Jangan Berfoto Selagi Berlibur, Mengapa?

Efendy/ Bul

Ada yang menarik dari beranda Instagram saya beberapa waktu lalu. Semenjak musim liburan Natal hingga liburan tahun baru lalu, berbagai foto destinasi wisata yang sungguh ciamik memenuhi beranda saya. Foto-foto tersebut―termasuk juga video-video berdurasi tak lebih dari lima belas detik―diunggah oleh teman-teman saya dalam bentuk story. Meski minim caption, unggahan tersebut rupanya mangkus menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan, ada di mana, dan dengan siapa. Wah, menarik sekali. Tanpa pandang waktu, teknologi rupanya terus memanjakan manusia dengan segala kapabilitasnya.

“A picture is worth thousand words” adalah sebuah idiom Inggris yang sangat relevan apabila dikaitkan dengan tabiat generasi muda masa kini. Menurut mereka, sebuah gambar lebih kaya akan definisi ketimbang ribuan kata sekalipun.

Foto-foto bertema liburan itu kian merebak dari hari ke hari. Tidak jarang mereka mengunggah beberapa foto sekaligus dalam waktu yang berdekatan, seolah tiap menit yang tengah mereka jalani adalah sesuatu yang amat lazim untuk dibagikan kepada khalayak ramai. Namun, tujuan memublikasi foto-foto dalam rangka euforia liburan ini bukanlah semata-mata untuk kebutuhan pamer belaka. Ada pula maksud mengedukasi sebagaimana pendapat Panahi, et. al. (2012) dalam jurnalnya, Social Media and Tacit Knowledge Sharing: Developing a Conceptual Model. Dikutip dari tirto.id, hasil kesimpulan studi mereka adalah media sosial merupakan sarana yang cukup efektif untuk mentransfer pengetahuan yang berbasis pada pengalaman seseorang.

Lagi pula, keputusan mengenai transparan atau tidaknya sistem pembagian konten dari sebuah akun pribadi adalah hak para pengguna sepenuhnya. Tetapi kemudian, persoalan semacam ini yang  membuat saya tak habis pikir. Menyempatkan diri berfoto secara eksesif selagi berlibur, lalu membaginya dengan orang lain, sebegitu pentingkah?

Keprihatinan ini sebenarnya muncul lantaran jamak terjadi kasus serupa sehingga menimbulkan ketidaknyamanan di antara pihak-pihak yang terlibat, baik dilakukan secara sadar maupun tidak. Berkat media sosial, fungsi foto kini mulai merangkap sebagai sarana komunikasi yang lebih jitu. Dengan hadirnya fitur baru Instagram story misalnya, seperti pada uraian sebelumnya, orang-orang berlomba untuk menampilkan hasil jepretan terbaiknya sebagai rangkuman suatu peristiwa yang telah dialaminya. Maka, alih-alih bercerita dengan kalimat, berkisah melalui foto dirasa lebih populer belakangan ini. Mudah, cepat, dan lebih eye-catching. Lantas, ketidaknyamanan apakah yang dimaksud?

Tahun 2017 lalu, lembaga asuransi asal Inggris, Aviva, merilis sebuah artikel berikut hasil survei yang menarik sehubungan dengan fenomena mengunggah foto liburan ke media sosial. Sebanyak 73% dari 2000 orang Inggris yang mengikuti survei mengaku merasa ‘terganggu’ oleh perilaku orang-orang yang membagi foto liburannya di media sosial. Hal ini sekiranya memiliki korelasi dengan fakta mengejutkan terkait banyaknya orang yang memutuskan tali pertemanan di jejaring sosial. Perasaan iri dan prasangka terhadap seseorang yang dengan sengaja memamerkan momen liburan itu kerap kali menjadi alasan utama dilakukannya tindakan tersebut.

“Bagi kebanyakan, liburan adalah waktunya untuk jeda dan beristirahat, tapi sepertinya hal itu tidak bisa diterapkan pada media sosial,” ujar Adam Becket selaku direktur proposisi Aviva. Benar, bukan? Keberadaan libur panjang di akhir dan pertengahan tahun seharusnya dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih dibanding hari libur di akhir pekan. Melepas penat seusai berkutat dengan rutinitas pekerjaan adalah salah satu alternatifnya, yang kemudian diwujudkan melalui perjalanan wisata ke tempat-tempat yang eksotis. Akan tetapi, media sosial rupanya telah mengubah esensi sejati liburan seseorang menjadi sedikit kabur.

Pemuda-pemudi sekarang nampaknya mengamini gagasan yang lahir secara impulsif  bahwa tanpa foto, liburan kita tidaklah pantas untuk diakui. Maka, selain menghibur diri dengan pemandangan yang ada, generasi kekinian pun masih sempat meraup puas melalui kamera digital ataupun layar ponselnya, menghamba pada apresiasi maya di jejaring sosial.

Selain itu, kejadian-kejadian ekstrem di lapangan akibat maraknya tren mengunggah foto liburan juga tak bisa disepelekan. Mari mengingat kembali tragedi bunga amarilis yang mati terinjak-injak lantaran antusiasme berlebihan dari para pelaku swafoto. Keindahan kebun bunga yang terletak di Desa Salam, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta tersebut begitu cepat naik daun berkat unggahan foto dari berbagai akun di dunia maya. Sayangnya naluri para pengunjung untuk berlaku destruktif demi mendapatkan spot foto terbaik tidak bisa dihindarkan. Bunga-bunga itu layu berserakan di tanah, sementara orang-orang berdiri  di atasnya sambil tersenyum. Sebuah potret yang amat miris. Beruntunglah pemilik kebun itu kini telah menyediakan tempat yang lebih aman untuk berswafoto tanpa harus merusak tanaman-tanaman milknya.

Memang pada satu waktu, obsesi masyarakat untuk berpenampilan menarik tanpa cacat dalam bingkai media sosial ini sebetulnya bisa amat menggelisahkan. Agar terlihat sempurna, terkadang mereka nekat mengabaikan kenyamanan bahkan keselamatan pribadi juga sekitarnya. Pada musim-musim liburan utamanya. Kejadian nahas seperti swafoto berujung maut memiliki presentase kemungkinan terjadi yang lebih besar pada kondisi-kondisi tertentu. Biasanya oleh masyarakat, tempat-tempat atau posisi berfoto yang unik dianggap mempunyai nilai jual lebih ketika sudah dicemplungkan dalam dunia media sosial. Berdiri di puncak gunung, misalnya. Iktikat macam inilah yang sebenarnya membawa kekhawatiran akan risiko negatif  berfoto selama liburan.

Lebih lanjut lagi, kalaupun tak sampai menelan korban, berjumpa dengan orang-orang yang begitu menikmati hobinya berfoto di tengah-tengah liburan bisa jadi sangat mengganggu. Satu atau dua barangkali tak jadi masalah. Tetapi bagaimana kalau begini situasinya. Apa yang sebaiknya kita lakukan ketika berada dalam posisi di mana untuk melewati jalan selebar 3 meter saja, kita mesti berhadapan dengan belasan juru foto amatir di sepanjang bahu jalan? Belum termasuk durasi waktu yang dibutuhkan masing-masing pemotret dan berapa buah foto yang akan mereka ambil setelah berhasil menemukan sudut terbaik. Ya, jawaban paling mungkin adalah menghindari orang-orang yang sedang berpose di depan kamera. Dan yang terjadi selanjutnya, situasi akan berubah canggung.

Namun, semua kemungkinan yang telah disebutkan seperti pemutusan tali pertemanan hingga situasi canggung di tempat wisata, tentunya tidak akan terjadi apabila setiap individu dapat bersikap bijak. Mereka yang menghargai kebutuhan berlibur untuk dirinya sendiri, pastinya sadar akan kapan waktunya untuk menjauhkan diri dari gawai kesayangan. Sebab biar bagaimana pun, sesuatu yang hiperbolis tidak akan pernah berakhir manis, terlepas dari niatan awalnya yang baik. Seperti ditulis oleh Daria J. Kuss dan Mark D. Griffiths dalam jurnalnya, Online Social Networking and Addiction—A Review of the Psychological Literature (2011), bahwa kasus-kasus ‘kecanduan’ terhadap jejaring sosial berpotensi menimbulkan masalah kesehatan mental pada para penggunanya. Dan ‘kecanduan’ berbagi foto liburan adalah satu di antaranya.

Walau sudah mengaku dewasa, ada kalanya manusia bisa lupa diri. Bukankah kita semua tidak ingin menyesal kalau nantinya orang-orang di dekat kita atau malahan kita sendiri bertanya-tanya pada entah siapa, apakah saya sudah benar-benar menikmati liburan kali ini?

Referensi:
https://tirto.id/aku-memotret-makanan-maka-aku-ada
https://www.aviva.co.uk/media-centre/story/17781/sun-sea-and-selfies-has-social-media-killed-the-ho/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3194102/

Penulis: Nabila Rana Syifa
Editor: Ifan Afiansa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here