Pedal Penembus Portal

“Time is of the essence”, begitulah frasa yang sering digunakan pada hukum kontrak di Inggris dan Kanada. Sejak kecil, ketepatan waktu adalah sesuatu yang sudah ditanamkan pada kita agar aktivitas bisa berjalan dan berakhir dengan benar. Mahasiswa sebagai manusia terpelajar tentu paham hal itu. Setiap hari, aspal telah ditempuh dengan cepat dan hati-hati agar tidak terlambat, tentunya juga demi menghindari musuh nomor satu di jalanan: kemacetan. Perusak mood yang satu itu tentunya ingin dihindari oleh siapa saja, terutama mahasiswa yang bersemangat untuk belajar. Tetapi beberapa hari yang lalu, kemacetan justru terjadi di dalam lingkungan Univesitas Gadjah Mada akibat kinerja salah satu fasilitasnya yang kurang efektif yaitu portal jalan.

Pada awal semester genap kemarin, terjadi kemacetan yang panjang di lingkungan kampus karena para pengendara sepeda motor harus dicocokkan plat kendaraannya dengan karcis merah muda yang didapat saat pengendara masuk ke kampus atau STNK. Meski tindakan tersebut adalah untuk kebaikan, tetapi proses pengecekan yang kurang efektif membuat para pengendara sepeda motor mengular panjang dan menyebabkan ketidaknyamanan. Hal tersebut diperparah dengan sempitnya jalur sepeda motor dan posisi portal yang terlalu dekat ke jalan raya.

Eksekusi fasilitas kampus yang malah menyulitkan tersebut tentu akan menyulut kekesalan di antara mahasiswa. Pasti rasanya tidak enak jika sudah mendambakan tempat tidur atau pergi ke suatu tempat, namun justru kemacetan yang dijumpai di dalam kampus. Namun, kebencian terhadap masalah tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengeluh dan melancarkan protes kepada pihak universitas. Oleh karena itu, daripada hanya mengeluarkan protes dan menunggu jawaban atau tidak bertindak sama sekali, lebih baik mahasiswa melakukan aksi nyata dari mereka sendiri. Salah satu yang bisa dilakukan adalah berganti mode kendaraan dari sepeda motor ke sepeda.

Bila dibandingkan dengan sepeda motor, sepeda memang kalah cepat dan lebih melelahkan. Tetapi, mengendarai sepeda ke kampus juga memiliki banyak manfaat tersendiri. Dalam konteks ini, mahasiswa dapat menghindari kemacetan di portal karena dapat menggunakan celah mana saja yang bisa dilewati untuk keluar masuk kampus. Dengan demikian, mahasiswa yang bersepeda tidak perlu melalui pengecekan di portal dan bisa sampai di tujuan dengan lebih lancar. Bahkan jika diharuskan melewati portal, pengendara sepeda tidak perlu menyerahkan karcis sehingga mereka dapat berlalu dengan lebih cepat. Ketika orang-orang harus mengantre lama, kita bisa meluncur tanpa antrean. Jalur cepat memang selalu enak bukan?

Bagi mahasiswa yang berdomisili di dekat kampus, bersepeda bisa menjadi alternatif yang bagus. Jika jarak indekos dengan kampus hanya sekitar dua kilometer atau kurang, maka pergi dengan sepeda motor rasanya agak overkill. Berkendara dengan jarak dekat seperti itu akan membuang-buang bahan bakar yang dapat digunakan untuk perjalanan lebih penting. Ditambah lagi dengan perkara macet ini, pengendara sepeda motor yang berjarak dekat kesannya hanya akan menambah beban di antrean yang sudah semrawut. Melalui berkendara dengan sepeda, tidak hanya akan mengurangi kemacetan di lingkungan UGM, tetapi juga bisa sedikit demi sedikit mengurangi kemacetan di Kota Yogyakarta. Selain itu, berkurangnya kendaraan bermotor juga berarti berkurangnya pencemaran udara. Dengan mengurangi pencemaran udara di lingkungan kampus, berarti turut serta mendukung mewujudkan UGM sebagai kampus educopolis.

Untuk melewati sebuah rintangan, terkadang kita harus memutar arah dan berpindah ke jalur yang jarang kita lewati. Mungkin jalur tersebut lebih rumit dan lebih tidak lazim, namun di ujung jalur tersebut adalah tujuan yang ingin kita capai, bersama dengan cerita-cerita baru..

Penulis: M. H. Radifan
Manajemen dan Kebijakan Publik
Angkatan 2017
Editor: Larasati PN/bul.