Berlabuh pada Tonggak Kebenaran dalam Penutupan Festival Film Dokumenter

Jadi, apakah makna tonggak kebenaran itu? Akhirnya pertanyaan yang menjadi tantangan tema Festival Film Dokumenter (FFD) 2017, “Post Truth”, ini terjawab. Festival film dokumenter yang dilakukan selama seminggu ini berhasil melahirkan pembuat film terbaik Indonesia dan internasional. Berlokasi di Societet Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (15/12), pemenang lomba film dokumenter dibacakan.

Usai sambutan dari Direktur Institute Francais Indonesia-Lembaga Indonesia Prancis (IFI-LIP) Yogyakarta, Sarah Kamara, MC melanjutkan pembacaan nominasi dan penerima award, dipandu oleh Henrikuspria. Dalam penjelasan Henrikuspria selaku Kepala Divisi Lomba, ia mengungkapkan tahun ini FFD menerima 43 film kategori dokumenter panjang, 85 film kategori dokumenter pendek, dan 24 film kategori dokumenter pelajar. Dari banyaknya film dokumenter yang diterima, hanya beberapa judul yang masuk dalam nominasi.

Penghargaan pertama dibacakan untuk kategori film dokumenter pelajar yang jatuh pada film berjudul “Hening Dalam Riuh” karya Qurrata A’yuni dan Geubri Al-Varez. Selanjutnya film berjudul “Ojek Lusi” karya Winner Wijaya berhasil mengungguli karya lain dalam kategori film dokumenter pendek. Film berjudul “I’ve Got the Blues” karya Angie Chen juga berhasil mendapat penghargaan untuk kategori film dokumenter panjang. Selain kategori awarding di atas, terdapat special mention features-length documentary yang jatuh pada film berjudul “Eu Sunt Hercule (I Am Hercules)” karya Marius Iacob.

Menelusuri makna tonggak kebenaran, bisa ditemukan dalam film-film yang ada di festival ini. Salah satu penerima penghargaan, Qurrata A’yuni menjelaskan tonggak kebenaran yang dibawa dalam film karyanya. “Kebenarannya itu, yaitu tidak adanya sekolah berkebutuhan khusus di daerah kami. Jadi, itu merupakan kebenaran yang kami pos-kan atau kami kirimkan kemari agar semua masyarakat Indonesia tahu keadaan di daerah kami,” ungkapnya.

Selain kebenaran pada film dokumenter pelajar karya Qurrata A’yuni, tim film dokumenter pendek, Winner Wijaya juga mengungkapkan makna tonggak kebenaran dalam filmnya. Film berjudul “Ojek Lusi” menceritakan masyarakat sekitar Lumpur Lapindo yang dahulu menjadi korban kini telah move on dari peristiwa itu. “Kalau misalkan di media mungkin Lumpur Sidoarjo ini malah sudah dilupakan. Di sini kami pengen ngangkat lagi, mengingatkan mereka (publik,-red) kalau gini lho mereka sekarang dan mereka sebagai tukang ojek. Mereka juga kebanyakan menganggap sisi sedih-sedihnya dan kami justru pengen ngajak penonton buat jelasin kalau ternyata mereka sudah sampai di titik mereka enggak sedih lagi. Itu yang kami tunjukin,” tuturnya.

Tak ada kemenangan yang hakiki jika tak dirayakan dengan pesta. Acara Penutupan Festival Film Dokumenter 2017 ini ditutup dengan disco party yang menampilkan electronic disco music.

Penulis: Desi Yunikaputri
Editor: Hadafi Farisa/Bul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here