Marlina si pembunuh dalam empat babak amiratthemovies.com

Marlina, Perempuan Paling Berdosa Tahun Ini

Beberapa saat setelah menyaksikan tingkah Marlina yang cuek di layar lebar, dada saya penuh kekhawatiran. Saya kira suatu hari nanti, sebelum bercinta, perlu memastikan di kamar itu tidak ada golok. Daripada khawatir kepala lepas saat puncak-puncaknya.

Marlina memang mengejutkan. Selama saya mengikuti cerpen-cerpennya Agus Noor, tidak sampai segitunya laki-laki bangsat mendapatkan balasan dari perempuan. Sebelum Marlina, salah satu cerita dari Agus Noor yang paling bikin saya bergidik. Tentang laki-laki yang awalnya hanya boleh melihat perempuannya memotong apel sambil telanjang. Potongan-potongan apel itu diletakkan di badannya yang telentang, lalu si laki-laki boleh menyeruputnya, seperti kisah-kisah klise lainnya. Tetapi laki-laki itu gagal bercinta. Ia akhirnya pulang dengan jari-jari yang terpotong.

Tentu saja penuturan saya tentang kisah itu tak membuat Anda bergidik. Sebab kondisi jiwa saya tidak sama saat Agus Noor menulis kisah itu.

Dari kisah-kisah Agus Noor saya malah sempat membuat cerita serupa. Meskipun judulnya Cerita Rasa Cinta, saya mengakhiri cerita itu dengan adegan perempuan memotong-motong badan lelaki yang baru saja bersetubuh dengannya. Saat menulis cerita itu, saya berharap bisa lebih bergidik lagi. Sebab saya membuat si tokoh laki-laki dipotong-potong badannya, tidak hanya jarinya. Setelah cerita itu selesai ditulis, dan saya baca ulang, saya bergumam, Yah, anjing. Biasa aja.

Di saat memori cerita-cerita semacam itu mulai memudar, lalu Marlina datang. Ia berdiri di hadapan saya dengan muka perempuan seutuhnya. Sebuah muka yang tidak bisa diterjemahkan. Sebidang muka yang hanya bisa dipahami oleh perempuan lainnya. Sebentuk muka yang pori-porinya bersuara pada saya, “kau tidak akan tahu apa yang akan dilakukan perempuan ketika berada di situasi pelik.”

Saya masih bisa menebak-nebak pilihan yang akan diambil seorang perempuan yang dipaksa menikah muda. Kemungkinan ia melampiaskannya di dapur dengan mencincang mata ikan. Tetapi untuk seorang perempuan yang diperkosa, saya tidak ada bayangan sama sekali. Apalagi dengan kondisi lingkungan kita yang tidak ramah bagi para korban pemerkosaan. Kondisi psikis masing-masing korban pun berbeda. Ada yang mau bercerita, ada yang tidak. Ada yang bercerita karena butuh perlindungan, ada juga yang karena ingin balas dendam. Semakin sulit ditebak. Mungkin W.S. Rendra masih kurang tepat menyebut perempuan bagai belut. Sebab belut masih terlihat gerak-geriknya. Mungkin lebih tepatnya mereka itu makhluk gaib.

Sejujurnya saya lebih suka si bangsat Markus itu juga mati keracunan. Ketimbang beberapa detik detak jantung berhenti melihat golok di punggung Marlina. Meskipun saya tidak tahu mana yang lebih sakit, mati keracunan atau leher putus. Saya juga belum memastikan, apakah kepala Markus sesaat setelah lepas dari leher masih megap-megap menghirup napas sisa? Seperti kambing yang baru saja digorok lehernya. Seperti orang yang mati keracunan.

Meskipun saya tidak suka dengan keputusan yang diambil Marlina, saya tetap perlu berterima kasih. Marlina telah membuat si bangsat Markus terlepas secepat kilat dari bebannya. Markus terbebani di dunia ini. Carut-marut di wajahnya menampakkan kegetiran hidup.

Marlina juga menunjukkan pada Nusantara bahwa perempuan tak harus menjadi Jawa (plis people, ini bukan rasis, jangan terlalu cepat bilang rasis, ntar kebiasaan). Marlina tidak terlalu peduli pada kepatutan yang dipaksakan selama ini. Kepatutan yang oleh Orde Baru dijadikan alasan untuk membuat manusia Indonesia berbudaya. Kepatutan ala Jawa yang dipaksakan untuk menjadi tuntunan di berbagai daerah. Padahal daerah-daerah itu tidak mengalami proses sejarah yang sama dengan Jawa. Akibatnya, selama masa-masa itu dan masih dirasakan hingga sekarang, perempuan tidak punya daya melawan saat momen pelik. Marlina menjebol kekerasan budaya yang dijalankan oleh para budayawan munafik.

Marlina dengan entengnya menenteng-nenteng kepala Markus di jalan aspal. Membawa kepala manusia saja bukanlah sesuatu yang patut. Apalagi yang membawa seorang perempuan. Entah pesan apa yang ingin disampaikan Marlina pada saya dengan bertingkah seperti itu. Yang jelas, di mata saya, ia seperti Drupadi. Perempuan super power yang menikahi empat kesatria Pandawa. Perempuan yang poliandri. Marlina seperti membawa kembali sosok Drupadi yang sebenarnya ke dunia ini, setelah perempuan api itu tidak dibilang poliandri oleh para leluhur Jawa. Sebab para leluhur itu menganggap tidak pantas seorang perempuan menikah dengan banyak laki-laki.

Lalu apa yang membuat Marlina berdosa? Ia telah membuat saya sempat berpikir untuk mengikat saja tangan perempuan saat bercinta. Bukankah itu sangatlah jauh dari cita-cita fehiminis, wahai Marlina?

Penulis: Dandy IM
Editor: Ifan Afiansa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *