Salah Jurusan

Setiap mahasiswa menginginkan berkuliah di jurusan yang tepat. Namun ternyata tak sedikit dari mereka yang mengalami salah jurusan. Lalu bagaimana cara untuk menanganinya?

Permasalahan yang dialami oleh mahasiswa baru (maba) tidaklah sedikit. Dimulai dari penyesuaian diri terhadap lingkungan baru hingga masalah yang kompleks seperti kesalahan dalam memilih jurusan kuliah harus mereka arungi. Berikut sedikit paparan mengenai permasalahan salah jurusan.

Pentingnya pemilihan jurusan

Tidak sedikit mahasiswa yang pernah merasakan salah jurusan. Fenomena ini mulai dirasakan ketika bertatap langsung dengan dosen pengampu atau di saat mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Banyak dari mereka yang merasa bahwa jurusannya tidaklah sesuai dengan passion mereka. Bahkan, ada juga yang beralasan terpaksa memilih jurusan karena adanya desakan orangtua. Selain itu, kebingungan menentukan pilihan jurusan alternatif saat seleksi masuk perguruan tinggi juga menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Terdapat beberapa cara mahasiswa dalam menyikapi permasalahan ini. Pertama, mahasiswa dengan keluarga yang mendukung keputusan meninggalkan kuliahnya (mahasiswa, -red) tentu akan berani untuk mengundurkan secara langsung. Namun, terdapat pula mahasiswa yang memilih berhenti secara diam-diam dengan tidak mengikuti kegiatan perkuliahan secara berturut-turut dan akhirnya berujung pada drop out. Selain itu ada juga yang memutuskan tetap berkuliah sembari mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk perguruan tinggi pada tahun berikutnya.

Kerugian yang ditimbulkan dari salah jurusan

Kerugian-kerugian yang akan dirasakan ketika mengalami salah jurusan antara lain.

  1. Kehilangan waktu satu tahun untuk mempelajari hal baru yang disukai selama dua semester.
  2. Pengeluaran biaya yang mungkin sia-sia jika perkuliahan selama satu tahun tidak dijalani dengan minat serius.
  3. Bagi penerima beasiswa, ini jelas akan merugikan diri sendiri maupun instansi pemberi beasiswa. Ada kemungkinan instansi tersebut akan mencabut beasiswa atau memberikan denda kepada sang mahasiswa.

Namun, waktu satu tahun tersebut akan tidak sia-sia jika dapat memanfaatkannya dengan maksimal, seperti mencari teman-teman baru. Selain itu, bisa melakukan evaluasi cara belajar yang baik, serta calon jurusan yang tepat untuk kita. Bagi mahasiswa yang mengalami salah jurusan, tidak ada salahnya jika memahami materi dari dosen dengan semaksimal mungkin. Sekalipun ilmu tersebut kurang berguna atau tidak ada keterikatan dengan bakal jurusan yang akan dipilih. Setidaknya kita menjadi punya pengetahuan yang semakin luas dan menjadi sebuah wawasan yang berharga.

Memilih jurusan yang sesuai

Jurusan yang sesuai sebenarnya bukanlah yang selalu diidam-idamkan. Karena sejatinya perasaan tersebut hanya bersifat sesaat karena adanya pengaruh hal-hal tertentu, semisal mengikuti jejak keluarga atau teman-teman. Faktor lain seperti dorongan yang muncul setelah melihat seseorang sukses dengan memilih jurusan tersebut atau karena saingan peminat jurusan yang relatif sedikit juga memungkinkan pemilihan jurusan yang tak sesuai.

Jurusan yang sesuai adalah jurusan yang memiliki kaitan penting atau rasa keinginan mendasar dari dalam diri mahasiswa itu sendiri, dan apapun risikonya tetap akan diperjuangkan. Dalam memilih jurusan tersebut harus mempertimbangkan beberapa hal, seperti persetujuan dari keluarga, biaya, dan prospek kerja. Namun, keluarga tidak boleh menentukan 100% pilihanmu karena pada dasarnya kitalah yang akan menjalani proses perkuliahan tersebut.

“Ikutilah kata hati dalam menentukan jurusanmu, jangan lupa pertahankan pilihanmu karena pada dasarnya memepertahankan lebih sulit daripada meraih.”

Penulis: Deva Tri Wahyuni/ Anisa Sawu D. A
Editor: Keval Divanza Hendri