Seniman Angklung Jogja: Tek-tek Kentongan

Foto : Fikri/Bul

Berkunjung ke Malioboro untuk mengisi waktu senggang merupakan pilihan yang tepat. Hanya dengan berjalan kaki, para wisatawan akan disuguhkan oleh berbagai macam hiburan dan aneka pernak-pernik khas Jogja. Di beberapa titik, wisatawan dapat menikmati suasana keramahan Jogja bernuansa senja disertai iringan musik angklung yang memanjakan telinga.

Tentang Carehal

Ketika menyusuri Jalan Malioboro, kita bisa menemukan salah satu seniman angklung yang bersiap di dekat Ramayana, yaitu Seniman Angklung Cari Rejeki Halal atau biasa disebut Carehal. Carehal biasanya beroperasi dari pukul empat sore hingga sembilan malam. Adi, salah satu pendiri dari Carehal, mengungkapkan, ia sudah merantau ke Jogja sejak 2010 dan sudah memainkan angklung di Jalan Malioboro sejak itu. Sayangnya, grup musik angklung yang sempat ia bentuk saat itu harus bubar karena banyak anggota yang telah menemukan bidang pekerjaannya masing-masing. Adi pun berupaya mencari personel lain untuk membentuk kembali grup musiknya. Akhirnya, terbentuklah Carehal pada tahun 2015 hingga sekarang.

Seiring berjalannya waktu, Adi tak dapat memungkiri keadaan zaman yang semakin canggih ini. Banyak wadah yang berperan sebagai penampung sekaligus penyalur ide dan kreativitas. Demi kemajuan karir grup musik angklung miliknya, ia menggunakan aplikasi YouTube sebagai media penyalur karya video grup musiknya. Hingga kini, Carehal sudah memiliki sekitar 309 ribu pengikut dengan jutaan penonton di setiap videonya.

Berkat video yang ia unggah, semakin banyak yang mengenal grup musiknya. Terbukti dengan banyaknya tawaran yang datang kepada mereka untuk mengisi acara. Selain di Malioboro, Carehal juga tampil di berbagai acara lainnya. “Di hotel – hotel, pernah juga di Mabes Polri Jakarta, dan juga di hadapan orang-orang penting,” ujar Adi.

Asal musik Carehal

Adi menuturkan, musik Tek-tek Kentongan merupakan asal muasal musik angklung Carehal. Mungkin banyak yang asing dengan istilah Tek-tek Kentongan ini. Namun, ternyata itulah yang mengilhami grup musik Carehal dalam mengkreasikan lagu mereka. ”Tek-tek Kentongan berasal dari Jawa Tengah dan Purwokerto. Kalau Bandung ‘kan pencipta angklung. Tek-tek kentongan itu, pertama kali saya mengikuti dari stasiun RRI Purwekorto,” ungkap Adi. Saat itu, stasiun RRI Purwokerto melombakan kreasi Tek-tek Kentongan yang bertujuan untuk membangunkan sahur. Salah satu yang membedakan Tek-tek Kentongan dengan seniman angklung malioboro adalah jumlah personel. Tek-tek Kentongan dalam satu grup dapat mencapai 45 orang dan terdapat bagian seperti mayoret hingga penari.

Hambatan seniman angklung

Keberadaan seniman angklung di sepanjang Jalan Malioboro menjadi hiburan yang dapat dinikmati oleh pengunjung sembari menyusuri Jalan Malioboro. Namun, pemerintah daerah Provinsi DIY belum memberikan izin kepada para seniman angklung untuk tampil kembali di  Malioboro. Lebaran tahun lalu, contohnya. Tujuh hari sebelum dan sesudah lebaran, seluruh seniman angklung tidak diperbolehkan beroperasi dengan alasan dapat menganggu ketertiban dan mengakibatkan macet. Keputusan pemerintah daerah berdampak pula terhadap grup musik Carehal. “Merugikan saya juga, saya cari makan disini jadi terhenti. Makanya saya ingin izin resmi itu. semoga pemerintah cepat memberikan ruang untuk grup musik angklung Malioboro. Tanpa adanya musik angklung di malioboro, malioboro juga sepi,” pungkas Adi.

Penulis : Lestari Kusumawardani, Tio Ardiansah, M Ario Bagus P/ Agnes Vidita/Bul
Foto : Fikri/Bul