Narkoba, Musuh Besar yang Cerdik Menyamar

Ilus: Bagas/Bul

Bahaya. Narkoba mulai merambah dunia artis.

Pada awal tahun 2018, dunia hiburan Indonesia kembali dikejutkan dengan berita tertangkapnya sejumlah artis ibu kota karena keterlibatan mereka dengan obat-obatan terlarang atau yang biasa dikenal sebagai narkoba (narkotika, psikotropika dan obat terlarang lainnya). Dalam kurun waktu seminggu, kepolisian berhasil menangkap tiga pesohor tanah air yaitu Fachri Albar, Roro Fitria, dan Dhawiya Zaida yang dinyatakan menggunakan narkoba. Hal ini tentu membuat banyak orang bertanya-tanya, mengapa Narkoba terkesan sangat mudah memasuki banyak kalangan di Indonesia?

Pandangan tentang narkoba

Komunitas Raja Bundar, komunitas yang bergerak dalam membasmi narkoba, khususnya di ruang lingkup Universitas Gadjah Mada. Komunitas ini tergolong masih baru, namun kegiatan yang diadakan langsung di bawah koordinasi Ditmawa. Dalam hal ini, I Kadek Sudiarsana, ketua Komunitas Gerakan Jauhi NAPZA dan Rokok atau disingkat Raja Bandar UGM memaparkan sedikit pandangannya terhadap masalah yang terjadi di dunia entertainment tersebut. “Saya belum bisa memberikan penilaian yang kompleks terhadap beberapa kasus karena dalam hal ini pemerintah juga mengangkat duta-duta itu kadang yang nyeleneh. Jadi saya kira, kejahatan narkoba ini tidak memandang status atau gender. Siapapun yang merupakan sasaran empuk, itu akan diserang. Bahkan sasaran narkoba sekarang adalah sudah mengarah ke arisan ibu-ibu,” terangnya.

Pendapat lain diungkap oleh Nody Prasetyo, Mantan Duta HIV/AIDS di Yogyakarta. Menurutnya, seorang public figure yang terkena narkoba bisa jadi karena mengalami rasa lelah yang berlebihan atau banyak pikiran, sehingga mereka mencari alternatif lain. “Bisa jadi karena mereka tidak punya spare time yang cukup untuk memiliki hiburan, makanya mereka mencari cara yang simpel dan instan seperti Narkoba agar mereka tetap merasa bahagia. Ditambah mungkin bisa juga karena mereka kurang mendapat perhatian dari pihak sekitar,” ungkap Nody.

Peran komunitas

Kabupaten Sleman, Yogyakarta menjadi daerah yang paling banyak terkena HIV/AIDS akibat narkoba. Lima besar penderita HIV/AIDS itu dikarenakan narkoba yaitu penggunaan jarum suntik. “Jadi memang banyak banget, apalagi generasi muda contohnya mahasiswa yang menggunakan narkoba dengan jarum suntik. Mereka tertular HIV/AIDS dari jarum suntik itu sendiri,” ungkap Nody pada (27/2). Melihat hal tersebut, salah satu  terobosan yang akan dikeluarkan Raja Bandar adalah membuka rehabilitasi terhadap masyarakat khususnya di lingkungan UGM bagi yang sebelumnya pernah masuk ke dunia narkoba. Terobosan ini rencananya akan bekerjasama dengan BNN (Badan Narkotika Nasional). “Pemerintah seharusnya juga harus lebih aktif lagi dalam membasmi narkoba karena sasarannya adalah masyarakat luas. Saya menyayangkan hal ini. Maka dari itu saya berpesan kepada seluruh masyarakat agar selalu berhati-hati,” lanjut Kadek.

Menurut Nody, peran komunitas sangat penting. Apalagi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sangat peduli terhadap HIV/AIDS dan pada penanganan preventif nya. Mereka bisa berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan tentang HIV/AIDS dan bahayanya narkoba hingga cara penanggulangan dan pengobatannya. Mereka juga memberi support kepada orang-orang yang sudah menggunakan narkoba untuk dapat berhenti dan lepas dari narkoba itu.

Penanganan narkoba

Melihat peristiwa maraknya public figure yang terkena narkoba menjadi perbincangan hangat, Kadek memberikan tips cara agar terhindar narkoba tersebut. “Pertama, kita harus mengenal karakter pribadi yang mana mengetahui kekurangan kita dulu. Sehingga jika sudah tahu kekurangan kita bisa membentengi terhadap kelemahan itu. Kedua bemasyarakat atau bersosialisasi dengan lingkungan yang benar. Artinya lingkungan memberikan pengaruh yang besar terhadap kita,” jelasnya.

Penanganan narkoba di Yogyakarta sudah lumayan baik. Sudah banyak lembaga-lembaga masyarakat yang bergerak di bidang HIV/AIDS dan narkoba. Obat-obatan HIV/AIDS sendiri sekarang juga sudah gratis. Jadi, bagi mereka yang terkena, bisa dengan mudah mengakses obat tersebut semisal mereka belum punya cukup dana. Pemerintah pun juga sudah menggratiskan pengobatan tersebut. Kedepannya, diharapkan pengguna narkoba semakin berkurang, khususnya di kalangan generasi muda.

Penulis: Rani Istiqomah/ Akyunia Labiba/Bul
Editor: Ilham R/Bul