Vokasi dalam Rencana Perubahan

Penamaan prodi harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Hal ini memaksa setiap prodi harus menyesuaikan dengan perubahan kondisi tersebut.

 Rencana perubahan sistem, kurikulum, hingga penamaan prodi di Sekolah Vokasi UGM tengah ramai dibicarakan sejak tahun 2017 lalu. Rencana perubahan tersebut secara tidak langsung memberikan efek yang cukup besar bagi mahasiswa diploma tiga (D3) yang masih mempertanyakan kejelasan perubahan ini.

Tujuan perubahan kurikulum

Perubahan kurikulum rutin dilakukan oleh program studi (prodi) di UGM setiap lima tahun sekali sebagai bahan tinjauan dan evaluasi dari kurikulum sebelumnya. Hal tersebut didasarkan pada panduan penyusunan kurikulum pendidikan vokasi dari Kemenristekdikti Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan 2016.

Menurut Ketua Program Studi D3 Bahasa Inggris, Erlin Estiana Yuanti, perubahan kurikulum yang terjadi di Prodi Bahasa Inggris dipengaruhi oleh beberapa hal. “Salah satu hal yang memengaruhi perubahan itu adalah penyesuaian kebutuhan dunia kerja saat ini dan peningkatan kompetensi mahasiswa untuk menghadapi persaingan kerja,” terangnya. Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Ketua Program Studi D3 Teknik Elektro, Maun Budiyanto. Menurutnya, perubahan kurikulum yang terjadi saat ini didasari oleh era revolusi industri 4.0 yang merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri yang memanfaatkan teknologi dan informasi. “Pola industri baru ini membawa dampak yang luar biasa, termasuk hilangnya beberapa jabatan. Ini merupakan tantangan yang harus diantisipasi oleh dunia pendidikan. Oleh karena itu, perubahan kurikulum harus dilakukan,” ungkapnya.

Dalam menanggapi perubahan kurikulum, Ketua Program Studi D3 Kepariwisataan, Handayani Rahayuningsih, menerapkan dua kurikulum yakni kurikulum lama (2012) dan kurikulum baru (2017) sebagai penyesuaian. “Penerapan dua kurikulum ini menyesuaikan dengan  tahun masuknya mahasiswa. Artinya, mahasiswa angkatan sebelum tahun 2017 masih mengikuti kurikulum lama dan angkatan 2017 hingga angkatan selanjutnya mengikuti kurikulum baru,” jelasnya.

Sistem dan penamaan prodi

Perubahan kurikulum secara tidak langsung memengaruhi nama suatu prodi. Hal tersebut mengharuskan penamaan kembali prodi hingga adanya rencana pembukaan prodi baru jenjang D4. Dasar penamaan prodi merupakan peraturan Dikti (Pendidikan Tinggi) yang tertuang dalam Nomenklatur Program Studi pada Perguruan Tinggi. Tujuan penamaan prodi adalah sebagai pembeda program studi vokasional dan program studi dengan science based di jenjang S1.

Perubahan jenjang D3 menjadi D4 nantinya tidak mengubah gelar mahasiswa D3 saat ini menjadi D4. “Untuk mahasiswa angkatan sebelumnya maupun alumni, tetap lulus dalam program D3. Namun, jika mahasiswa program D3 ingin melanjutkan studinya ke jenjang D4 saya rasa tidak bisa secara otomatis ikut dalam jenjang D4,” ujar Handayani. Namun, pihak SV masih menyiapkan skema-skema untuk menampung alumni yang menginginkan ekstensi ke jenjang D4 dengan langsung maupun melalui tahap seleksi mengingat adanya keterbatasan kuota mahasiswa.

Dampak bagi mahasiswa

Setiap perubahan membawa dampak bagi yang menjalani. Begitu pula dengan adanya perubahan kurikulum, sistem, dan penamaan prodi yang terjadi di SV UGM. “Jika mahasiswa itu tetap di jalur normal, tidak akan menemukan kendala karena kami menggunakan sistem paket bukan SKS. Jadi, jika mahasiswa menjalani perkuliahan secara normal, insya Allah mahasiswa tidak akan mengalami bentrokan. Mereka tetap mengikuti kurikulum sesuai dengan angkatan mereka,” jelas Handayani. Perubahan tidak selamanya membawa dampak yang negatif. Hal ini dijelaskan oleh Kaprodi D3 Teknik Elektro bahwa perubahan kurikulum semakin mendekatkan mahasiswa dengan dunia kerja. “Dampaknya menguntungkan buat mahasiswa karena kurikulum yang kami buat akan semakin mendekatkan calon lulusan dengan dunia kerja, sehingga semakin meningkatkan serapan lulusan ke industri,” pungkasnya.

Penulis: Okky Chandra Baskoro, Agatha Vidya Nariswari / Aulia Hafisa