Obed.Foto: Fikri/BulFoto: Fikri/Bul

Obed Kresna: Pembaruan Bersama-sama

Obed hadir dengan gagasan baru. Ia menawarkan pembaruan sistem dan kultur untuk BEM KM.

Obed Kresna Widya Pratistha, disapa Obed, lahir di Gunungkidul, 24 Mei 1996. Ia merupakan mahasiswa Departemen Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan 2014. Obed aktif di organisasi kampus. Ia pernah menjadi Deputi Menteri Korps Mahasiswa Politik dan Pemerintahan, menteri internal pada tahun pertama, dan di tahun kedua menjadi presiden. Obed juga peraih juara I lomba essai tingkat Nasional Himapol Indonesia tahun 2016. Ia peraih menerima Platinum Award World Youth Meeting, Nagoya, Jepang tahun 2013. Ingin mengenal Obed lebih dalam? Mari simak wawancara eksklusif Bul dengan dia.

Mengapa Obed mencalonkan diri menjadi presma?

Saya menyadari orang sudah jenuh terhadap sistem keorganisasian seperti ini (sistem di BEM, -red). Pertama, pendekatan yang dilakukan oleh orang-orang kepengurusan organisasi selama ini terlalu formal sehingga membuat capek, malas, kenapa harus ikut ini, ikut rapat ini, dan sebagainya. Kedua, orang sekarang lebih memilih orang-orang yang dekat dengan mereka dan minat mereka saat mengikuti organisasi. Jadi, harusnya ada pembaruan di situ. Pembaruan ini dalam bentuk sistem dan kultural. Pendekatan organisasi itu harus diubah. Kita tidak bisa mengelak BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) selama ini dikuasai oleh kelompok gagasan yang sama sehingga kebosanan itu tidak terelakan. Jadi, saya ingin mengajak teman-teman yang sudah jenuh, sudah bosan, dan apatis terhadap organisasi universitas.

Bagaimana cara mengajak mahasiswa yang memiliki gagasan berbeda-beda untuk mendukung Anda nantinya?

Saya mencoba menerapkan kampanye yang asyik. Kami mengemasnya dengan lebih fun, lebih membuat orang yang tertarik. Kami mencoba menghindari cara-cara formal, begitu serius, begitu politis yang selama ini muncul pada pemilwa (pemilihan mahasiswa). Kami ingin menghadirkan antusias orang yang “oh ternyata ada calon yang beda dari yang lain”. Nah, antusias itu yang ingin coba kami tarik. Ketika antusias itu ada, maka akan menjadi kendaraan kita untuk mengubah hal yang kusebutkan tadi dengan kampanye yang kreatif, pendekatan yang menyenangkan, dengan menjauhi cara formal dan serius walaupun substansinya tetap harus ada.

Apa visi dan misi Obed sebagai capresma ?

Visi saya adalah “UGM Baru”. Kami ingin mengembalikan KM (Keluarga Mahasiswa) UGM sebagai ruang dialektika mahasiswa yang demokratis, inklusif, dan bersahabat. Kami harus mengakui bahwa BEM selama ini tidak demokratis. Sebagai contohnya adalah saat pelaksanaan aksi tiga tahun Jokowi, saya sebagai mahasiswa yang kebetulan kuliah di Fisipol tidak dilibatkan dalam pengambilan sikap tersebut. Saya tidak melihat ada diskusi public yang dilakukan oleh BEM di fakultas saya untuk menjaring aspirasi terkait itu. BEM juga dirasa tidak inklusif. Saat ada seseorang memaparkan gagasan yang berbeda (mainstream dengan gagasan BEM KM, -red), apakah dapat diterima? Menurut saya tidak terlalu. BEM pun dirasa tidak bersahabat. Pendekatan yang menurut saya terlalu kaku dan formal serta pelaksanaan event-event dalam bentuk program tidak cukup mampu menghubungkan BEM dengan mahasiswa. Saya mengajak kembali mahasiswa untuk mendekatkan BEM KM dengan banyak orang, “connecting the people“.

Misi saya yang pertama adalah pembaruan atau reformulasi sistem. Reformulasi dilakukan dengan cara menempatkan suara organisasi fakultas itu setara. Jika KM UGM ingin mengeluarkan statement politik tertentu, maka harus dilandasi kesepakatan fakultas. Jika ada fakultas yang tidak setuju, artinya perlu mengambil sikap atas nama fakultas-fakultas yang setuju, bukan atas nama KM.

Kedua, menjadikan hubungan tersebut sinergis. Sebelum kita berbicara tentang isu-isu nasional, sistem harus clear. Begitu pula hubungan antara fakultas dan organisasi tingkat universitas harus clear.

Ketiga, jika dua hal tersebut sudah berjalan, dapat dilanjutkan tentang akomodasi terhadap ekspresi-ekspresi para mahasiswa, juga elemen mahasiswa lainnya.

Apakah urgensi Obed sehingga reformulasi sistem itu perlu?

Maksudnya begini, ketika kita berbicara mengenai pengambilan sikap yang monopolistik, yang tidak melibatkan fakultas, berarti ada sistem komunikasi yang tidak terjalin baik antara BEM KM dengan organisasi di tingkat fakultas. Makanya reformulasi seperti apa? Ya itu berarti kita harus menempatkan suara organisasi fakultas itu setara. Ketika KM UGM kemudian ingin mengeluarkan sebuah statement politik tertentu, itu harus berbasis kesepakatan dari setiap fakultas. Fakultas harus dilibatkan secara penuh di situ. Kalau kemudian ada fakultas yang tidak setuju, berarti kita mengeluarkan sikap itu bukan atas nama KM, tapi atas nama fakultas-fakultas yang setuju. Dan kita harus mengatakan ada fakultas-fakultas yang tidak setuju. Sistemnya harus diubah.

Apa yang Obed maksud hubungan yang senergis (pada misi kedua)?

Selama ini kan ada dua tubuh dalam KM yaitu BEM dan senat. BEM ini seakan-akan dia berdiri sendiri, tapi mengklaim dirinya adalah representasi fakultas dan mahasiswa UGM secara keseluruhan. Tapi (kenyataannya) dia hanya organ tersendiri. Sedangkan senat ini agak wagu. Dia ini berisi partai dan juga berisi fakultas. Dua hal yang punya basis yang berbeda tapi mereka disatukan di satu lembaga yang sama.

Kami ajukan gagasan baru. Ada lembaga eksekutif dan lembaga legislatif. Lembaga eksekutif terdiri dari 18 fakultas plus 1 vokasi dan satu bidang kesekjenan. Sekjen bertugas mengkoordinasikan fakultas/vokasi dan menyampaikan sikap mereka terhadap suatu isu. Setiap fakultas/vokasi memiliki wakil untuk terlibat di sini. Dia bukan ketua lembaga, dia khusus mewakilkan untuk bergabung di lembaga eksekutif tingkat universitas. Apa yang dilakukan oleh lembaga eksekutif ini merupakan suara dari mahasiswa tingkat fakultas. Idealnya seperti itu. Sementara, lembaga legislatif isinya merupakan orang-orang dari partai yang memiliki ideologi masing-masing sebagai penyeimbangnya. Sehingga nantinya bisa tercipta check and balance.

Dalam pemilihan ini, seberapa yakin Obed akan terpilih?

Saya yakin saat mencalonkan diri, namun saya keluar dari masalah yakin atau tidak yakin untuk menang. Pertama, saya membawa tren baru dalam berpolitik. Kedua, saya ingin membawa gagasan ini dan ingin mengajak teman-teman untuk berpikir ulang secara lebih massif tentang gagasan ini. Selama ini gagasan ini berhenti di kongres. Jadi, terlepas dari menang atau kalah saya tidak peduli, yang penting dua hal itu bisa saya bawa.

Apa yang membuat mahasiswa UGM harus memilih Obed ?

Saya berharap menjadi pemicu agar mahasiswa UGM mulai tertarik lagi dan antusias dengan dunia politik di kampus. Saya juga ingin mahasiswa mulai menyadari bahwa banyak hal yang perlu dikritisi di sistem KM ini. Tapi kalau kita berbicara satu quotes.”Kita harus melakukan pembaruan bersama-sama”. Pembaruan itu tidak bisa dilakukan oleh satu orang, oleh satu capresma aja, tapi dilakukan secara bersama-sama, secara gotong royong.

Kalau dilihat dari calon-calon lainnya, seberapa yakin Obed itu bisa terpilih? Semua orang harus yakin bahwa dia akan menang. Kalau saya tidak yakin, saya tidak akan maju. Saya sangat yakin menang, begitu. Tapi pemikiran saya terlepas dari menang atau tidak.

Apa yang akan dilakukan Obed kalau pada akhirnya yang terpilih calon lain?

Setiap orang punya idealnya masing-masing. Ketika mahasiswa UGM ternyata lebih memilih gagasan lain daripada gagasan yang saya bawakan, berarti menurut mereka itu yang masih relevan di sini. Saya hanya ingin membawa ajakan kepada teman-teman untuk berpikir lagi dan menanyakan kembali seberapa relevan organisasi BEM KM dan sistemnya. Kalau kecewa saya rasa itu wajar. Kekalahan itu akan selalu mengecewakan. Tapi itu bukan kekalahan secara personal untuk saya.  Saya tidak peduli menang atau kalah. Tetapi kekecewaan itu mungkin bahwa teman-teman kurang berefleksi terhadap sistem KM selama ini.

Penulis: Tio Ardiansah, Tesya Imanisa/ Teresa Widi/Bul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *