Jeremy_Dokumentasi PribadiPribadi

Jeremy Nata Pangestu: Inspirasi untuk Pemuda Indonesia

Sejak kecil ia sudah suka berorganisasi. Jeremy, seorang Kangmas Kota Batu punya mimpi memimpin bangsa.

Jeremy Nata Pangestu, laki-laki kelahiran Mojokerto, 9 Oktober 1999 ini mulai tertarik dengan organisasi sejak SMA. Bermula dari rasa ingin tahu tentang atmosfer dalam sebuah organisasi, ia mencoba mengikuti jejak ayahnya bergabung dengan KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Untuk bisa masuk kedalam KNPI, Jeremy harus mengikuti OKP (Organisasi Kepemudaan) lebih dahulu. Dalam OKP, ia menjabat sebagai sekretaris di tingkat kota. Laki-laki yang akrab dipanggil Rere ini mengaku sejak saat itulah semangat dan ketertarikannya dalam mengikuti organisasi semakin bertambah.

Predikat Kangmas

Dari OKP dan KNPI, Jeremy mulai melihat kesempatan untuk masuk ke dalam keanggotaan Kangmas Nimas Kota Batu. Ia mengaku terinspirasi dari kakaknya yang dulu juga berkesempatan masuk dalam keanggotaan Kangmas kota Batu tahun 2014. “Aku lihat di situ kakakku punya kesempatan di lingkup pemerintahan dan menurutku, itu adalah suatu hal yang menarik,” ungkapnya.

Tahap demi tahap ia lalui dalam ajang pemilihan Kangmas Nimas Kota Batu tahun 2017. Diantara seluruh finalis, Jeremy menjadi salah satu finalis termuda. Ia mengaku saat itu tidak berambisi untuk menang. Selama mengikuti pemilihan, Jeremy tak merasa gugup dan tegang sedikitpun. “Gak ada yang menegangkan sih menurut aku. Karena aku optimis bahwa aku bisa. Yang membuatku merasa tegang adalah saat penobatan,” tuturnya.

Di kalangan Kangmas Nimas, Jeremy juga menjadi Kangmas berprestasi. Selain itu, ternyata ia juga pernah ditunjuk sebagai perwakilan Kota Batu untuk mengikuti Duta Genre di tingkat propinsi. Jeremy berhasil mendapatkan penghargaan sebagai finalis dengan busana terfavorit.

Perjalanan berorganisasi

Jeremy menuturkan bahwa dengan mengikuti organisasi ia mendapat banyak relasi serta bertemu dengan banyak orang dengan karakter yang beragam. Dari sinilah ia bisa belajar menghadapi orang dengan karakter yang berbeda-beda. Menurutnya, pertemuan dengan banyak orang inilah yang melatih emosinya berkembang menjadi lebih baik. Bagi kebanyakan orang bertemu dengan orang baru yang memiliki karakter yang berbeda-beda adalah sebuah kesulitan tersendiri, namun hal itu tidak berlaku bagi Jeremy.

Sebuah kalimat yang menjadi motivasi dan pedomannya sehingga ia bisa melakukan semua ini adalah wejangan dari ayahnya, yang mengatakan bahwa dunia tidak akan mengalah, jadi manusialah yang harus mengalahkan dunia. “Itu yang jadi pegangan dan motivasiku untuk menghadapi orang-orang dengan beraneka macam karakter sampai sejauh ini.”

Sebagai seorang Kangmas, Jeremy mengaku mendapat banyak pengalaman berharga. Ia bisa berkunjung ke Indonesia bagian barat tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun, hanya bermodal promosi ia sudah bisa mendapat operasional dari usahanya. Selain itu, tuntutan seorang Kangmas adalah berwawasan luas yang mendorongnya untuk mencari informasi terkini mengenai berbagai hal. Tidak ada duka yang begitu berarti bagi Jeremy selama ia menjadi Kangmas, ia hanya merasa waktunya banyak tersita untuk ini.

Selain wejangan dari ayahnya, Jeremy juga mempunyai prinsip sendiri dalam hidupnya. “Aku harus bisa menjadi terang dan garam di dunia ini. Garam yang dapat mengubah rasa tapi tidak dapat diubah rasanya.” Ia juga punya prinsip selalu berusaha dengan kemampuan yang ia punya untuk kesejahteraan kota dan negerinya di mana pun dia dibuang. Menurutnya, menjadi pemimpin, harus dimulai dari diri sendiri.

Jeremy punya mimpi, memimpin bangsa yang kaya ini, bersama para pemuda Indonesia. Anak-anak muda yang benci dengan kebohongan, anak muda yang tidak radikal, dan pemuda-pemuda dengan pikiran yang terbuka dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada. Dia yakin, Tuhan mempunyai alasan menaruh kita di Indonesia.

Penulis: Septiana Hidayatus/ Fatimatuz Zahra/Bul
Editor: Aify Zulfa/ Bul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *