Mengatasnamakan Lolita sebagai Kambing Hitam Kasus Pedofilia

Ilus: Bagas
Mengatasnamakan lolita.Ilus: Bagas

Loly Candy adalah nama sebuah grup berkonten pedofilia yang belakangan ini menghebohkan dunia maya. Para penghuninya kerap kali memakai istilah ‘loli’. Lalu apakah maksudnya? Kamus Besar Bahasa Indonesia memang tidak pernah mencantumkan istilah ‘loli’ di dalamnya. Namun sebagai manusia masa kini yang hidup dalam dunia melek teknologi, tentu mudah untuk kita telusuri maksud dari kata ‘loli’ ini dengan bantuan mesin pencari online.

Penyanyi kondang Nafa Urbach pun juga melakukan hal serupa. Singkatnya, beberapa bulan yang lalu, foto putrinya, Mikha, sempat dihujani komentar-komentar berujar ‘loli’. Nafa pun berang setelah ia mengetahui bahwa arti loli tersebut jauh dari ekspektasinya. Loli adalah sebutan yang lumrah digunakan oleh para predator anak untuk melabeli korbannya. Yang jelas, benar-benar tak senonoh. Nafa bahkan sempat melaporkan salah satu komentator kepada pihak yang berwenang.

Meski hanya berangkat dari komentar ‘loli’ dan bekal riset yang belum diketahui pasti sudah sejauh apa, lantas Nafa menjustifikasi para komentator tersebut adalah (terduga) pedofil. Kalau ditilik kembali, agaknya tindakan Nafa ini terlalu gegabah. Pastinya a sedang panik, toh, sebagai ibu wajar saja bereaksi over kalau bahaya mengintai anaknya. Barangkali mayoritas akan berpendapat demikian. Padahal ini hanyalah pembenaran secara intuitif belaka. Lagipula, yang sesungguhnya patut dipertanyakan di sini ialah bagaimana pemakaian kata ‘loli’  bisa menjadi semacam momok bagi para warganet? Terkhusus kaum ibu?

Mencuatnya kerancuan ini rupanya dapat pula dikaitkan oleh adanya protes dari kalangan penikmat animasi dan manga Jepang. Bagi mereka, ‘loli’ bukan sekadar sebutan yang bermaksud cabul, akan tetapi hanya sebatas ungkapan kekaguman. Protes ini adalah bentuk kekecewaan mereka atas tudingan Nafa yang terlalu mengeneralisasi para pengucap loli sebagai pedofil.

Jika menilik dari sejarahnya, Vladimir Nabokov bolehlah disebut sebagai biang keladi atas populernya istilah ‘loli’. ‘Lolita’ adalah judul novel terbaik yang pernah digarap oleh Nabokov. Sesuai dengan judul yang dipilihnya, novel itu mengisahkan seorang pria bernama Humbert yang terobsesi dengan gadis berusia 12 tahun bernama Dolores. Lolita yang dimaksud, tak lain adalah panggilan privat Humbert untuk Dolores. Maka entah dengan cara yang bagaimana, makna ‘lolita’ mulai dipersempit sebagai sesuatu yang berkonotasi negatif, pedofilia dan pornografi misalnya.

Nahas, kamus-kamus besar seperti Oxford pun mendefinisikan lolita dengan kiasan yang cenderung erotis; A sexually precocious young girl (Oxford Online Dictionary). Secara awam, benarlah apabila sebagian besar masyarakat mengadopsi pengertian ‘loli’ ini sama halnya dengan bentuk pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Akan tetapi, di sisi lain, istilah lolita kembali digaungkan sebagai sebutan umum untuk gadis yang berpenampilan imut atau kekanak-kanakan dalam kultur pop Jepang. Hingga kini, animasi, manga, hingga game bergenre lolita masih secara masif diproduksi dan menarik banyak konsumen. Lolita atau lazim dipersingkat ‘loli’, semsetinya mempunyai arti yang sangat luas. Beberapa versi bahkan merujuk pada artian yang sama sekali tidak berkenaan dengan impresi vulgar, misalnya tren fashion lolita yang maksudnya mengacu pada ciri berpakaian khas era Victoria.

Karena itulah, bantahan yang dilayangkan kepada Nafa ini bukan semata-mata mempersoalkan niat baiknya untuk membumihanguskan kasus-kasus pedofilia, namun justru memperdebatkan perkara haram atau tidaknya penggunaan kata ‘loli’ dalam ranah publik. Biar bagiamanapun, sikap sebagian warganet yang telanjur menghakimi oposisi Nafa hanya lantaran viralnya kasus ini sebetulnya sangat disayangkan. Selain itu, klarifikasi Nafa terkait antipatinya terhadap ‘loli’ belumlah cukup untuk memuaskan keresahan pihak oponen. Namun toh, pada akhirnya, kejadian ini hanya akan berlalu dan dapat dijadikan pelajaran untuk kemudian hari.

Mungkin solusi yang paling adil untuk sementara ini adalah dengan menerapkan eksklusivitas penggunaan kata ‘loli’ bagi kalangan tertentu. Memakai istilah ‘loli’ dalam lingkup sesama penikmat budaya Jepang bisa jadi tak terdengar tabu. Lain lagi apabila istilah tersebut dimaksudkan sebagai bahan untuk bekelakar, terlebih di khalayak ramai, pastilah akan terulang kembali huru-hara yang serupa. Pada dasarnya, kesadaran diri setiap orang untuk menjaga etika adalah kunci utama untuk menghindari kesalahpahaman dan perselisihan.

Penulis:
Nabila Rana Syifa
Fakultas Ilmu Budaya

Editor: Hayuningtyas J/Bul
Ilus: Bagas/Bul

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here