Polusi Cahaya: Cahaya Buatan yang Merugikan

Polusi Cahaya.Ilus: Bagas/Bul

Keberadaan polusi cahaya mengganggu kesehatan manusia dan aktivitas pengamatan astronomi.

Lampu – lampu yang menyala di malam hari memang membantu aktivitas manusia, namun hal itu  memiliki dampak buruk bagi kesehatan manusia, hewan, dan kelestarian lingkungan karena telah menimbulkan polusi cahaya.

Sebab terjadinya polusi cahaya

Bagi para ahli yang bergelut di bidang ini, masalah tersebut  bukanlah hal yang baru lagi karena sudah menjadi polemik selama bertahun-tahun. Konsep polusi cahaya berbeda dengan polusi lainnya.  Polusi cahaya bukan berarti cahaya yang mendapat efek pencemaran, tetapi cahaya itu sendiri yang menjadi polutan ( zat penyebab polusi) bagi kondisi gelapnya langit malam. Dalam studi jurnal Science Advances, data satelit menunjukan jika pada malam hari bumi semakin cerah karena cahaya buatan yang dinyalakan di luar ruangan naik sebanyak 2% setiap tahunnya.

Polusi cahaya pada hakikatnya banyak ditimbulkan oleh sumber-sumber cahaya buatan seperti lampu penerangan jalan, lampu taman, lampu dekorasi, lampu dari stadion olahraga, dan cahaya yang dihasilkan oleh lampu  light-emitting diodes (LED) yang semakin banyak digunakan karena hemat energi dan biaya. Dewasa ini, banyak kota di dunia, perusahaan, dan rumah tangga yang beralih ke lampu tersebut sehingga memicu kenaikan polusi cahaya. Keberadaan lampu LED menyebabkan penyinaran yang berlebihan dan tidak teratur sehingga membuat bumi menjadi terang benderang ketika malam hari.

Dampak polusi cahaya

Banyak orang tidak menyadari bahwa polusi cahaya juga berbahaya. Para ilmuwan menyatakan bahwa polusi cahaya dapat mengancam kesehatan manusia dan hewan. Menurut penelitian, cahaya buatan (lampu) tersebut dapat meningkatkan risiko terkena penyakit mematikan seperti kanker dan diabetes bagi manusia. Polusi cahaya berbahaya bagi manusia dan hewan, khususnya hewan yang bergantung pada cahaya dalam siklus kehidupannya seperti penyu laut yang mengandalkan cahaya alami di kaki langit untuk merayap kembali sehabis bertelur. Karena adanya cahaya buatan manusia di pinggir pantai menjadikan jalur perjalanan penyu laut terganggu.

Dampak negatif lainnya yang tidak kalah penting adalah terganggunya proses pengamatan astronomi. Masalah ini dirasakan sendiri oleh salah satu observatorium terbesar dan tertua di Indonesia yakni Obeservatorium Boscha yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kecerahan langit merupakan faktor utama dalam penelitian astronomi. Semakin besar nilai kecerahan langit maka semakin gelap langit dan semakin memudahkan bend-benda langit untuk terlihat. Sebaliknya, semakin kecil nilai kecerahan langit maka semakin terang langit sehingga semakin menyulitkan benda-benda langit untuk terlihat.

National Geographic Indonesia menyebutkan, idealnya pengamatan benda langit dilakukan dalam kondisi gelap dengan skor magnitudo 22 seperti saat Observatorium Boscha berdiri. Namun, akibat polusi cahaya, sekarang ini nilai tersebut turun menjadi 18 magnitudo yang artinya langit di sekitar Observatorium Boscha menjadi 40 kali lebih terang dibandingkat saat Boscha pertama kali berdiri. Hal ini jelas sangat menggangu apabila Boscha akan melakukan pengamatan terhadap benda-benda langit.

Meminimalkan polusi cahaya

Polusi cahaya tidaklah sulit ditanggulangi, tidak seperti isu lingkungan lainnya seperti pemanasan global atau asap di perkotaan yang menyebabkan pencemaran udara. Penggunaan cahaya buatan secara tepat mampu menurunkan tingkat polusi cahaya yang ada. Menurut Observatorium Boscha, salah satu cara paling efektif untuk meminimalkan polusi cahaya adalah dengan memasang tudung pada lampu-lampu di luar ruangan agar cahaya lampu tidak terhambur ke arah langit dan dapat jatuh ke bawah sehingga langsung menyinari permukaan tanah.

Pihak Boscha telah aktif mengupayakan gerakan membagikan tudung lampu secara gratis kepada masyarakat sekitar radius 200-300 meter dari observatorium yang dilakukan petama kali pada bulan Februari 2015. Selain dengan cara di atas, hal-hal sederhana seperti mematikan lampu saat meninggalkan ruangan dan memilih menggunakan lampu berintensitas (daya/watt) yang rendah, juga bisa dilakukan untuk meminimalisasi polusi cahaya.

Referensi:
http://jurnal.unpad.ac.id/jkip/article/view/11327/5713
http://repository.upi.edu/4167/4/S_FIS_0608958_Chapter1.pdf
http://www.mediaindonesia.com/news/read/135757/bumi-semakin-benderang-di-malam-hari-karena-polusi-cahaya/2017-12-09

Penulis: Nur Imtinan Nira Rahmadewi/ Akyunia Labiba/Bul
Editor: Ilham R/Bul
Ilus: Bagas/Bul