Foto: KKN-PPM JTM-09Foto: KKN-PPM JTM-09

Menjawab Manfaat KKN yang (Katanya) Abu-Abu

Universitas Gadjah Mada merupakan satu dari sekian universitas di Indonesia yang mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa. Dr Djaka Marwasta S Si M Si, Kepala Subdirektorat Kuliah Kerja Nyata menyebutkan tujuan KKN untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga, pengabdian masyarakat. “Artinya baik dosen, tenaga kependidikan maupun mahasiswa, itu wajib hukumnya untuk melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat,” papar Djaka.

Mahasiswa masih meraba-raba manfaat dari kegiatan pengabdian ini. Ada yang menganggap sebagai formalitas untuk melengkapi syarat kelulusan. Di sisi lain, ada mahasiswa yang antusias melaksanakan KKN untuk benar-benar mengabdi. Mahasiswa sengaja memilih lokasi yang berada di luar pulau Jawa dengan alasan masih ada daerah yang membutuhkan bantuan untuk pengembangan.

Pengalaman dua bulan mengabdi dirasakan Gabriella (TPHP ’14) yang melaksanakan KKN di pulau Bacan, Maluku Utara. Program-program yang dilaksanakan oleh Gabriella dan tim adalah bidang pendidikan. Untuk masalah pertanian dan perikanan, masyarakat di sana justru sudah lebih ahli. Merekalah yang banyak belajar dari masyarakat Bacan.

Selain Gabriella, ada pula Ridho (Sastra Inggris ’14) yang melaksanakan KKN di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Program yang dilaksanakan berupa pengembangan pendidikan. “Saya gamblang, sejujurnya banyak program yang kami jalankan, kami anggap kurang efektif karena tidak berkelanjutan. Sudah kerap mahasiswa KKN yang mengadakan program pendidikan, sehingga masyarakat lebih menginginkan pembangunan secara fisik. Kalaupun ada program yang berkelanjutan, itu dikarenakan ada sejumlah masyarakat yang bersedia untuk melanjutkan program kami setelah kami membentuk organisasi untuk mereka,” tutur Ridho.

Mengabdi kepada masyarakat pasti ada suka dukanya. Mahasiswa jadi lebih dekat kepada masyarakat dan banyak belajar mengenai kehidupan yang serba sederhana. Akan tetapi, jarang ditemui perubahan konkret yang didapatkan mahasiswa selepas mengabdi. Menurut Djaka, manfaat dari KKN harus dilihat melalui tiga aspek, yakni personal empowerment, community empowerment, dan institutional empowerment. “Mungkin mahasiswa saat ini belum merasakan, nanti kalau kita tunjukkan testimoni-testimoni, mungkin mereka nanti akan merasakannya saat memasuki dunia kerja. Bahkan ada mahasiswa yang langsung merasakan manfaat KKN, langsung setelah mereka melaksanakannya,” tutur Djaka.

Disinggung mengenai kebermanfaatan mengabdi yang dirasakan peserta KKN, Gabriella memberikan kesannya. Ia menjelaskan perbedaan yang dialami sebelum dan setelah mengikuti KKN, “Aku jadi lebih merefleksikan apa yang aku pelajari di kampus karena aku bener-bener baru merasa waktu dihadapin ke kasus yang ada di lapangan. Aku ternyata belum sesiap itu untuk langsung terjun ke lapangan. Untuk membagikan ilmu yang aku punya,” ungkapnya. Kesan lain dipaparkan Ridho. Ia sedikit mendapatkan ilmu tentang pola pikir masyarakat dalam bekerja. Ternyata masyarakat bekerja sesuai dengan kondisi yang mereka alami.

Mengenai timbal balik dari daerah ke UGM, juga tidak melulu soal materi. Banyak feedback tidak langsung yang didapatkan oleh civitas kampus ketika melaksanakan kegiatan pengabdian.  Djaka menuturkan jika banyak sekali penelitian-penelitian yang muncul karena KKN. Kemudian universitas berusaha untuk mengembangkan. Ada kearifan-kearifan lokal yang tidak ada di buku literature. Contohnya beras hitam yang ditemukan di hutan perbatasan Kalimantan dan Malaysia. Dari hal-hal itu, pelan-pelan ternyata banyak yang didapatkan UGM dari masyarakat.

Penulis: Agnes Vidita, M. Zahri Firdaus/Bul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *