Fathi1.Foto: Bagus/BulFoto: Bagus/Bul

Fathidliyaul Haq: Serempak Berkarya untuk Indonesia

Mengusung gagasan serempak berkarya demi Indonesia berkeadaban mulia, Fathi ada untuk KM UGM lebih baik.

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada setiap tahunnya memiliki hak untuk memilih presiden mahasiswa di Pemilwa KM (Keluarga Mahasiswa) UGM. Pada tahun 2017 ini kita kembali memiliki hak untuk bersuara dan memilih satu diantara tiga calon presiden mahasiswa untuk membawa KM menjadi lebih baik. Salah satunya calon nomor urut satu, Fathidliyaul Haq. Laki-laki asal Tegal yang akrab dipanggil Fathi ini merupakan mahasiswa Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM angkatan 2014. Ia pernah menyabet juara tiga Smart Competition Gfest SM API UPNVY 2017. Fathi juga berhasil menjadi Finalis International Paper Competition Minning Fair UNP 2017.

Menanggapi masalah-masalah yang terjadi, Fathi maju menjadi calon presiden mahasiswa dan siap membantu menyelesaikan masalah-masalah yang sering terjadi di kalangan mahasiswa UGM. Berikut hasil wawancara eksklusif Bul dengan Fathi di sela kesibukannya berkampanye dan mengumpulkan dukungan.

Wawancara eksklusif Bul dengan Fathidliyaul Haq.Foto: Bagus/Bul

Apa motivasi Fathi maju dalam pemilwa tahun 2017 ini?

Karena saya aktif dalam agenda-agenda mahasiwa seperti partai mahasiswa. Saya dihubungi untuk mengikuti kongres di Partai Bunderan. Kami sepakat dan memiliki visi yang sama, yaitu UGM perlu untuk dibenahi, perlu untuk mengabdikan diri kepada mahasiswa. Kami memiliki keresahan yang disepakati di sana. Pada saat musyawarah berlangsung, nama saya dimunculkan dan akhirnya saya diajukan oleh Partai Bunderan. Kami menyepakati apa yang kami perjuangkan itu suatu frekuensi, maka sama-sama kami akan benahi bersama, tidak hanya urun angan, tidak lipat tangan, dan tidak angkat tangan. Kita harus turun tangan.

Boleh ceritakan rekam jejak Fathi selama di UGM?

Saya lebih banyak berkecimpung di bidang advokasi dari tahun 2014. Saat menjadi mahasiswa baru, saya masuk BEM KM Fakultas Teknik UGM di bagian advokasi. Di advokasi saya juga ikut Forum Advokasi (Formad). Pada tahun kedua, saya diamanahi menjadi Menteri Advokasi pada tahun 2016 di BEM KM Fakultas Teknik dan pada tahun 2017 ini saya diamanahi lagi menjadi Deputi Menko BEM KM Fakultas Teknik.

Apa visi dan misi Fathi sebagai calon presiden mahasiswa?

Visi saya yaitu bagaimana cara kita untuk mewujudkan KM UGM yang serempak berkarya perlu Indonesia yang berkeadaban mulia.

Misi saya; Pertama, membangun internal organisasi yang kokoh, asyik, dan bertanggung jawab. Kedua, mengoptimalkan fungsi-fungsi advokasi untuk membela hak-hak mahasiswa dan hak-hak masyarakat. Ketiga, responsif dalam menyikapi isu-isu strategis dan kajian yang objektif, trasparan, dan komprehensif. Keempat, mengharmonisasi kerja dalam KM UGM serta mendukung karya dan kasasi mahasiswa. Kelima, aktif dalam agenda kemasyarakatan dengan asas kekeluargaan dan asas sosial.

Apa yang Fathi maksud sebagai serempak berkarya, berkeadaban mulia?

Karena kami sadar bahwa karya kita berbeda-beda, bidangnya juga berbeda, jadi jangan kita jadikan perbedaan ini menjadi sekat-sekat. Maka, kami sama-sama membuat ini menjadi kebermanfaatan yang baik bagi kita. Indonesia memerlukan orang-orang yang beradab mulia, karena dengan beradab mulia Indonesia menjadi negara yang lebih baik dan bermartabat.

Bagaimana Fathi mengoptimalkan fungsi advokasi (pada misi kedua)?

Advokasi merupakan seseuatu yang sangat dibutuhkan pada lembaga mahasiswa karena itu membantu kita dalam masalah yang dihadapi mahasiswa. Misalnya soal golongan UKT (Uang Kuliah Tunggal), ada yang penghasilan orang tua 5 juta, ada yang 9 juta, tapi golongannya sama, itu menjadi masalah. Ada juga UKT yang kemahalan, Kebidanan nih UKT golongan 3 sudah 9 juta. Nah, itu menjadi masalah advokasi.

Advokasi dilakukan pada dua hal, yaitu personal dan kebijakan. Misal input penghasilan 5 juta tapi masuknya golongan 4 atau 5. Kalau masalah personal ya masalah one by one. Dua tahun yang lalu saya pernah membuat kajian mekanisme penurunan UKT dan penundaan UKT. Advokasi perlu bekerja di sana.

Saat ini di UGM ada forum advokasi, namanya Formad. Jadi, itu gabungan advokasi dari seluruh BEM, fakultas. Nah itu pernah bahas-bahas isu UKT, isu beasiswa PPA, isu biaya KKN. Sejauh ini, belum ada pola yang jelas. Misal ada kasus mau dibawa ke departemen, fakultas, atau universitas. Selama ini belum punya SOP yang jelas. Jadi kita perlu membuat pola itu.

Hal yang paling menjadi concern Fathi saat menjadi presma?

Nantinya bisa dibuat secara paralel. Nah, concern saya bisa dimulai dari visi misi tuh. Pertama, internal dulu yang kokoh sebelum menyebarkan kebermanfaatan. Itu concern pertama mengenai organisasi. Kedua mengadvokasi, kita perlu membuat sistem. Ketiga, kita perlu responsif terhadap isu strategis. Kalau bicara sejarah KM, kita berperan dalam konteks dinamika mahasiswa Indonesia. Tahun ini kami berjanji fokus isu pendidikan tinggi, itu amanah. Nah, itu yang menjadi concern isu kami. Bukan hanya mengkritisi tapi memberikan alternatif rekomendasi.

Lalu, kami sadar kalau KM UGM rumah bersama. Masih sering ada konflik-konflik, masih ada yang tidak peduli, meski ada juga yang terlibat. Harapannya KM bisa harmoni. Saya pernah ikut kongres, yang perlu dibenahi itu bentuk KM dan pola koordinasinya. Nah, itu perlu diselesaikan pada kongres nanti.

Selanjutnya mengapresiasi karya-karya mahasiswa. Kita perlu didorong untuk termotivasi dalam berkarya. Bukan dalam bentuk uang tapi dalam bentuk menghargai, mengucapkan selamat misalnya. Terakhir, kita perlu memahami masalah di masyarakat, jangan sampai lupa pada rakyat. Sejauh ini BEM KM sudah baik, namun perlu dioptimalkan lagi.

Nah, visi misi antarcalon kan berbeda. Pendapat Fathi bagaimana?

Tujuan kami memang memajukan UGM yang lebih baik. Tapi, caranya berbeda-beda. Kami akan saling mengisi. Jika saya yang terpilih, saya bisa memakai cara dari calon yang lain. Jika calon yang lain terpilih, maka dia dapat memakai cara saya. Yang penting cara untuk memperbaiki UGM lebih baik. Kami tidak saling takut dengan calon lain sebab kami memiliki visi yang sama untuk UGM yang lebih baik. Kami saling men-support, ngapain saling menyikut dan menghasut?

Saat kampanye kan banyak orasi. Nah, bagaimana respon teman-teman yang datang saat Fathi orasi?

Saya sangat mengapresiasi teman-teman yang meluangkan waktu untuk hadir dan mau mendengarkan orasi itu sangat luar biasa. Sebab mungkin KPUM (Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa) harus lebih berinovasi dalam konteks lebih memasifkan massa. Mereka harus membuat kampanye menjadi lebih efektif dan efisien. Kita tahu teknik lebih dari 1000 orang tapi yang hanya datang tidak mencapai 50 orang. Konteks kita dalam menyampaikan orasi bisa saja bagus, tapi bisa jadi tidak tepat sasaran. Secara umum memang saya mengapresiasi KPUM dalam mengusahakan massa, mungkin hanya perlu dioptimalkan kembali.

Seberapa yakin Fathi dapat terpilih menjadi presma? Apa yang membuat Fathi yakin?

Konteks yakin ini yang pertama kami sudah bersepakat untuk memiliki visi yang sama, yaitu KM UGM yang lebih baik. Kalau dibilang yakin, kami semua yakin. Siapapun yang dicalonkan dan yang akan terpilih nantinya harus yakin akan menjadikan kebaikan untuk KM. Sebelum mencalonkan diri, kita memang harus yakin terlebih dahulu untuk memperjuangkan visi yang sama. Tetapi, siapapun yang akan terpilih nantinya itu harus fokus untuk UGM, konteks kerja, hubungan harmonisasinya, produktivitas kajian, dan yang lainnya.

Apa yang membuat mahasiswa UGM perlu memilih Fathi?

Saya sudah tiga tahun terlibat dalam teknis kerja eksekutif di BEM KM Fakultas Teknik UGM, jadi saya tiga tahun di bagian BEM KM Fakultas Teknik, saya juga terlibat dalam forum-forum universitas. Saya memahami kondisi lapangan, bagaimana dinamika yang ada, isu yang ada. Jadi, kalau teman-teman memperjuangkan mahasiswa, mungkin saya orang yang tepat dalam hal itu dan orang yang tepat untuk teman-teman mahasiswa pilih.

Jika tidak terpilih menjadi presma, apakah kegiatan yang akan dilakukan?

Saya akan fokus ke akademik. Saya juga bina di Ruang Tegal Muda. Itu adalah platform anak-anak muda dari daerah asal saya, Tegal, karena perlu dibenahi. Kalau saya di kampus mungkin keterlibatannya tergantung. Kalau mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) sudah habis masanya. Tetapi, kalau ada isu tentang kampus, saya tidak akan menutup mata, saya siap membantu.

 Penulis: Agatha Vidya N, Weli Febrianto/ Akyunia Labiba/Bul

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *