Launching Novel Gunung Ungaran, Merekap Kenangan dalam Tulisan

Foto: Desi/Bul

Novel Nh Dini termasuk kenangan dalam tulisan. Namun dapatkah novel-novel berisi kenangan disebut sebagai otobiografi?

Siapa yang tak mengenal Nh Dini? Sastrawan senior sekaligus novelis kondang ini baru saja memperkenalkan novel terbarunya “Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya”. Acara launching buku yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia UGM pada Sabtu, (10/3) ini turut mengundang Prof Dr Suminto A Sayuti dan Prof Dr Faruk Tripoli S U sebagai pembicara dengan moderator Asef Saeful Anwar.

Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang lebih akrab disapa Nh Dini menceritakan dukungan serta pengalamannya selama menjadi penulis. Dukungan itu berangkat dari ibunya yang selalu memberi nasihat untuk menulis setiap pengalaman yang dilalui. Akhirnya, Nh Dini membuat sebuah red notes semacam buku harian untuk menulis kisah hidupnya. Dari buku harian inilah muncul karya-karya novel beliau. Seperti novel berjudul “Rongrong Di Kotaku” karya beliau yang menceritakan tentang pengalamannya liburan di Ponorogo.

Nh Dini juga menjelaskan alasannya menulis novel yang berisi kenangan. “Saya merasa begitu apa? Diberkahi. I’m blessed mengalami berbagai hal dan kejadian yang barangkali kalau saya ceritakan kepada lingkungan, lingkungan dekat atau pembaca yang sudah akrab dengan saya mengenai pengalaman saya tidak menggurui, tidak memberikan teladan, tetapi ya ini terjadi di dalam kehidupan saya. Misalnya kalau ada yang mendapatkan pengalaman yang sama dengan saya dari yang mereka baca, oh ini solusinya,” ungkapnya. Maka dari itulah semenjak ada istilah novel otobiografi di Indonesia, novel karya Nh Dini masuk ke dalam golongan ini.

Namun, Suminto A Sayuti, guru besar Fakultas Bahasa dan Seni UNY menjelaskan bahwa novel otografi bukan sepenuhnya otografi. Karena tulisan itu selalu menyediakan ruang untuk kubangan makna bersayap. Jadi, walaupun sudah ditulis sedetail mungkin tapi tetap ada tokoh fiktif di dalamnya. Beliau juga menafsirkan bahwa estetika yang dibangun dalam novel-novel Nh Dini merupakan estetika meraga sukma. Di mana tokoh-tokoh yang ada di dalamnya berasal dari jiwanya yang mengembara ke mana-mana.

Hal tersebut juga disampaikan oleh Faruk Tripoli, guru besar Sastra Indonesia UGM. Menurutnya, novel Nh Dini tidak bisa dikatakan sebagai otobiografi. Karena di dalamnya memuat kenangan-kenangan Nh Dini semasa hidupnya. Oleh karena itu, karya sastra beliau lebih cocok disebut novel kenangan.

 

Penulis: Desi Yunikaputri
Editor: Hadafi Farisa