuk membeli bakpia di Bakpia Pathok, para penarik becak akan diberi ‘komisi’ oleh pihak toko. “Misalnya, mbak (Anda, red) saya antar ke Bakpia Pathok 25 atau 75, nanti saya akan dapat jatah Rp15.000,00 per kardus. Nah, nanti dihitung saja, berapa kardus yang dibeli. Itu jatah yang saya dapat,” jelas Sugeng. Ia juga menambahkan, ‘komisi’ yang ia dapatkan hanya berlaku di toko-toko besar yang sudah memiliki nama.

Sumber penghidupan

Sugeng menjadikan pekerjaan ini sebagai mata pencaharian utamanya untuk menghidupi keluarga. “Alhamdulillah, dengan pekerjaan ini, saya masih bisa menyekolahkan anak sampai selesai,” ujar Sugeng. Dalam sehari, ia dapat mengumpulkan uang hingga mencapai angka satu juta rupiah hanya dari penghasilannya itu.

Namun, tak dipungkiri Sugeng, penghasilan yang ia peroleh dalam sehari tidak selalu sama. Biasanya, Sugeng mampu mengumpulkan banyak uang saat hari-hari tertentu seperti akhir pekan dan hari libur nasional. “Paling banyak (dapat penghasilan, -red) itu pas liburan sekolah,” ujarnya.

Meski begitu, hubungan kerja sama para penarik becak dengan toko-toko bakpia bisa menjadi kesempatan yang bagus. Kesempatan ini tentu saja dapat memunculkan hubungan positif yang langgeng dan dapat menyejahterakan kedua pihak.

Penulis : Rani Istiqomah, Nira Rahmadewi, Deva Tri W/ Nada Celesta/Bul
Foto: Rahma/Bul

Oleh Divisi Redaksi

Rubrikasi

hari_sindrom_se-dunia
Ilus: Bul