"Jemari Beku di Sosial Media"Aida/Bul

Jari-Jari Beku di Ruang Obrolan

Diskusi kekinian ala generasi millenial memang terkesan sangat efektif untuk menciptakan proses bertukar pendapat yang praktis. Hanya dengan berbekalkan akses internet dan permainan jari di dalam sebuah ruang obrolan, para generasi millenial dapat memecahkan permasalahan tanpa harus bertatap muka secara langsung. Namun, seiring dengan tradisi kekinian tersebut, hadir sebuah istilah yang dinilai cukup menjengkelkan bagi beberapa orang. Siapa yang tidak mengenal istilah silent readers? Sebelumnya istilah ini sering dikaitkan dengan para pembaca blog. Akan tetapi, mereka sekadar membaca tanpa meninggalkan jejak berupa komentar. Hampir serupa dengan definisi tersebut, silent reader dalam sebuah grup obrolan adalah seseorang yang sekadar membaca tanpa memberi respons pada orang lain di grup obrolan.

Menyikapi kehadiran beberapa silent readers, ada beberapa orang yang secara langsung menegur dan meminta mereka beropini. Meski begitu, ada pula beberapa orang hanya membiarkan kepasifan dari silent readers terjadi begitu saja. Kehadiran silent readers dinilai oleh sebagian orang dapat membuat tujuan dari dibuatnya sebuah grup obrolan menjadi tidak tercapai sepenuhnya. Perasaan diabaikan merupakan respons yang dominan diterima oleh para anggota aktif ketika anggota lain memilih diam.

Beberapa orang yang merasa nyaman menyandang status sebagai silent reader memiliki berbagai alasan atas tindakan mereka tersebut. Alasan itu di antaranya adalah terdapat kesamaan pendapat dan telah terlebih dahulu disampaikan oleh anggota yang lain. Selanjutnya, seorang pengamat adalah kedudukan yang dianggap baik oleh silent readers untuk membangun suasana yang efektif serta kondusif dalam sebuah diskusi. Diam dan mengamati adalah tindakan yang dinilai tepat untuk menjadikan diskusi lebih teratur dibandingkan ketika seluruh anggota grup aktif beropini. Ada pula mereka yang beralasan takut memberikan opini mengingat adanya kemungkinan disanggah ataupun diremehkan oleh para anggota grup tersebut. Namun, jika mereka lebih memilih diam dan tidak menanggapi hal-hal yang diobrolkan di dalam grup itu, mengapa silent readers masih bertahan menjadi anggota?

Dikutip dari CNN Indonesia, Dosen Psikologi Siber dan Sosial di Nottingham Trent University, Sarah Buglass, menjelaskan bahwa para silent reader mengalami suatu tekanan fear of missing out atau fomo. Istilah tersebut merupakan sebuah perasaan takut ditinggalkan, dilupakan dan tidak mengetahui informasi yang beredar di antara temannya. Bergabung di sebuah grup obrolan dapat diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Ketika seseorang berada di dalam grup, hal tersebut dapat menimbulkan rasa memiliki grup itu dan memunculkan suatu dorongan positif baginya karena merasa dirinya berharga. Namun, berada di dalam grup juga bisa menggoyahkan kepercayaan diri, meningkatkan kecemasan sosial bahkan memicu para anggota kecanduan media sosial. Mereka yang meninggalkan grup kadang berkata “Saya tidak ingin terlibat”, tetapi ucapan tersebut berbeda dari kenyataannya. Mereka tetap bergabung di grup untuk berjejaring. Selain itu, memutuskan hubungan dari grup digital dapat pula menimbulkan risiko turut memutus hubungan dari pertemanan dan semua interaksi ke depannya.

Kehadiran silent readers merupakan hal yang tidak bisa dinilai baik ataupun buruk begitu saja. Semua anggota grup memiliki kebebasan dalam memilih untuk menjadi aktif atau pasif. Penghargaan terhadap pendapat orang lain dapat ditunjukkan melalui berbagai cara lain selain dengan merespons pesan mereka. Ketika menjadi anggota grup obrolan seharusnya kita mengetahui cara menempatkan diri. Anggota grup yang bijak pasti mengetahui waktu yang tepat bagi mereka untuk menjadi aktif atau pasif.

Penulis: Tri Meilani Ameliya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *