The Greatest Showman.Gambar: berkreviews.comGambar: berkreviews.com

The Greatest Showman, Bayang-Bayang Perbedaan Di Balik Dunia Pertunjukan

Oleh: Reza Altamaha (Awak Magang SKM UGM Bulaksumur)

Judul: The Greatest Showman

Genre: Drama, Musikal & Pertunjukan

Sutradara: Michael Gracey

Penulis Naskah: Jenny Bicks, Bill Condon

Pemeran: Hugh Jackman, Zac Efron, Michelle Williams, Rebecca Ferguson, Zendaya

Durasi: 105 menit

Distributor: 20th Century Fox

Film The Greatest Showman merupakan film yang terinspirasi dari kisah hidup P.T. Barnum (5 Juli 1810-7 April 1891), seorang penghibur dan pebisnis di dunia pertunjukan. Film dengan sentuhan musikal ini menghadirkan lagu-lagu yang catchy serta menghibur. Selain itu, film ini menghadirkan bintang-bintang terkenal Hollywood seperti Hugh Jackman (P. T. Barnum), Zac Efron (Phillip Carlyle), Michelle Williams (Charity Barnum), Rebecca Ferguson (Jenny Lind), Zendaya (Anne Wheeler), Paul Sparks (James Gordon Bennett), dan berbagai bintang terkenal lainnya.

Film ini menceritakan dinamika perjalanan kehidupan P.T. Barnum sejak kecil yang cukup memprihatinkan. Barnum berusaha untuk memperjuangkan cintanya pada Charity yang kehidupannya berbanding terbalik dari dirinya. Perjuangan tersebut akhirnya berbuah manis. Mereka berhasil membangun keluarga, walaupun kehidupannya jauh dari kemapanan.

Kegagalan yang merundung Barnum mendorongnya untuk mewujudkan “ide-ide gila” yang masih dianggap aneh di masa 1800an. Dirinya menghadirkan panggung pertunjukan yang dilakukan oleh orang-orang unik. yang tidak diterima oleh sebagian orang-orang di lingkungan mereka. Barnum memulai bisnis pertunjukannya dari nol dengan berbagai rintangan yang menerpa perjalanannya untuk membesarkan bisnis pertunjukan.

The Greatest Showman sanggup mengusung Hugh Jackman sebagai pemeran utama, walaupun ingatan publik tentang Hugh Jackman masih lekat pada Logan atau. Wolverine dalam X-Men yang telah diperankannya selama belasan tahun. Hugh seolah melepaskan bayang-bayang Wolverine dari dirinya lalu memerankan sosok P.T. Barnum dengan apik. Selain itu, Hugh juga menunjukkan kemahirannya dalam menyanyikan lagu-lagu yang dihadirkan di film ini.

Hugh Jackman memang menjadi salah satu daya tarik dari film ini, tapi selain itu jangan lupakan kehadiran Zac Efron sebagai Phillip Caryle dan Zendaya sebagai Anne Wheeler yang menambah keromantisan film ini. Nama Zac Efron sendiri cukup melambung dari perannya di franchise High School Musical pada kurun 2006-2008. Zendaya cukup menarik perhatian setelah memerankan Michelle, dalam film Spiderman: Homecoming. Film The Greatest Showman menyampaikan kisah cinta Phillip Carlyle dan Anne Wheeler yang terkesan bagaikan adagium latin, “Nec possum tecum vivere, nec sine te, yang beraarti aku tidak bisa hidup bersamamu, atau tanpamu. Kisah percintaan mereka memang cukup dramatis karena adanya perbedaan rasial yang pada masa 1800an masih merupakan permasalahan krusial.

The Greatest Showman selain berusaha menggambarkan kehidupan jatuh bangun P.T. Barnum dalam membangun bisnis pertunjukannya, maupun percintaan antara Phillip Carlyle dan Anne Wheeler, turut juga dipaparkan masalah sosial yang sepertinya langgeng pada masa itu, yaitu menghargai perbedaan. Diceritakan bahwa Barnum merangkul orang-orang unik yang bagi sebagian orang dianggap sebagai aib karena perbedaan yang dimiliki, seperti Wheeler bersaudara yang berkulit hitam, Tom Thumb yang mengidap Dwarfisme dan kru Barnum lainya yang memiliki kelainan fisik, sehingga tidak disukai oleh sebagian orang di sekitar mereka. Dari fakta itu, Barnum mengambil kesempatan dan memulai pertunjukan yang menghadirkan kru pertunjukan yang “berbeda” dari orang lain.

Sepintas, apa yang dilakukan Barnum dengan mempertontonkan kru pertunjukannya yang berkelainan fisik kepada publik, dianggap sebagai jalan yang cenderung picik. Namun, apa yang telah Barnum lakukan tetap menjadi hal yang perlu direnungkan, mengenai bagaimana ia mampu merangkul dan menerima orang-orang yang tidak diterima oleh lingkungan mereka karena apa yang mereka miliki. Selain itu, daripada bisnis, pertunjukan Barnum lebih seperti usaha untuk merayakan perbedaan yang pada masa itu penuh dengan diskriminasi terhadap mereka yang memiliki keunikan.

Editor: Sesty Arum P.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *