Goa tritis.Foto: ZahraFoto: Zahra/Bul

Goa Maria Tritis: Sebuah Perjalanan, Sebuah Cerita

 Tak hanya untuk beribadah, Goa Maria Tritis digunakan sebagai tempat mencari ketenangan.

Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal dengan wisata alamnya yang beraneka ragam. Gunungkidul menawarkan pesona yang luar biasa indah. Salah satunya adalah Goa Maria Tritis, di Dusun Bulu, Paliyan. Akses menuju goa ini terbilang cukup mudah, karena ada papan penunjuk arah menuju lokasi serta papan nama yang tepat berada di lokasi yang dapat dilihat radius 300 meter dari objek wisata.

Berbicara sejarah

Menurut penuturan masyarakat yang juga merupakan pemandu wisata, Goa Maria ini dulunya bernama Goa Tritis yang pernah dijadikan sebagai tempat penyadranan penganut kepercayaan kejawen, kemudian pada tahun 1982 saat sekolah-sekolah dasar mulai menunjukkan geliat perkembangannya, goa ini diusulkan oleh salah satu siswa sekolah dasar katolik (kini bernama SD Kanisius) untuk menggantikan tugas kelompok membuat goa dari bahan koran bekas. Kemudian paroki setempat mulai bergerak mengurus perizinan dari pemegang otorias daerah (RT, lurah, camat, dst) untuk menjadikan goa tersebut sebagai salah satu tempat peribadatan umat katolik setempat.

Untuk penamaannya yaitu tritis, berasal dari air yang menetes dari stalaktit. Tetesan air itu kira-kira dapat dibunyikan tes tes tes tes” yang dalam Bahasa Jawa dapat pula disebut tretesing banyu. Hal itu yang mendasari penamaan goa ini.

Tiap sudut goa

Kesan pertama yang akan tertangkap dari lokasi ini adalah tenang, pohon-pohon besar di halaman rumah (yang sepertinya adalah rumah warga) melambaikan daun-daunnya seolah mengatakan selamat datang. Belum selesai menghayati ketenangan dari bawah pepohonan rindang, sambutan selanjutnya yang tak kalah memukau adalah keramahan warganya, seperti yang sudah kita tahu bersama bahwa warga Yogyakarta secara umum memang dikenal begitu ramah, pada siapapun.

Selanjutnya mata kita akan disuguhi tantangan jalan terjal berbatu yang lumayan menanjak dan terlihat begitu jauh dari lokasi dalam goa. Ketika memulai perjalanan menuju lokasi goa, suasana kudus, kedamaian, dan ketenangan sudah mulai terasa. Ditambah dengan cerita-cerita yang diselipkan oleh pemandu dalam perjalanan, salah satunya adalah cerita tentang jalan salib, yaitu sebuah jalan tanjakan dengan empat belas salib pemberhentian sebagai pengingat atas pengorbanan Yesus saat mulai terjatuh dari anak tangga setelah penyaliban hingga wafat pada tangga ke-14.

Sesampainya di Goa Maria Tritis, eksotisme stalaktit dan stalagmit yang berpadu dalam sebuah ruangan yang mirip dengan rongga mulut langsung menyambut setiap mata yang memandang. Terdapat kursi berjajar yang tertata rapi, layaknya gereja pada umumnya. Ada altar yang menjadi pusat goa, hal ini disengaja karena memang goa ini adalah tempat peribadatan umat katolik daerah setempat dan juga menjadi tuan rumah pada peribadatan di hari-hari besar seperti paskah, natal, bulan maria, dan lain-lain.

Berjalan menuju sudut goa lain, kami menemukan patung bunda maria yang berdiri tegak sekitar dua meter berwarna hitam, dikelilingi dengan bunga-bunga yang tertata bersih dan rapi. Sembari mata kita dimanjakan dengan paduan ciptaan alam dan kudusnya suasana rumah ibadah, telinga kita juga seakan ikut berdecak kagum atas iringan bunyi tetesan air di berbagai sudut goa. Air yang jatuh itu ditampung dalam wadah yang terbuat dari semen, terlihat begitu jernih dan terasa sangat sejuk untuk sekedar diusapkan pada kulit ataupun untuk diminum.

Sumber ketenangan

Uniknya, goa ini tidak hanya dijadikan sebagi tempat ibadah maupun tempat mencari ketenangan oleh umat Katolik saja tetapi oleh berbagai pemeluk agama dan aliran-aliran kepercayaan. “Saya pernah mbak ngantar pak kyai dari Kudus jam satu malam ke sini untuk berdoa, orang budha juga pernah, orang hindu yang pakai dupa juga pernah, orang-orang kejawen juga beberapa kali kemari,” tutur pemandu.

Aspek lain yang membuat keindahan goa ini menjadi paripurna adalah ketulusan dedikasi dari masyarakatnya. Tak sepeserpun pungutan biaya dikenakan pada pengunjung, baik untuk parkir, retribusi, pemandu atau hal-hal komersial lain yang semestinya menjadi ladang subur untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Namun, “bekerja untuk Tuhan” sudah merupakan imbalan luar biasa bagi mereka.

Penulis: Fatimatuz Zahra/Bul
Editor: Hadafi Farisa/Bul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *