Perubahan Kurikulum Sekolah Vokasi Tuai Pro dan Kontra

Perubahan sistem dan penerapan kurikulum baru di Sekolah Vokasi menuai pro dan kontra. Hal ini dikarenakan penyesuaian antara dosen dengan mahasiswa terkait penghapusan program D3 di Sekolah Vokasi dan diterapkannya program D4 bukanlah hal yang mudah.

Perubahan sistem dan penerapan kurikulum baru ini menyebabkan perbedaan pendapat antara dosen dan mahasiswa. Beberapa mahasiswa mengaku pro tentang perubahan ini, dikarenakan program D4 lebih dipertimbangkan jika melamar pekerjaan. Namun, ada beberapa mahasiswa yang kontra karena perubahan dari program D3 ke D4 bukanlah hal yang mudah dan memerlukan waktu yang lama untuk perubahannya.           

Pro dan kontra di antara mahasiswa

Pada tahun 2019 Sekolah Vokasi (SV) UGM kemungkinan tidak akan membuka program Diploma III dan sebagai gantinya akan dibuka program D4 dengan nama prodi yang lebih spesifik. Hal ini menyebabkan banyak yang harus dipersiapkan baik dari sisi fakultas, prodi, dan tenaga pendidiknya sehingga menimbulkan pro dan kontra yang ada. “Kalau ditanya setuju aku emang lebih setuju kalau berubah jadi D4 sih, soalnya kan udah setara sama S1 dan bisa langsung lanjut S2,” tutur Luk Luk Erlingga D. (D3 Teknik Mesin 2016).

Menurut mahasiswa Yang akrab disapa Erli tersebut, mahasiswa banyak mendukung perubahan ini karena bagi mereka yang ingin bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yakni S2 tidak perlu lagi melakukan ekstensi ke S1 walaupun harus melewati ekstensi ke D4 bagi mereka yang berkuliah sebelum dibukanya program D4 tahun depan. “Aku sih melihatnya kalau dari D3 lanjut ke S1 itu sepertinya tidak bisa, jadi kalau bisa ekstensi ke D4 dulu, itu lebih baik.” Akan tetapi, tidak sedikit dosen yang bersikap kontra terhadap perubahan program dari D3 ke D4, “Tidak sedikit juga dosen di jurusanku yang kontra terhadap perubahan ini karena membutuhkan banyak hal yang harus dipersiapkan,” tambahnya.

Selain pihak yang pro dan kontra terdapat pula pihak yang bersikap netral terhadap perubahan ini. Tetapi, ada beberapa mahasiswa dalam hal ini lebih bersikap tidak peduli karena menganggap ini bukanlah hal yang penting. “Publik SV seolah-olah terbagi menjadi 3 kubu yakni pihak pro, kontra, dan netral. Bagi mereka yang pro selalu terlihat antusias baik saat menanggapi maupun ikut mempersiapkan agar dapat telaksana. Di pihak yang kontra, tidak sedikit yang menghujat apakah hal ini bisa terlaksana dengan baik tanpa ada hambatan yang terjadi. Bagi mereka yang menanggapi secara netral, hal ini bukanlah hal penting sehingga mereka terlihat bersikap tak acuh atau tidak peduli,” imbuhnya.

Mendukung karena program D4 lebih dipertimbangkan di perusahaan         

Kendati demikian, tidak sedikit mahasiswa yang mendukung keputusan ini. Hal senada dengan Erli juga dikatakan oleh Ketua Angkatan D3 Agroindustri 2017 yaitu Rifqi Harjati Mukti yang menyatakan bahwa ia mendukung berubahnya program D3 menjadi D4. “Aku sangat mendukung dengan berubahnya D3 menjadi D4, karena kita sendiri sebagai mahasiswa D3 sangat sulit untuk melanjutkan pendidikan ke S1 di UGM sendiri karena belum ada programnya.”

Ia juga sempat menyinggung tentang permasalahan biaya yang perlu dikeluarkan, “Dari program D3 ke S1 memerlukan biaya yang tidak murah. Jika sudah D4 kan itu sudah setara dengan S1 jadi kita bisa langsung melanjutkannya ke S2,” ujarnya. Ia mengutarakan alangkah lebih baik jika program ekstensi ke D4 tidak hanya berlaku bagi mahasiswa tahun 2019 mendatang, tetapi juga untuk mahasiswa tahun 2017 dan mahasiswa angkatan sebelumnya. “Kalau bisa sih, dari angkatan 2017 bisa langsung dilakukan program ekstensi ke program D4 sebelum diterapkan secara langsung ke mahasiswa tahun 2019,” tutupnya.

Oleh: Muhammad Ario Bagus Prakusa, Nur Imtinan Nira Rahmadewi / Nada Celesta
Editor: Ilham