Terperangkap Idealisme.Ilus: Shamila Aisya Rahman SapiyaIlus: Shamila Aisya Rahman Sapiya

Terperangkap Idealisme

Oleh: Hafiyyan Naufal

Perang dunia II merupakan salah satu peristiwa besar yang ada dalam sejarah dunia. Peristiwa yang bermula pada tahun 1939 ini melibatkan kurang lebih 100 juta kekuatan militer perorangan dan menelan lebih dari 70 juta korban jiwa. Perang yang disebut sebagai konflik paling mematikan dalam sejarah umat manusia ini tidak lepas dari nama seorang tokoh; Adolf Hitler.

Pada masanya, Hitler menjadi salah satu pemimpin yang paling ditakuti. Sesuai dengan kata pepatah; seorang pelaut yang handal tidak akan terbentuk karena lautan yang tenang. Sebelum menjadi salah satu pemimpin tersukses dalam sejarah, Hitler telah melalui masa-masa sulit sampai akhirnya dapat dikatakan hampir berhasil menaklukkan benua Eropa dan dunia.

Di umurnya yang ke-14 tahun, Hitler telah menjadi anak yatim. Empat tahun setelahnya, Hitler menjadi yatim piatu sepeninggalan ibunya. Hitler kemudian harus hidup secara nomaden di masa remajanya terutama setelah biaya pendidikannya habis. Dengan modal idealisme dan warisan harta dari almarhum ayahnya, Hitler bepergian hingga akhirnya tahun 1913 menetap di Munich.

Hitler masih menetap di Munich saat Perang Dunia I pecah. Ia menjadi sukarelawan dan ditempatkan di resimen Infanteri Cadangan Bayern 16 sebagai pengirim berita. Pada periode perang dunia I, Hitler sempat mengalami buta sementara akibat serangan gas mustar. Hitler kemudian harus mendapat perawatan inap di Rumah Sakit Pasewalk.

Di Pasewalk, Hitler mengetahui berita tentang kekalahan Jerman. Idealisme dan semangat patriotiknya pun terbentuk akibat rasa kecewa terhadap negara. Dengan idealisme dan usaha yang didasari atas rasa kecewa tersebut, Hitler kemudian berhasil menapaki tampuk kekuasaan Jerman karena inti dari idealisme Hitler berisi supremasi ras arya (ras pribumi Jerman).

Beberapa periode kemudian, Adolf Hitler memulai perang dan berhasil melebarkan sayap serta merebut kekuasaan hingga hampir menguasai Eropa. Pada saat itu, Jerman memiliki pondasi yang kokoh dan aliansi yang mumpuni untuk hampir menguasai dunia. Namun, Hitler yang dianggap terlalu idealis akhirnya terperangkap dalam perspektif atau ideologinya sendiri. Yang lebih krusial pula, Hitler menggangap idealismenya sudah menjadi sebuah realitas hingga ia melupakan bahwa idealismenya itu hanya diakui oleh dirinya dan pengikut-pengikutnya.

Pada tanggal 22 Juni 1941, sebanyak 5,5 juta tentara poros pasukan Jerman menyerbu Uni Soviet. Jerman di bawah Hitler saat itu dapat dikatakan melanggar pakta non-agresi Hitler–Stalin mengingat keberhasilan Jerman merebut sebagian besar wilayah Uni Soviet sekaligus menyatakan perang dengan Amerika Serikat selama enam bulan dicapai melalui agresi dan perang. Upaya Hitler kemudian mengalami kegagalan, ditandai dengan kegagalan serangan Mokswa yang menunjukkan bahwa tentara merah Uni Soviet memiliki kekuatan dan strategi yang melebihi pasukan Jerman sehingga mampu membalikkan keadaan. Dapat disimpulkan dalam peristiwa ini, kegagalan Hitler sangat terkait dengan bagaimana ia memaknai idealismenya sendiri tanpa memberikan ruang bagi pemahaman lain yang mungkin saja dapat menjadi kekuatan bagi pertahanan kekuasaan dan kepentingannya.

Melalui perjalanan hidup Adolf Hitler, banyak pelajaran penting yang bisa diambil. Hitler mengajarkan kita bahwa visi dan ambisi yang ditunggangi idealisme akan membuat seseorang lebih terarah dalam menjalani kehidupan. Seseorang dengan idealisme yang terbentuk sejak dini seperti Hitler terbukti dapat dengan tangguh menyelesaikan masalah dalam kehidupannya jika ia memiliki satu tujuan besar dalam hidup. Tidak hanya Hitler, sebenarnya banyak tokoh-tokoh penting lain yang rela hidup sengsara karena idealismenya sendiri. Pada dasarnya, memang idealisme patut diperjuangkan agar tidak hanya terhenti sebagai sebuah konsepsi semata. Akan tetapi, idealisme yang membutakan dan penuh ambisi seperti apa yang kita lihat dalam diri Hitler tentu tidak dapat di benarkan, terutama dampaknya yang kemudian merugikan tidak hanya satu-dua individu tetapi secara massal.

Melalui kisah Hitler ini, penulis ingin menunjukkan bahwa meskipun secara konkrit kita tidak lagi menemui masalah serupa di era modern ini, penting bagi kita untuk tetap menyadari seberapa besar idealisme dalam diri kita mempengaruhi baik kehidupan pribadi maupun lingkungan sekitar kita. Utamanya pula; apakah dapat dikatakan berdampak positif atau sebaliknya negatif.

Penyunting: Maria Desima/Bul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *