Obituari Pesan Moral

O

Ketika pembaca disuguhi sebuah cerita, ia tentu akan berhadapan dengan berbagai macam penokohan, alur cerita yang berkelit-kelit ataupun yang berkesinambungan, serta pengalaman menyusuri tempat dan waktu dalam lanskap realis ataupun surealis. Meski demikian, pengalaman pembacaan tersebut kerap dinodai dengan pencarian pesan moral di dalamnya. Tentu tidak salah menciptakan cerita-cerita yang mengandung kearifan di dalamnya. Alih-alih dapat mendidik pembaca, pesan moral kerap ditengarai sebagai penghilang esensi dalam menikmati sebuah cerita.

Tentu kenikmatan pada membaca cerita dapat ditandai dengan hanyutnya seorang pembaca pada cerita itu sendiri. Contoh pada dongeng Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, pembaca akan dibawa pada keseruan mengarungi samudera, ketegangan dihadang perampok, ataupun dikejutkan oleh kehadiran pembawa wahyu yang kemudian ditelan samudera. Pembacaan lainnya, seperti pada novel klasik To Kill a Mockingbird, pembaca akan terbawa pada ketegangan persidangan Tom yang didakwa kasus pemerkosaan, bergolak menyaksikan sentimen rasial yang kental dalam suatu persidangan, ataupun terpana pada kegigihan Atticus Finch ketika membela seorang negro. Sementara itu, contoh dalam lanskap sureal bisa diambil dalam kisah-kisah Haruki Murakami, seperti menapaki dunia aneh bernama 1Q84, didatangi katak raksasa yang ingin menyelamatkan Tokyo dari gempa bumi, atau pun dalam dunia Kafka Tamura yang langitnya dihujani ikan. Keseruan pembacaan itu yang akan mengalihkan pemburuan pembaca pada pesan moral.

Pesan moral yang normatif justru menggambarkan kedangkalan cerita. Penulis yang kerap kali dipuja karena ceritanya mengandung pesan moral yang berlimpah justru makin membuat ia terjebak pada paradigma cerita yang bermoral baik. Mengutip dari jurnal pribadi Eka Kurniawan, “Saya (mungkin juga kebanyakan penulis) punya pikiran yang berbeda tentang ‘mendidik’, juga memiliki ukuran yang berbeda tentang ‘moral’. Setiap usaha untuk menyamaratakannya akan berakhir menjadi keadaan menjengkelkan.” Seraya mengamini pendapat tersebut, saya menduga negara pun juga ikut andil dalam mengotori pengalaman membaca itu. Sekolah menjadi institusi yang menjalankannya, hal ini terlihat pada pelajaran bahasa Indonesia. Pada bab-bab yang terdapat cerita di dalamnya, siswa akan ditanyai persoalan pesan moral yang terkandung dalam cerita. Pesan yang normatif justru akan membuat pola pikir menjadi hitam putih, benar dan salah. Selalu ada abu-abu di antara hitam dan putih. Ironinya, keabuan itu ditutupi oleh sekolah, dan sialnya karya sastra menjadi suntikan yang meracuni siswa dengan hitam dan putih.

Ukuran moralitas yang berbeda pada beberapa karya, membuat pembaca yang hobi memburu pesan moral jadi mudah menghakimi moralitas yang ada pada karya tersebut. Pada situs jejaring sosial pembaca, Goodreads.com, ditemui beberapa pembaca yang tidak menyukai adanya adegan seks di luar hubungan pernikahan. Dari kolom review tertulis, terdapat beberapa ungkapan yang mengatakan bahwa cerita tersebut tidak bermoral, mengedepankan ego dan nafsu belaka, serta menghancurkan moralitas generasi muda. Sikap demikian justru menunjukkan ketidaksiapan seseorang dalam memasuki dunia fiksi. Sebagai contoh adalah cerita pendek “Kambing Hitam” karya Italo Calvino. Cerpen tersebut bercerita tentang sebuah kota yang seluruh penduduknya bermata pencaharian sebagai pencuri. Cerita tersebut mengundang diskusi panjang di kolom komentar, beberapa tanggapan dari pembaca malah menyayangkan apa yang terjadi pada penduduk kota tersebut, sementara lainnya berpendapat jika penduduknya berdosa dan telah melakukan hal yang hina. Padahal apabila pembaca membaca cerita benar-benar untuk menikmati sebuah cerita, tentunya tanggapan tersebut tidak perlu terjadi.

Pada akhirnya, membaca karya fiksi berarti menikmati segala unsur dalam cerita tersebut. Baik protagonis maupun antagonis, semuanya dituliskan untuk maksud dan sebab akibat tertentu. Mengutip dari Dag Solstad, tugas penulis prosa itu hany menulis cerita bagus. Jika hanya untuk menceramahi pembaca soal pentingnya kejujuran, lebih baik ia menulis kejujuran yang jelas akan membawa pada kebaikan dalam satu kalimat, ketimbang dipaksakan masuk ke dalam novel.

Penulis: Ifan Afiansa/bul.
Penyunting: Hanum Nareswari/bul.
Ilus: Rofie/Bul

Rubrikasi

hari_sindrom_se-dunia
Ilus: Bul