Jebakan Kisah-kisah Musang Emas

J

Judul                     : Muslihat Musang Emas

Penulis                 : Yusi Avianto Pareanom

Penerbit              : Banana

Cetak                    : I, September 2017

Tebal                     : 244 halaman

Harga                    : Rp68.000,00

“Kita punya peluang mendirikan agama baru, Don,”. Begitulah kalimat pertama dalam kumpulan cerpen Muslihat Musang Emas karya Yusi Avianto Pareanom dalam cerita pertama berjudul Muslihat Musang Emas dan Elena. Tentu pernyataan tentang membuat agama baru pasti akan mengantarkan pikiran kita ke arah religiusitas. Namun, ternyata Paman Yusi berhasil membelokan hal itu dan malah berkutat ke arah gender.

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah aku. Ia bertemu dengan Donny, adik sepupunya yang bekerja sebagai fotografer. Mereka berbincang tentang banyak hal di salah satu kafe dibilangan Jakarta. Keduanya saling berbagi kisah, hingga kisah itu mulai mengalir pada kisah yang lebih serius, percintaan. Beberapa bulan yang lalu, Donny baru saja bercerai dari istrinya. Sejak saat itu, kehidupan Donny diisi dengan kemurungan, belum lagi mantan istrinya melarangnya untuk bertemu buah hati mereka. Melihat hal ini, kawan-kawan Donny menjadi prihatin, mengingat masa muda Donny yang dikenal sebagai seorang playboy kelas kakap. Mereka pun memutuskan untuk mengajak Donny dan memancing kemampuan lamanya dalam bersilat lidah.

Singkat cerita, selama beberapa bulan Donny ikut ke sana kemari dari satu komunitas ke komunitas lainnya bersama kawan-kawannya, hingga akhirnya ia bertemu dengan pujaan hatinya. Elena namanya. Donny bagai dimabuk asmara, ia rela melakukan apa saja demi Elena.

Perkenalan tokoh dalam cerpen ini sebenarnya terlalu klise, bahkan bisa dikatakan mudah ditebak. Tokoh utama membawa luka hatinya, dan bertemu dengan orang baru di tempat baru yang menyembuhkan lukanya. Namun, ternyata seperti judulnya, ini merupakan sebuah jebakan yang dipasang oleh seekor musang yang berlaku sebagai penulis, Yusi Avianto.

Cerpen yang terdiri atas empat belas halaman ini, menyimpan ketegangannya dalam halaman-halaman terakhir. Ketika Donny harus menelan pil pahit mengetahui bahwa gadis pujaannya adalah seorang transgender. Pikiran-pikiran buruk berkecamuk, ia ingin menyerah tapi hatinya tidak. Kegundahan hati Donny inilah yang menjadi hal yang sebenarnya kasihan, tetapi Yusi si Musang Penulis, malah membuatnya menjadi sebuah lelucon yang mampu mengocok perut pembacanya.

Buku yang terbit pada tahun 2017 ini merupakan sebuah kumpulan cerpen milik Paman Yusi, panggilan akrabnya setelah sebelumnya sukses dengan Rumah Kopi Singa Tertawa yang terbit pada 2011. Di dalamnya terdapat dua puluh satu cerita pendek yang sudah lebih dulu diterbitkan di media masa, lalu dikumpulkan.

Kisah-kisah di dalam kumpulan cerpen ini sebenarnya mudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari, tetapi sering kali luput kita lihat. Seperti dalam kisah Muslihat Musang Emas dan Elena yang mengkritisi bagaimana para transgender dipandang di negri ini. Bagaimana perasaan seorang pria yang baru mengetahui bila ia memiliki buah hati yang tidak pernah ia ketahui rimbanya dan tiba-tiba muncul memintanya menjadi wali nikah dalam cerpen “Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornado dan kisah “Benalu Tak Pernah Lucu” yang menceritakan tentang perjuangan para tentara gelap untuk bergabung dalam pertempuran di Afghanistan dengan mengatasnamakan jihad. Kisah-kisah itu kemudian diangkat oleh Yusi dalam alunan kata magis tetapi berkelit bak musang dengan mengocok perut bagi para pembacanya. Boleh dikatakan, Yusi berhasil mengangkat satirisme dalam cerpen-cerpen di dalam buku ini.

Penulis: Vivekananda G/Bul
Editor: Ifan Afiansa/Bul

Rubrikasi

hari_sindrom_se-dunia
Ilus: Bul