hukumIlus:Devina/Bul

Terbunuh oleh Hukum

Fidelis Ari, seorang pria yang berasal dari Sanggau, Kalimantan Barat, akhir-akhir ini telah menghebohkan dunia maya dengan kisah hidupnya. Pria ini menjadi viral karena perjuangan cintanya yang begitu dramatis. Perjuangan cintanya yang tidak kalah dengan kisah-kisah romansa ala dongeng macam Romeo and Juliet. Namun, sayangnya kisah ini tidak berakhir dengan bahagia. Ia terpaksa untuk tidak melanjutkan perjuangannya dan merelakan diri untuk mengakhiri kisah cintanya dengan tragis.

Sebagaimana ditulis di berbagai media, Fidelis ditangkap oleh aparat keamanan karena kedapatan menanam ganja di sekitar lingkungan rumahnya. Sekilas memang tidak ada yang salah dengan kasus ini. Namun, begitu kompleks kisah di dalamnya sehingga memunculkan berbagai perspektif yang berbeda dalam memutuskan keberpihakkan terkait kasus ini. Fidelis menanam ganja semata-mata hanya untuk mengobati penyakit yang diderita istrinya, yakni Syringomyelia. Bahkan, Fidelis tidak memutuskan untuk menjadikan ganja sebagai obat istrinya begitu saja, melainkan sebagai opsi terakhir dari sekian banyak usaha yang dilakukannya. Sebelumnya ia telah mengunjungi berbagai rumah sakit serta berkonsultasi dengan dokter ahli dari dalam dan luar negeri, berusaha mencari orang-orang yang pernah mengalami penyakit sebagaimana diderita oleh istrinya untuk sekadar meminta saran dan rujukan ke depannya, dan sampai pada akhirnya dia menemukan fakta bagaimana ganja mampu untuk setidaknya meringankan penyakit yang diderita oleh istrinya.

Namun, setelah melalui berbagai dinamika dalam perjuangan cintanya, perbuatannya pun didapati oleh pihak BNN yang segera menangkapnya. Istrinya pun dipindahkan ke rumah sakit untuk sekadar menjemput ajalnya. Begitu ironis dan tragis, terlebih Fidelis masih memiliki dua orang anak. Apakah perbuatan BNN benar? Ya, Fidelis memang bersalah dan terbukti melanggar hukum karena kedapatan menanam ganja yang mana merupakan sesuatu yang haram dilakukan di negeri ini. Namun, tidak adakah kelenturan hukum sedikit pun dalam kasus ini? Tidak bisakah hukum untuk tidak begitu kaku dan memberikan celah-celah kemanusiaan yang dapat dilalui oleh Fidelis? Bahkan, setelah melalui berbagai proses investigasi, Fidelis terbukti tidak memanfaatkan ganja hasil budi dayanya ini untuk perilaku-perilaku yang jauh dari kebaikan moral. Ia tidak melakukan aktivitas pengedaran ganja, jual beli ganja, dan berbagai aktivitas lainnya yang jauh dari nilai-nilai moral.

Setelah melalui berbagai perdebatan pelik yang selama ini kerap kali terjadi ketika masalah legalisasi ganja demi kebutuhan medis kembali diwacanakan dalam pembicaraan dan desas-desus yang beredar, kasus Fidelis dirasa mampu menjadi titik balik bagi hukum di negeri kita untuk sedikit membuka diri terhadap ganja yang selama ini dipandang dengan sedemikian jahat dan bengis. Kasus ini dapat dijadikan sebagai momen di mana kita dapat memikirkan ulang tentang kebijakan narkotika kita seperti mempermudah proses riset tentang ganja dari sisi medis hingga mencabut larangan penggunaan ganja untuk kepentingan medis. Hal tersebut patut dipertimbangkan sebab untuk mendapatkan akses terkait ganja medis tersebut setiap individu tetaplah harus mendapat izin dari pihak berwenang sehingga negara tetap dapat mengontrol masalah ini.

Namun, apa mau dikata, hukum yang ada telah terlanjur memakan korban. Fidelis adalah saksinya. Memang begitulah hukum di negeri kita. Sulit mencari celahnya bila hanya bermodalkan perasaan belas kasihan. Terkadang, hukum begitu lentur dan memberikan banyak celah untuk dilalui oleh segelintir orang. Dan pada suatu waktu juga, hukum berdiri tegak. Begitu kaku dan tajam hingga membunuh mereka yang dipaksa melewatinnya.

 

Penulis : Muhammad Aulia Bahar Putra
Fakultas Filsafat
Angkatan 2017
Editor : Fanggi Mafaza F N A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *