Porsenigama 2017.Foto: Fikri/BuFoto: Fikri/Bul

Porsenigama: Menghapus Stereotip Tawuran Antarsuporter

Porsenigama tahun ini berjalan lancar. Tawuran antarsuporter berhasil dihindari.

Setelah lebih dari sebulan memeriahkan UGM dengan hiruk pikuk pertandingan olahraga dan seni, kemarin malam (3/12) Porsenigama (Pekan Olahraga dan Seni Gadjah Mada) resmi berakhir. Tahun ini, Porsenigama mengangkat tema Sayembara Menyatukan Gadjah Mada dalam Seni dan Olahraga. Dengan tema itu, diharapkan mampu memberikan warna baru dalam sejarah penyelenggaraan pesta olahraga dan seni UGM, salah satunya adalah hadirnya roadshow ke fakultas-fakultas Tak hanya itu, terdapat pula beberapa cabang lomba baru seperti panahan dan nasyid.

Menjadi salah satu event besar di UGM, tentu tak lepas dari berbagai kendala yang dihadapi. Kendala terbesar adalah masalah komunikasi, “Porsenigama itu terdiri dari panitia cabang dan panitia pusat, sehingga miskomunikasi itu sering terjadi. Saya punya ide untuk selanjutnya, agar teman-teman PJ (penanggungjawab) cabang olahraga, itu juga dijadikan bagian dari panitia pusat karena kemarin kami dari pusat sudah siap, tapi banyak dari cabang yang belum siap,” ujar Rezki Alfa Ridho (Sekolah Vokasi ’15), Ketua Porsenigama 2017. Terlepas dari masalah yang ada, tahun ini, stereotip bahwa tawuran antarsuporter akan selalu terjadi di kegiatan ini berhasil dihilangkan.

Pakta integritas yang sudah ditandatangani oleh PJ fakultas, koor suporter, dekan fakultas, lalu disetujui oleh wakil rektor, menjadi landasan kuat untuk menghindari terjadinya tawuran. Di dalam Pakta Integritas tersebut, dijelaskan tanggung jawab pihak-pihak yang menangani masalah. Seperti misalnya kasus miras, kekerasan dan sejenisnya maka pihak yang menangani adalah PK4L (Pusat Keamanan, Keselamatan, Kesehatan Kerja), sedangkan  untuk urusan akademik yang menangani adalah dekan fakultas berdasarkan SK rektor tentang tata perilaku mahasiswa. Dari pihak panitia sendiri juga memperketat keamanan serta memasang jaring untuk menghindari tawuran.

Rezki mengungkapkan jika Porsenigama 2017 berjalan lancar. ”Selain tekanan dari luar, tekanan dari dalam itu juga kuat dan alhamdulillah, berkat itu semua, kegiatan Porsenigama tahun ini dapat berjalan lancar. Dan harapannya untuk ke depannya, masalah-masalah yang terjadi tahun ini tidak terulang lagi, juga prestasi tahun ini dapat ditingkatkan supaya lebih baik lagi,” ujar Rezki.

Ditutup dengan konser yang menghadirkan NDX aka familia dan Ipang sebagai guest star utama, closing ceremony berhasil meninggalkan kesan tersendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Zuhdi Hidayat, (Sekolah Vokasi’16), “Porsenigama tahun ini seru, dan dalam sehari cabang olahraga yang dipertandingkan variatif, tapi tempat closing-nya kurang pas dan di saat minggu tenang. Jadi banyak yang pulang kampung.”

Pendapat yang hampir sama datang dari Bagus Rahardian (FEB ’17), pemenang medali emas untuk cabang olahraga renang 50 m dada dan 50 m bebas, “Seru sih, menurutku panitianya kurang siap tapi secara keseluruhan sudah rame acaranya. Tahun depan ingin ikut lagi.” Meskipun terdapat beberapa kekurangan, wajah baru Porsenigama tahun ini begitu apik dan sangat berkesan bagi civitas kampus tentunya.

Penulis: Lestari, Zahri Firdaus/Bul
Editor: Hadafi Farisa R/Bul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *