Soal Kopi, Kafe, dan Kehendak Mahasiswa

Nama Digilib Café mungkin masih terdengar asing bagi sebagian mahasiswa UGM. Meski begitu, saya rasa konsep creative hub yang ditawarkan oleh kafe ini bukan hal baru lagi dalam lingkungan akademik sekelas UGM. Digilib Café tidak hanya menawarkan kopi hitam dan alunan tembang jazz dari sudut ruangan, tetapi juga ekosistem yang pas untuk melahirkan ide-ide kreatif dari hasil nongkrong pintar.

Melalui lamannya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM menjelaskan misi pembangunan Digilib Café selaku co-working space tempat tumbuhnya ide-ide cemerlang  mahasiswa Fisipol. Namun dalam praktiknya, mahasiswa nonfisipol hingga masyarakat umum pun diperkenankan untuk menikmati fasilitas tersebut. Yang membuatnya lebih unik, kafe ini terhubung langsung dengan akses perpustakaan Fisipol juga menyuguhkan kecanggihan teknologi serba digital. Terlebih, kehadiran Presiden Joko Widodo di Digilib Café yang bertepatan dengan perayaan Dies Natalis UGM 2017 lalu sebenarnya turut pula membumbungkan tren kafe bertema kekampusan itu.

Menyinggung soal kafe dan mahasiswa, pastilah tak lepas dari kesibukan ngopi dan nongkrong. Tujuan dari kedua aktivitas tersebut tentu tidak boleh dimaknai secara sempit dengan hanya meminum kopi atau bertukar isi hati pada sesama teman. Mahasiswa yang sekarang adalah mereka yang kerap lembur lantaran berkutat dengan kertas-kertas laporan dan laptop. Tak jarang pula kesehariannya diramaikan dengan diskusi kelompok belajar, rapat kepanitiaan, juga gathering komunitas. Jadi, tak melulu bertopeng hedonisme. Momentum seperti ini yang kemudian dimanfaatkan para wirausahawan untuk menciptakan kafe-kafe urban di berbagai sudut kota.

Kebutuhan mahasiswa akan ruang terbuka untuk hal-hal seperti yang telah disebutkan menjadi problem bagi beberapa individu. Untuk rapat organisasi, misalnya, beberapa perguruan tinggi menutup akses fasilitas hingga jam-jam tertentu sehingga terkadang memaksa mahasiswa untuk mencari lapak lain di luar kampus. Pada akhirnya, kafe-kafe di sekitaran kampus hingga angkringan kopi yang seringkali menjadi opsi. Ada pribadi yang memang tak keberatan dengan suasana ramai, namun ada juga yang menuntut privasi lebih. Walau sudah jelas terdapat preferensi pada masing-masing individu, kafe sering kali lebih cocok dipasangkan dengan image mahasiswa milenial.

Ide mengenai kafe di dalam kampus sebenarnya adalah inovasi yang cukup unik. Tidak hanya soal suasananya yang layak sebagai tempat pelepas penat, Digilib Café sebagai contoh, diharap bisa menjadi jembatan penghubung pelaku sociopreneurship di kalangan akademis UGM. Sebuah tujuan yang mulia dan tak tanggung-tanggung. Hal ini rupanya senada dengan impian Presiden Joko Widodo perihal dibangunnya creative hub di dalam lingkungan perguruan tinggi. Selain UGM, sebutlah universitas negeri di Depok yang perpustakannya juga memiliki konsep serupa, fasilitas kafe dengan keunggulan multifungsinya.

Sayangnya, dilihat dari sudut pandang yang berbeda, wacana kafe yang merangkap selaku co-working space ini masih memiliki beberapa kelemahan. Sebagai perbandingan, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM pun memiliki coffee shop yang bermukim di lantai paling atas gedung Pertamina Tower. Terbatasnya jumlah pengunjung di sana sebenarnya malah menjadi nilai tambah tersendiri bagi kelompok tertentu. Kendati demikian, ada bermacam alasan yang melatarbelakangi fakta tersebut. Beberapa teman saya sempat mengeluhkan tingginya ongkos yang tidak sebanding dengan kualitas rasa. Dengan dalih yang demikian, banyak dari mereka yang memilih urung bertamu ke kafe tersebut.

Terlepas dari konteks selera, apabila dikaitkan dengan permasalahan ‘jam malam’, kelas kafe-kafe di dalam kampus ini tak lagi cocok untuk para nonprofesional. Sasaran Digilib Café untuk memancing pengunjung dengan tujuan memperluas networking dan pengembangan bisnis sudah sangat tepat. Namun fungsi latennya sebagai media akademisi menyelenggarakan kegiatan yang bersifat personal tampaknya kurang efisien. Dalam kasus ini, yang saya maksud adalah ketika banyak individu terpaksa bekerja saat larut, justru hanya segelintir tempat yang bisa mereka gunakan. Tidak tersedianya dua puluh empat jam akses memang kerap membuat resah. Lantas setelah mereka ini terusir dari kampus, bukankah ruang-ruang di luar kompleks kampus yang kembali menjadi pilihan?

Terakhir, penampakan kafe ataupun warung dengan barista memberi kesan mewah dan gengsi yang tinggi. Sementara beberapa lebih nyaman dengan hanya meja lipat dan pemandangan yang hijau, yang lainnya menawarkan aula berpenerangan remang dengan kursi tinggi. Learning Center milik Fakultas Psikologi memberi cukup kepuasan bagi mahasiswa di sana meski hanya bermodal kursi dan meja berwarna cerah. Fisipmart di tubuh Fisipol sendiri pun berkonsep sederhana: minimarket dengan beberapa bangku dan sekat untuk diskusi. Bagi yang tak mau pusing, perpustakaan bahkan bisa menjadi tempat nongkrong paling asyik. Yang diperlukan mahasiswa sejatinya adalah selain waktu, juga kebutuhan akan ruang. Sekali lagi, ruang yang dimaksud ialah yang tidak semata bembel-embel ini itu. Kalau demi merampungkan tugas di kedai kopi asal negeri paman sam berarti juga mengocek lembaran seratus ribu rupiah, mengapa tidak beralih saja pada warung bubur kacang hijau langganan. Beberapa dari yang saya tanyai urusan menu dan harga beranggapan bahwa keduanya sama penting dengan kenyamanan tempat.

Karena itulah, eksistensi Digilib Cafe meski sebagai pencetak kreativitas mahasiswa memang sangat membantu, tetapi tidak menjadi solusi paling makbul. Begitu juga dengan ruang-ruang-ruang publik dengan gagasan serupa. Idealnya, ruang creative hub dapat menarik minat pengunjung dan membuat penghuninya betah tanpa kendala-kendala seumpama jam malam. Maka, sedikit masukan serta keluhan barangkali bisa menjadi pembenahan di kemudian hari.

Penulis:
Nabila Rana Syifa
Fakultas Ilmu Budaya
Angkatan 2017

Editor: Larasati PN/Bul