Berbagi Kisah dari Bumi Pekalongan

Foto: Pribadi

Pekalongan masih menyimpan hal menarik selain batiknya yang tersohor untuk ditelusuri, yaitu keindahan alam dan potret kehidupan masyarakatnya

Masa libur kuliah setelah satu semester dijalani memang menjadi hal yang didambakan oleh mahasiswa. Sejak jauh hari banyak mahasiswa merencanakan kegiatan-kegiatan untuk mengisi masa libur kuliah. Mulai dari touring menjelajahi daerah lain atau sekadar balik kampung. Selain itu, ada juga yang memilih untuk menghabiskan waktu menjelajahi tempat wisata atau mengikuti kegiatan kampus. Nah, Pekalongan bisa menjadi tujuan wisatamu di liburan kali ini.

Sekilas tentang Pekalongan

Mendengar nama Pekalongan, kebanyakan dari kita mengenalnya sebagai kota batik dan bangunan-bangunan bersejarah. Berpindah dari hiruk pikuk kehidupan kota, Pekalongan turut menawarkan kehidupan pedesaan dengan pemandangan alam yang tak kalah indah. Kehidupan pedesaan tersebut tersaji di pegunungan daerah Kabupaten Pekalongan.

Pekalongan sebagai kota batik memiliki dua wilayah administrasi yakni terbagi atas daerah kota dan kabupaten. Secara geografis, wilayah kota berada di dataran rendah dekat pesisir Laut Jawa dan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah karena lokasinya yang strategis. Daerah kabupaten di bagian utara terdapat dataran rendah dan pantai, sedangkan pegunungan berada di bagian selatan. Pegunungan di Pekalongan termasuk dalam rangkaian Dataran Tinggi Dieng, sehingga sebagian besar mata pencaharian penduduk bertumpu pada sektor agraris.

Salah satu daerah di Pekalongan yang bisa dijelajahi yaitu Lebakbereng. Daerah ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil buah, sayur, dan hasil perkebunan. Di sini sangat mudah ditemui buah durian yang banyak ditanam oleh warga.

Perjalanan

Perjalanan dari Jogja menuju Lebakbarang ditempuh menggunakan bus melewati jalur pantai utara selama kurang lebih 10 jam. Saat subuh menjelang, kami telah sampai di Tugu Duren, Karanganyar untuk transit sebelum kami berganti kendaraan yang akan membawa kami ke Lebakbarang. Adapun kendaraan tersebut adalah doplak alias sejenis mobil pick-up. Dari sini menuju Lebakbarang diperlukan waktu sekitar 45 menit.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan khas pegunungan seperti hamparan hutan dan beberapa jurang. Jalanan yang menanjak dan berkelok pun terbayarkan dengan pemandangan di sepanjang perjalanan. Sekitar pukul 9 pagi, kami sudah sampai di Kecamatan Lebakbarang.

Keindahan alam dan masyarakatnya

Pekalongan memang daerah yang indah. Selain keindahan lanskapnya yang terdiri atas barisan pohon pinus, dapat ditemukan beberapa hewan liar seperti monyet dan celeng yang tinggal dan bersembunyi di hutan. Di setiap sudut desa mudah didapati sawah dan kebun milik warga. Sawah dan kebun warga ditanami padi, cokelat, pinus, dan beberapa bumbu masak. Selain hamparan sawah dan kebun, kita juga menemukan curug kecil di sepanjang sungai. Di sini juga banyak terdapat sungai dan tentunya banyak dari kami yang bermain ke sungai.

Salah satu sungai dan curug yang terkenal berada di Nambangan, Desa Sidomulyo adalah Curug Jlarang dan Curug Mungguhan. Kedua curug ini sering dikunjungi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat. Curug Jlarang dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik mikro hidro, hasil tenaga disalurkan sebagai cadangan listrik. Curug ini tergolong besar dan asyik untuk dikunjungi.

Meski keindahan alam menjadi daya pikat utama, ada sisi unik lainnya. Keadaan sosial masyarakat di sini sangat beragam, baik dari mata pencaharian, pendidikan, maupun religiusitas masyarakatnya. Mata pencaharian penduduk tak hanya bertumpu pada sektor agraris, namun pekerjaan lain seperti bidan, guru, pegawai, buruh, dan pedagang. Potret area pekerjaan masyarakat sini salah satunya dengan terdapatnya industri pembuatan gula aren tradisional yang hasilnya didistribusikan di sekitar wilayah desa.

Kesan awal yang didapat saat memasuki desa ini jauh dari kesan modern, bahkan terkesan belum tersentuh oleh pembangunan. Meskipun fasilitas yang ada di desa masih sangat sederhana, hal ini tidak menyebabkan pola pikir masyarakat menjadi sempit. Selama tinggal di desa, banyak warga yang menanyakan tentang apa yang dipelajari dari prodi kami, serta membandingkannya dengan prodi lain.

Tak terasa keterbatasan waktu yang singkat tidak bisa menjelajah seluruh Kota Pekalongan. Mungkin kota ini bisa menjadi salah satu alternatif tempat pengisi libur dikala jenuh dengan kunjungan ke lokasi wisata yang ramai. Selamat berlibur.

Penulis: Okky Chandra Baskoro/ Ihsan Nur Rahman/Bul
Editor: Ilham Rizqian F S/Bul
Foto: Pribadi

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here