Festival Film DokumenterFoto: Bagus/Bul

“Post Truth”: Menenemukan Kebenaran dalam Festival Film Dokumenter

Festival Film Dokumenter (FFD) merupakan program utama yang dibuat oleh Forum Film Dokumenter sejak tahun 2002. FFD ke-16 tahun ini mengusung tema “Post Truth”. Tujuan diangkatnya tema ini untuk menanggapi kondisi kebenaran zaman sekarang, karena film dokumenter juga berperan dalam penyampaian pesan untuk membangun persepsi masyarakat. “Ketika semua orang mampu memiliki medianya sendiri, ada perubahan signifikan dalam nilai-nilai kebenaran. Saat ini, kebenaran bukan lagi tentang apa yang terjadi di lapangan, melainkan segala yang sesuai dengan persepsi masing-masing,” ungkap Sazkia Noor Anggraini, Manager FFD saat ditanya mengenai alasan tercetusnya tema tersebut.

Dalam konferensi pers, Sazkia menjelaskan FFD akan dilaksanakan pada tanggal 9-15 Desember 2017 di tiga tempat yaitu Taman Budaya Yogyakarta, IFI-LIP (Institut Francais Indonesia-Lembaga Indonesia Prancis) Yogyakarta, dan Villa Sambal. Pada tahun ini, agenda FFD dibagi ke dalam empat agenda utama yakni  Kompetisi, Pemutaran Utama, Parsial, dan Lokakarya Film Kritik.

Ada yang berbeda pada penyelenggaraan FFD dua tahun belakangan. Selama 15 tahun sejak diselenggarakan pertama kali pada tahun 2002, Forum Film Dokumenter selalu menerima film-film Indonesia, namun dua tahun ini FFD memutuskan untuk membuat International Documenter. Jadi film dokumenter panjang dari Indonesia akan berkompetisi dengan film-film dokumenter panjang dari seluruh dunia. Sementara itu, film dokumenter pendek diwujudkan dengan kompetisi tingkat nasional dan perdana film 5 Desa, 5 Pulau.

Film 5 Desa, 5 Pulau merupakan proyek film kerjasama antara Indonesia dengan Jerman. Dalam prosesnya, lima pembuat film Indonesia dikirim ke lima desa di Jerman sedangkan lima pembuat film Jerman dikirim ke lima pulau di Indonesia untuk melihat kehidupan masyarakat lokal dari dekat.

Bernuansa lovely, konferensi pers yang diadakan di sebuah kafe IFI-LIP ini juga menghadirkan Wahyu Utami, sutradara film “The Unseen Words”. Judul film tersebut terinspirasi dari huruf Braille yang digunakan oleh kaum tunanetra. Sang sutradara merasakan bahwa terkadang apa yang mereka baca tidak terbaca oleh kita, begitu pun sebaliknya. Film ini menceritakan tentang proses pementasan ketoprak oleh kaum tunanetra. Meski awalnya ragu, Wahyu Utami memantapkan diri melanjutkan proses pembuatan film setelah diminta oleh pihak kelompok ketoprak Distra Budaya. Film “The Unseen Words” diharapkan dapat membuka mata khalayak bahwa kaum tunanetra tidak hanya sekedar tukang pijat. Akan tetapi mereka juga bisa berkata, salah satunya melalui pementasan ketoprak.

Ketika ditanya mengenai alasan pelestarian film dokumenter, Sazkia dan Wahyu menjelaskan bahwa film dokumenter tidak hanya sekedar untuk hiburan, melainkan juga sebagai kurikulum edukasi.

Penulis : Desi Yunikaputri
Penyunting: Aify Zulfa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *