laprakFoto : Arif Wahyu Wibowo/Bul

Budaya Pewarisan Laprak

Ketika seseorang mulai menyandang status mahasiswa maka mulai detik itu juga ia telah melekatkan diri pada tumpukan tugas dan laporan praktikum. Barangkali kalimat “laporan praktikum adalah hidup matinya mahasiswa saintek” terdengar berlebihan. Namun, harus diakui bahwa seyogianya laporan praktikum (laprak) merupakan salah satu kunci penting dari praktikum tersebut. Dalam suatu sistem Satuan Kredit Semester (SKS), praktikum turut berkontribusi dalam penentuan nilai mata kuliah yang bersangkutan. Jika sudah begitu, mau tidak mau mahasiswa dituntut untuk mengerjakan lapraknya sebaik mungkin.

Laprak bukanlah sekadar kumpulan kertas bertuliskan ratusan kata yang dapat dikerjakan sambil lalu. Tentu dibutuhkan proses panjang dalam kurun waktu yang tidak singkat untuk menghasilkannya. Proses tersebut meliputi pengumpulan bahan dari berbagai sumber terpercaya hingga ke proses penganalisisan. Sayangnya, tidak semua mahasiswa merasa memiliki waktu yang cukup untuk berkutat dengan pekerjaan tersebut. Alhasil, jalan pintas pun ditempuh. Berbekal jaringan pertemanan dengan kakak tingkat, masalah pun dapat terselesaikan.

Tak perlu risau saat deadline mendekat jika laprak lama milik kakak tingkat (kating) sudah dalam genggaman. Hal yang perlu dilakukan ialah menyalin laprak tersebut dengan mengganti beberapa kata demi menghindari plagiarisme. Begitulah kurang lebih pemikiran mahasiswa yang tak mau susah payah dan hanya ingin praktisnya saja. Namun, apakah benar bahwa hanya dengan mengganti kata per kata lantas menyingkirkannya dari golongan plagiarisme? Tidak. Meskipun dirangkai dalam kata-kata yang berbeda, jika masih mengandung ide yang sama maka hal itu tetap dikategorikan sebagai bentuk plagiarisme. Lebih tepatnya disebut plagiarisme ide.

Suatu ketika penulis dan rekan sesama mahasiswa satu fakultas pernah mengadakan sebuah survey tentang penggunaan laprak kating. Hasilnya, sebagian besar responden yang berasal dari berbagai fakultas di UGM mengaku pernah menggunakannya. Beberapa mengelak dikatakan sebagai plagiator karena laprak tersebut hanya mereka posisikan sebagai acuan. Namun, ada pula yang mengakui bahwa dirinya telah melakukan plagiarisme. Mereka beralibi bahwa tuntutan hidup sebagai mahasiswa memaksanya melakukan hal itu.

Ironisnya, meski sadar bahwa penyalinan laprak kating tergolong tindakan plagiarisme dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, beberapa mahasiswa tetap melakukannya. Kebiasaan ini seolah menjadi budaya yang telah mendarah daging. Siklusnya pun selalu sama. Pada awal semester, mahasiswa akan disibukkan dengan perburuan laprak milik katingnya. Kemudian di semester depan, ia akan mewariskan lapraknya ke adik tingkat. Begitulah seterusnya hingga identitas penulis pertama yang notabene sebagai pemilik ide pun tersamarkan.

Lucunya, banyak mahasiswa yang tidak malu bahkan secara gamblang berkoar bahwa laprak buatannya merupakan imitasi dari laprak katingnya. Tidak hanya itu, perasaan senasib sepenanggungan bahkan mendorong mereka untuk menjadi seorang dermawan. Dermawan dalam artian berbagi laprak dengan teman sesama angkatan. Kalau sudah begitu, jangan heran jika nantinya banyak didapati laprak-laprak yang mirip satu sama lain.

Alasan mahasiswa melakukan penjiplakan pun beragam, tetapi masih berada dalam satu benang merah, mulai dari tidak ada waktu, pikirannya sudah mentok, malas, dan masih banyak lagi. Melihat hal itu, dapat kita rumuskan sebuah hipotesis bahwa laprak bisa mencerminkan sifat mahasiswanya.

Sebagai agent of change, dua hal esensial nan sederhana yang menjadi pedoman mahasiswa adalah kejujuran dan kreativitas. Namun, kedua hal tersebut dapat dengan mudah teracuni oleh tindakan plagiarisme. Mungkin kita sering menganggap enteng perbuatan plagiarisme dalam sebuah laprak. Akan tetapi, bila kita mulai terbuai dengan hal kecil semacam itu maka kita akan menjadi terbiasa melakukan plagiarisme dalam skala yang lebih besar.

Plagiarisme pun tidak boleh dipandang sebelah mata. Perbuatan ini sebenarnya juga telah memakan banyak korban. Di Amerika, kata plagiarisme seringkali mengingatkan orang-orang di sana dengan sosok Joe Biden. Ialah kandidat presiden yang gagal meraih jabatan tersebut dikarenakan pidatonya yang dianggap mengandung unsur plagiarisme. Selain itu, di Indonesia sendiri belum lama ini ada seorang anak yang sempat diagung-agungkan, tetapi dalam sekejap dijungkirbalikkan karena kedapatan melakukan plagiat. Begitulah segala sesuatu di dunia ini bekerja, ada sebab dan ada akibat. Maka dari itu, seorang mahasiswa pastinya dapat memilih jalan mana yang akan ia ambil, bukan?

 

Penulis: Frida Hanifa Putri
Fakultas Pertanian
Angkatan 2016
Penyunting: Timotia Innosensia S

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *