Skripsi Satu Semester .Ilus : Cinta/BulIlus: Cinta/Bul

Fisipol Skripsi Satu Semester: Yakin (?)

Sosialisasi kebijakan skripsi satu semester yang telah diadakan di Ruang Seminar Timur Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) pada 30 Agustus yang lalu menuai pro dan kontra di kalangan mahasiswa. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai solusi banyaknya mahasiswa tingkat akhir di Fisipol yang belum lulus. Data yang ada saat ini menunjukkan 67 persen mahasiswa angkatan 2011 telah dinyatakan lulus dan  angkatan 2012 baru mencapai tingkat kelulusan sebanyak 30 persen.

Korps Mahasiswa Politik dan Pemerintahan (Komap) sebagai organisasi mahasiswa yang menaungi mahasiswa Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan (DPP) Fisipol tergerak untuk mengadakan diskusi mengenai kebijakan ini. Diskusi bertempat di Selasar Barat Gedung BC Fisipol sukses diadakan pada Selasa, 26 September 2017 dengan menghadirkan narasumber utama, yaitu Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr Wawan Mas’udi MPA dan Longgina Novadona Bayo MA selaku perwakilan dosen DPP.

Diskusi diawali dengan pemaparan hasil riset selama tiga hari oleh Fuchia Mutiara selaku Kepala Divisi Riset Dewan Mahasiswa (Dema) Fisipol. Dalam riset tersebut, terhimpun 126 responden dengan responden terbanyak 34 persen angkatan 2014 dan responden tersedikit 2,18 persen oleh angkatan 2011. Secara keseluruhan, 71 persen responden menyatakan tidak setuju dengan kebijakan skripsi satu semester dengan alasan menganggap kapasitas dan prioritas setiap mahasiswa itu berbeda. Sementara itu, 29 persen lainnya menyatakan setuju dengan alasan bahwa kebijakan ini dianggap mampu mempercepat kelulusan mahasiswa. “Kalau dari pandanganku sekarang ya bagus gitu biar cepet lulus tapi ya pasti hasilnya nggak terlalu maksimal,” ujar Reva Oktora (Politik dan Pemerintahan ’15). Sama halnya seperti Reva, meskipun mengaku belum begitu mendalami kebijakan ini Nivita Saldyni Adiibah (Ilmu Komunikasi ‘15) meyakini kebijakan tersebut mampu memberi manfaat bagi mahasiswa.“Menurutku oke-oke aja sih dan itu juga mengatasi mahasiswa-mahasiswa yang terlena di bangku kuliah ben gek ndang lulus,” tuturnya.

Sesi selanjutnya, Dr Wawan Mas’udi MPA mengungkapkan bahwa Fakultas berperan dalam menyukseskan progam studi, memberi bekal yang tidak hanya sekedar bukti kelulusan (ijazah), dan memberi transparansi pelayanan kepada mahasiswa. Salah satu bentuk pelayanan kepada mahasiswa ditunjukkan dengan penerapan kebijakan ini. “Tujuannya untuk me-monitoring penyebab “lama-nya” itu kenapa, masalahnya di mana dan kami berusaha mencarikan solusi. Fakultas pun membuatkan program untuk menunjang skripsi, bukan bermaksud untuk menakut-nakuti mahasiswa,” jelasnya.

Program skripsi satu semester bertujuan agar mahasiswa belajar merencanakan masa studi.  Apalagi bagi mahasiswa di atas angkatan 2015 sudah menandatangani kontrak masa studi maksimal selama lima tahun, seharusnya ini menjadi pengingat bahwa pengerjaan skripsi yang dilakukan lebih dari dua semester sebagus apapun skripsinya tetap akan mendapatkan nilai maksimal B. “Bagi mahasiswa angkatan 2014 yang baru memulai skripsi tidak perlu khawatir. Begitu pula untuk angkatan di bawah 2014 yang lebih dulu mulai menyusun skripsi, tidak perlu risau karena kebijakan ini lebih ditujukan kepada angkatan 2015. Pelaksanaannya pun akan berlangsung pada akhir tahun 2018,” ungkap Longgina.

Hal tersebut ternyata direspon oleh Ardhano Priatama (Sosiologi ’13). “Kalau untuk saya nggak terlalu ngefek, soalnya sudah dari dulu ngerjain skripsi. Jadi tidak tertekan seperti adik tingkat semester bawah yang baru mulai. Malahan saya makin termotivasi buat selesai,” jelasnya. M Irfan Taufiq (Ilmu Komunikasi ‘15) mengungkapkan hal yang sama. Dalam pandangan Irfan, kemalasan bukan faktor utama dari molornya sebuah skripsi. “Padahal kendalanya bisa aja bukan gak bisa selesai satu semester tapi yang emang datanya sulit, narasumber yang mundur-mundur, dosennya susah ditemuin buat bimbingan,” tandasnya.

Selain mengadakan sosialisasi kebijakan skripsi satu semester, Fisipol juga memberikan fasilitas tutor skripsi yang diperuntukkan bagi mahasiswa di bawah angkatan 2014. Dalam waktu kedepan, program tutor akan diberikan pula kepada mahasiswa di atas angkatan 2015. Program seminar proposal untuk menjaga kontrol kualitas skripsi juga telah diupayakan agar dapat berjalan untuk memenuhi peraturan akademik terbaru per tahun 2016. Terkait pemantauan daring (dalam jaringan), Fisipol akan menyediakan buku panduan mekanisme sistem tersebut dan panduan standar operasional prosedur penyusunan skripsi yang dapat diunduh melalui laman http://fisipol.ugm.ac.id.

Pada sesi pamungkas, Divisi Riset Dema Fisipol mengkompilasi saran dari mahasiswa terhadap kebijakan skripsi satu semester. Hasilnya mengungkapkan sebanyak 37 persen responden dari lintas angkatan tersebut menginginkan agar kebijakan ini perlu untuk dikaji ulang.

Penulis : Aninda Nur H, Aulia Hafisa / Hafidz W. Muhammad/Bul

Sumber data :

http://fisipol.ugm.ac.id/news/fisipol-memfasilitasi-mahasiswa-tingkat-akhir-dalam-program-skripsi-satu-semester/id/ [Diakses : 29 September 2017].

Jejak Pendapat Divisi Riset Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 2017.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *