Tes Kepribadian MBTI yang Tak Perlu Dianggap Serius

T

 MBTI merupakan tes kepribadian paling populer. Namun, MBTI juga menuai banyak kritik karena hasilnya yang dianggap kurang akurat.

Tes kepribadian MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) begitu populer di dunia. Diketahui terdapat kurang lebih dua juta orang menggunakan tes ini tiap tahunnya atas perintah departemen human resource perusahaan, perguruan tinggi, hingga agen pemerintah.

Sekilas tentang MBTI

Mungkin kita telah seringkali melihat barcode empat digit seperti INFP, ENTJ, dan semacamnya pada kolom biografi media sosial rekan-rekan kita. Kode tersebut merupakan hasil dari tes Myers-Briggs yang mengkategorikan individu berdasarkan kepribadiannya. Tes ini dibuat oleh pasangan ibu dan anak, yaitu Katharine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers yang bukan merupakan psikolog, melainkan secara swadaya mempelajari teori-teori psikoanalitik klasik dari Carl Jung.

Cara kerja MBTI yaitu dengan memberikan 93 pertanyaan kepada peserta tes lalu mengkategorikannya melalui jawaban mereka berdasarkan interpretasi Jung mengenai empat fungsi inti psikologi; extraversion vs introversion, intuitive vs sensing, feeling vs thinking, dan judging vs perceiving. Kemudian, peserta tes akan diberi barcode empat digit (ESFP, INTJ, dan lain sebagainya), di mana setiap huruf melambangkan kecenderungan pribadi individu. Tipe kepribadian ini juga terbagi menjadi 16 tipe yang berbeda-beda.

Kritik terhadap MBTI

Meski sangat populer dan terdengar meyakinkan, terdapat banyak kritik yang menghampiri tes kepribadian ini. Salah satunya dilontarkan oleh Ronald Riggio, seorang Doktor Bidang Psikologi dari University of California, Riverside. Dilansir dari vice.com, Riggio menyatakan bahwa secara psikometri, MBTI memiliki konstruksi yang “aneh”. Ia bahkan awalnya mengira MBTI adalah buatan mahasiswa baru dikarenakan konstruksi pertanyaannya yang sangat kacau.

Salah satu kritik utama pada MBTI adalah tes tersebut dirasa gagal untuk memahami kompleksitas kepribadian manusia yang tidak bisa diukur secara hitam dan putih. “Untuk introversion dan extroversion, kamu diberikan huruf ‘I’ atau ‘E’. Dan karena tesnya bersifat benar/salah, tidak banyak variasi yang bisa terjadi,” jelas Riggio, dikutip dari vice.com.

Menariknya, dilansir dari vox.com, teori Carl Jung yang disebut sebagai fondasi terbentuknya tes MBTI ini merupakan teori yang tidak teruji dan bahkan diabaikan oleh komunitas psikologi. Selain itu, mengacu pada penelitian oleh David J Pittenger, sebanyak 50 persen peserta tes MBTI mendapatkan hasil berbeda saat mereka mengambil tes tersebut untuk kedua kalinya, bahkan jika jaraknya hanya lima minggu kemudian. Hal ini dikarenakan apa yang diukur dalam MBTI bukanlah hal-hal yang konsisten dalam diri individu, namun bisa jadi tergantung pada suasana hati saat mengikuti tes.

Populer karena menyenangkan

Dari banyaknya kritik yang ditujukan untuk MBTI, mungkin kita mulai bertanya-tanya mengapa tes ini sangat disukai oleh masyarakat. Akses untuk mengikuti tes ini sangat mudah dan gratis, yaitu bisa melalui situs daring seperti 16personalities.com. Selain itu, apabila diperhatikan tes MBTI sangat “ramah” dalam memberikan penilaian kepada para peserta tes. Misalnya, kata-kata seperti “licik” atau “egois” tidak ditemukan pada tes ini, sebaliknya peserta akan mendapatkan deskripsi menyenangkan seperti “penampil”, atau “pemikir”. Selain itu, kategori yang dihasilkan pada MBTI cenderung sangat umum, sehingga banyak orang yang bisa masuk ke dalamnya.

Disadur dari vox.com, saat peserta tes mulai merasa, “Wah, ini saya banget!”, kondisi ini dinamakan efek Forer, yaitu sebuah teknik lawas yang seringkali digunakan dalam kegiatan seperti meramal.  Teknik ini berfokus untuk meyakinkan orang-orang bahwa kegiatan tersebut menghasilkan informasi yang akurat.

Namun, terlepas dari banyaknya kritik mengenai MBTI, tidak ada larangan bagi kita untuk tetap mengikutinya. Tes ini tetaplah sebuah kuis kepribadian yang menyenangkan, oleh karena itu kita dapat mengikutinya sebagai bentuk hiburan semata namun tak perlu dianggap serius.

Referensi:
https://www.vice.com/id_id/article/j5g8bk/tes-kepribadian-myers-briggs-sebetulnya-cuma-omong-kosong
https://www.vox.com/2014/7/15/5881947/myers-briggs-personality-test-meaningless
https://www.theguardian.com/science/brain-flapping/2013/mar/19/myers-briggs-test-unscientific

Penulis: Nada Celesta/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul
Ilus: Devina/Bul

 

Oleh Divisi Redaksi

Rubrikasi

hari_sindrom_se-dunia
Ilus: Bul