Naik Pelaminan: Perayaan Cinta Kekinian

N

Setiap manusia dilahirkan bersama ketetapan takdir mereka masing-masing, tak luput juga perihal jodoh. Perkara jodoh adalah salah satu yang berhasil menimbulkan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran bagi beberapa orang. Menemukannya tidak semudah meninggalkan sebelah sepatu kaca atau yang lebih menyenangkan lagi hanya perlu memakan apel kemudian tertidur. Kehidupan nyata tidak semagis dongeng, tetapi Tuhan menghadirkan banyak pilihan di dalamnya. Salah satunya adalah pilihan yang muncul ketika kita merasa yakin telah menemukan jodoh. Dalam memilih di antara menyegerakan atau menundanya, kita berhak mempertimbangkan segala pertimbangan yang ada. Apakah tren menikah muda pada beberapa waktu terakhir menjadi salah satu pertimbangan bagi mereka pemuda-pemudi yang telah merasa yakin menemukan jodohnya? Inilah anggapan yang pantas dipermasalahkan apabila dijawab dengan kata “iya”. Karena sebaik-baiknya pernikahan tidak seharusnya berlandaskan tren gaya hidup.

Menikah muda bukan lagi menjadi hal baru di Indonesia. Meski telah diatur oleh  pemerintah dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang batas usia menikah, yaitu 16 tahun, banyak perempuan menikah di bawah batas usia tersebut. Akan tetapi, fenomena menikah muda yang merebak di media sosial seolah menciptakan potret kehidupan yang menarik dan menjadi banyak idaman anak muda. Prioritas sebagian remaja masa kini pun berpindah, dari memaksimalkan kualitas diri menjadi menemukan pasangan hidup sesegera mungkin. Bagi mereka, kegelisahan mengenai datangnya jodoh seakan lebih menyiksa dibandingkan dengan kesuksesan yang tidak mudah didapatkan. Peningkatan kualitas diri seperti berpendidikan tinggi dan berkarier memang tetap bisa dilakukan meski berstatus menikah. Meskipun demikian, hal tersebut cukup diragukan dapat menghasilkan hasil yang maksimal bagi mereka yang belum memiliki manajemen diri dan waktu yang baik. Sebuah pernikahan bukanlah tahapan kehidupan yang main-main. Ketika langkah tersebut diambil, hidup seseorang tidak lagi berporos pada dirinya sendiri.

Topik pembicaraan tentang menikah muda yang semakin gencar dibahas ikut pula menimbulkan beragam pertanyaan di dalam pikiran saya. Pertama, berkenaan alasan yang mendominasi atas keputusan menikah muda yaitu untuk menghindari perzinahan. Alasan tersebut sangat dibenarkan apabila dijadikan sebagai salah satu alasan kaum muda untuk mengakhiri masa lajang. Namun, banyak orang yang malah menjadikan penghindaran terhadap perzinahan sebagai satu-satunya justifikasi pernikahan muda. Saya tidak bermaksud mendukung pergaulan bebas atau hal semacamnya. Akan tetapi, alasan itu seolah-olah menjadikan tujuan dari pernikahan sebatas pengaman teraman untuk berhubungan seksual. Padahal, pengendalian hasrat seksual di dalam diri adalah tanggung jawab semua manusia berakal. Ketidakproduktifan seseorang menjebak mereka ke dalam pusaran permasalahan tersebut. Bukankah menikah memiliki tujuan yang jauh lebih suci? Sebagai penyempurna separuh agama misalnya.

Kemudian, perihal usia bukanlah pengukur kedewasaan. Saya sangat setuju dengan alasan ini. Mereka yang mengambil keputusan untuk menikah muda boleh saja terbilang tidak cukup matang dalam segi usia. Akan tetapi, tidak mustahil jika mental mereka telah siap untuk hal itu. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah setiap orang yang akan menikah muda benar-benar yakin mereka telah dewasa dan memiliki kesiapan mental tersebut? Atau hanya sekadar keyakinan di bawah pengaruh cinta serta tren masa kini? Mementingkan kedewasaan dan kesiapan mental ketika hendak menikah merupakan hal paling utama. Di sini, peran orang tua dan keluarga memiliki nilai penting sebagai pengarah hingga pemberi petuah untuk meyakinkan lagi kesiapan mental pasangan muda yang memilih menyegerakan pernikahan.

Pandangan perihal menikah muda sudah sebaiknya diluruskan untuk mencegah kemungkinan dalam peningkatan angka perceraian di Indonesia. Atau bahkan kekerasan dalam rumah tangga yang diakibatkan  oleh labilnya emosi para kaum muda. Mereka sepatutnya mengetahui dan menyadari bahwa pernikahan bukan fase hidup  yang hanya sebatas kebahagiaan saat resmi menyandang status suami-istri. Melainkan, pernikahan adalah sebuah lembaran awal bagi perjalanan baru bersama pasangan hidup selama sisa usia. Masa muda yang tidak dapat diputar untuk kedua kalinya juga patut dijadikan sebuah pertimbangan. Hal tersebut dikarenakan pada masa muda, manusia diyakini memiliki kemampuan terbaiknya untuk mewujudkan segala cita-cita. Generasi muda yang semakin cerdas seharusnya tidak hanya memiliki tujuan hidup untuk menikah terlebih menikah di usia muda. Pada era yang serba canggih seperti sekarang, kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri, membangun masa depan yang jauh lebih baik, dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

Walaupun pernikahan di usia muda masih mengundang berbagai pro-kontra di dalam masyarakat, saya tentunya tetap merasa kagum terhadap mereka yang sudah mantap berkomitmen untuk menikah muda. Meskipun begitu, rasa kagum tidak lantas mengakibatkan saya ingin segera mencari jodoh lalu menikah. Seperti ketetapan takdir yang saya jelaskan di awal, setiap manusia pun memiliki prioritas hidup mereka masing-masing. Bagi saya, memperluas ilmu pengetahuan dan memiliki pekerjaan untuk menunjang kehidupan yang baik adalah hal-hal yang harus saya capai terlebih dahulu sebagai bentuk bakti terhadap orang tua. Selain itu, di masa muda, daripada gelisah dan sibuk mencari-cari seseorang yang terbaik untuk menjadi pasangan hidup nantinya, akan lebih baik mempersiapkan diri menjadi yang terbaik bagi dia yang akan menemukan kita. Ditemukan ketika telah menjadi yang terbaik, siapa penemu yang tidak merasa beruntung?

Penulis:
Tri Meilani Ameliya

Fakultas Ilmu Budaya
Angkatan 2017

Editor: Larasati PN/Bul
Ilus: Rofi/Bul

 

Rubrikasi