HARI IBU: SEJARAH DAN ADAT PERAYAANNYA

H

Meskipun setiap tahun ditetapkan satu hari spesial untuk ibu, namun perayaannya perlu diresapi setiap hari.

Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember di Indonesia, rupanya memiliki sejarah panjang sebelum dipopulerkan secara internasional. Berbagai belahan dunia pun memiliki beragam cara unik sebagai tradisi untuk merayakannya.

Sejarah Hari Ibu

Hari Ibu—awalnya disebut sebagai “Mothering’s Day”—sesungguhnya merupakan hari yang diciptakan untuk wanita yang berkabung atas tentara yang gugur dan bekerja untuk perdamaian. Semuanya dimulai tahun 1850-an, ketika aktivis wanita Virginia Barat, Ann Reeves Jarvis bekerja di lapangan untuk memperbaiki kondisi sanitasi dan mencoba menurunkan angka kematian bayi. Kelompok tersebut juga merawat tentara yang terluka dari kedua belah pihak selama Perang Saudara A.S. dari tahun 1861 sampai 1865.

Jarvis bersama Julia Ward Howe—komposer “The Battle Hymn of the Republic”—mengumumkan Proklamasi Hari Ibu pada tahun 1870. Ia meminta wanita untuk mengambil peran politik aktif dalam mempromosikan perdamaian. Selain itu, mereka menciptakan Hari Persahabatan Ibu untuk para loyalis Union dan Konfederasi di seluruh negaranya.

Setelah kematian Ann Reeves Jarvis pada 1905, perjuangan Hari Ibu diteruskan oleh putrinya, Anna Jarvis. Anna mengupayakan Hari Ibu ditambahkan ke kalender Amerika sebagai hari libur nasional. Ia menganggap bahwa selama ini hari libur Amerika selalu bias terhadap pencapaian laki-laki. Anna mulai membuat kampanye penulisan surat besar-besaran ke surat kabar dan politikus terkemuka yang isinya mendesak untuk menetapkan hari libur yang didedikasikan bagi motherhood—para ibu dan keibuan mereka. Usaha Anna membuahkan hasil, Presiden A.S. Woodrow Wilson secara resmi menjadikan hari Minggu kedua di bulan Mei tahun 1914 sebagai Mothers’ Day.

Sayangnya, seiring waktu, Anna Jarvis melihat bahwa Mothers’ Day yang ia perjuangkan mulai melenceng dari tujuannya. Sejak ditetapkan sebagai hari libur nasional, Hari Ibu dimanfaatkan sebagian besar pihak sebagai ajang komersialisasi—mulai dari perusahaan permen, coklat, bunga, hingga kartu ucapan. Anna kemudian berusaha mengembalikan hakikat Hari Ibu sesungguhnya yaitu satu hari yang personal dan intim dengan melakukan berbagai protes, boikot, tuntutan hukum, hingga melabrak sebuah konvensi di Philadelphia pada 1923 dan 1925. Usaha Anna terus dilanjutkan hingga 1940 sebelum ia wafat pada 1984.

Perayaan Hari Ibu di dunia

Bagi restoran-restoran di Meksiko, Hari Ibu menjadi salah satu hari tersibuk mereka. Seharian penuh mereka akan menyediakan bunga, musik, makanan, perayaan, dan nyanyian pagi lagu “Las Mananitas” dari penyanyi mariachi.

Berbeda lagi dengan di Thailand yang dirayakan dengan berbagai upacara dan parade pada 12 Agustus, berbarengan dengan ulang tahun Ratu Sirikit yang dihormati. Acara diawali dengan memberikan sedekah kepada rahib atau biarawan. Selanjutnya, sang anak mengekspresikan kasih kepada Ibu dengan memberikan bunga melati yang dianggap sebagai tanda suci kasih ibu.

Di Afrika Selatan, perayaan Hari Ibu dilakukan setiap minggu kedua bulan Mei. Tidak hanya dirayakan untuk ibu kandung atau mertua, namun juga para wanita yang dianggap seperti ibu sendiri. Satu hal yang unik adalah masyarakat Afrika Selatan akan menyematkan bunga anyelir di baju mereka— anyelir merah muda untuk ibu yang masih hidup dan anyelir putih untuk ibu yang telah tiada. Penyematan bunga anyelir juga dilakukan di Jepang, bertepatan dengan Hari Ibu yang jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei.

Lain lagi dengan India yang merayakannya melalui tradisi umat Hindu yaitu festival Pujha Durga, sebuah penghormatan kepada Dewi Durga yang dianggap ibu universal atau alam semesta. Pada festival ini, anak-anak akan memberi hadiah dan memanjakan ibunya dengan mengambil alih semua tugas ibu seharian penuh sehingga sang ibu bisa bersantai di rumah.

Di Indonesia, Hari Ibu menjadi perayaan yang cukup spesial karena penetapannya sekaligus mengenang dan memaknai kembali peristiwa bersejarah yang menandai tonggak awal gerakan perempuan nasional: Kongres Perempuan Indonesia Pertama yang berlangsung di Yogyakarta, 22-25 Desember 1928 silam.

Terlepas dari cara perayaan yang berbeda-beda, pada intinya kita perlu memaknai kembali tujuan dihadirkannya perayaan Hari Ibu yakni tanda terima kasih dan ungkapan rasa syukur atas sosok ibu dalam hidup kita. Tidak melulu dirayakan setiap 22 Desember atau tanggal tertentu, namun perlu diresapi setiap hari.

Referensi:
http://www.history.com/topics/holidays/mothers-day
http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/12/merayakan-ibu-bangsa-memaknai-peringatan-hari-ibu-di-indonesia
http://time.com/94286/mothers-day-2014-world/
https://news.nationalgeographic.com/news/2014/05/140508-mothers-day-nation-gifts-facts-culture-moms/

Penulis: Namira Putri/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul
Ilus:  Rofi/Bul

 

Oleh Divisi Redaksi

Rubrikasi

hari_sindrom_se-dunia
Ilus: Bul