Respon Kemanusiaan untuk Masalah Keberagaman

Menyandang slogan “Yogyakarta City of Tolerance”, Jogja memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kenyamanan kehidupan masyarakat. Maraknya tragedi kemanusiaan atas nama kelompok menodai slogan yang selama ini disanding.

Terkenal sebagai kota pelajar, membuat Jogja banyak didatangi para perantau. Banyaknya sekolah tinggi membuat jumlah perantau semakin banyak. Meningkatnya jumlah perantau ini sebanding dengan meningkatnya keberagaman di Jogja. Berbagai macam budaya, etnis, dan agama, hidup bersama di dalam satu atap kota. Dengan tingkat keberagaman yang semakin tinggi, seharusnya  dapat meningkatkan rasa toleransi antarwarga. Namun, tragedi penyerangan Gereja Santa Lidwina Bedog beberapa waktu lalu merupakan salah satu kejadian yang membawa pertanyaan besar bagi masyarakat.

Tragedi penyerangan gereja

Penyerangan di Gereja Santa Lidwina menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Penyerangan yang terjadi pada (11/2) menjadi salah satu tragedi yang cukup memprihatinkan. Terlebih orang-orang yang menjadi korban adalah mereka yang sedang beribadah Minggu di gereja. Total terdapat lima korban dalam peristiwa ini, 3 orang jemaat, 1 romo, dan 1 anggota kepolisian. Tindakan ini tentulah sudah melanggar hak-hak asasi manusia. ”Jelas, yang diserang adalah kemanusiaan, cuma aku nggak tahu motifnya apa,” ungkap Galih, anggota komunitas Forum Jogja Damai. Tak hanya itu, menurut Galih penyerangan ini juga dilatar belakangi oleh alasan politik. Tahun depan merupakan ajang Pemilu, sehingga bisa jadi kejadian ini mengharapkan agama-agama semakin terpecah. Politik yang otoriter pun semakin gencar terangkat.

Menurut Fatin, aktivis Gusdurian Yogyakarta berpendapat bahwa ekslusivitas menjadi salah satu penyebab terjadinya penyerangan itu. “Jika ekslusivitas dan mayoritas jadi satu, otomatis cenderung untuk menghilangkan orang yang berbeda,” ujar Fatin. Lain halnya dengan Fatin, Siti Khuzaimah, aktivis Srikandi Pelita (Pemuda Lintas Iman), menyampaikan bahwa orang Islam menjadi kambing hitam dalam tragedi ini. Serupa dengan Galih, Siti juga menambahkan bahwa bisa saja hal ini dilatarbelakangi oleh motif politik. “Tetapi kita juga harus tahu Islam mana yang sesunggunya menyerang, dari Islam yang mana, aliran mana atau Islam yang cuma identitas saja yang bisa saja itu dikerahkan yang seringnya motifnya politis,” tambahnya.

Aksi nyata masyarakat

Menanggapi tragedi-tragedi yang terjadi, banyak pihak yang ikut turun tangan. Semuanya ikut bergotong-royong untuk membantu korban-korban dan jemaat gereja yang mengalami trauma. Masyarakat sekitar Gereja Bedog pun langsung turun untuk bersih-bersih di gereja. Tak peduli apa agama mereka. Fatin mengungkapkan jika anak muda perlu digandeng untuk melakukan aksi nyata tentang kemanusiaan. Anggota aktivis yang tergabung dalam kelompok Gusdurian banyak melakukan kegiatan dengan tujuan ke mahasiswa. “Tapi itu cuma yang aktivis dan suka. Di sisi lain kami melihat banyak yang gak suka diskusi, lebih suka yg fun, itu PR Gusdurian untuk mengajak kaum muda,” jelas Fatin.

Dukungan dan bantuan tak hanya datang dari warga masyarakat di sekitar Gereja Santa Lidwina Bedog, namun juga dari komunitas-komunitas seperti Srikandi Pelita dan juga umat beragama lain. Pasca penyerangan, Srikandi Pelita juga ikut membantu proses bersih-bersih di gereja. Meski beberapa ada yang berkomentar mempertanyakan kenapa orang Islam masuk gereja dan lain-lain, namun Skrikandi Pelita tetap melakukannya untuk memberikan contoh hidup harmonis, saling menghargai, dan saling menjaga kedamaian.

Kontribusi mahasiswa

Maraknya tragedi-tregedi yang menyerang kemanusiaan di Jogja membuat keresahan. Lantas apakah yang bisa dilakukan mahasiswa? Menurut Galih, mahasiswa harus mampu fokus pada tujuan dan gerakan kita yang satu. “Jadi ya kayak sebagai mahasiswa entah itu agama apapun, ideologi apapun, pola pikir seperti apapun. Oke pola pikir kita masing-masing. Demi kemanusian dan kemajuan bangsa, kita adalah sama, kita satu tujuan, kita satu gerakan,” terangnya.

Galih juga menekankan perlunya berhati-hati dalam menggunakan sosial media. Ia menghimbau agar mahasiswa bisa menggunakan sosial media sebagai sarana pemersatu bagi keberagaman. Lain sisi, Siti Khuzaimah menganggap bahwa penggunaan media secara tidak bijak akan membuat masyarakat semakin terprovokasi dengan isu-isu yang beredar. Masyarakat menjadi mudah tersulut karena kurangnya ilmu untuk menyeleksi informasi dan mudah menerima informasi secara mentah.

Menanggapi keberagaman

Jogja sebagai kota pelajar dan perantauan, berbagai budaya, agama, etnis, berbaur menjadi satu membentuk suatu harmoni. Keberagaman adalah sesuatu yang indah jika disikapi dengan bijak. Perbedaan-perbedaan yang ada justru akan memberikan warna tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. “Keberagaman adalah saat kita bisa menghilangkan sekat perbedaan satu dengan yang lain,” tutur Fatin.

Galih juga menambahkan bahwa menurutnya keberagaman itu layaknya puzzle yang saling melengkapi. “Menurut saya, yang biasa saya gambarkan keberagaman itu seperti puzzle, jadi puzzle itu kan memiliki lika-liku yang berbeda satu sama lain, tapi puzzle nggak mungkin kan bentuknya persegi semua, nggak mungkin cuman segitiga semua, pasti banyak lekukannya kan, menjorok ke sana menjorok ke sini juga kan. Nah, keberagaman dalam kebhinekaan yaitu puzzle itu dalam berbagai bentuk. Ia tidak akan menjadi suatu hal yang indah kalau dia hanya diam, dia harus mau buat masuk dengan yang lain. Keberagaman juga seperti itu,” terangnya.

Di tengah-tengah keberagaman tentulah menjadi hal yang penting bagi masyarakat Jogja untuk menjaga kedamaian dan harmoni kehidupan di kota ini. Galih menambahkan jika kita harus mau untuk menerima yang lain, harus saling mengikatkan diri, dan saling menjalin persaudaraan, supaya kebhinekaan itu menjadi gambaran yang indah.

Penulis: Anisa Sawu D. A, Teresa Widi, Ihsan Nur Rahman/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul