Padatnya barisan penonton kala menikmati suguhan musik dalam Hypnosis.Foto : Rahmatunnisya/Bul

Eksplorasi Kesehatan Mental Melalui Dopamination

Fakultas Psikologi UGM kembali menyelenggarakan acara tahunannya, Dopamination. Rangkaian acara yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Kesehatan Mental yang jatuh pada tanggal 10 Oktober lalu, berpuncak pada acara konser musik Hype of Creation and Gigs (Hypnosis) dan berlokasi di Wisdom Park UGM. Dengan menampilkan beberapa bintang tamu seperti The Finest Tree, Illona and The Soul Project, The Kandang, dan Schizo Friends, konser musik ini berhasil memecahkan suasana Wisdom Park, Jum’at (3/11).

Lantunkan lagu, hibur penonton.Foto : Rahmatunnisya/Bul

Mengusung tema “Meaningful Life”, Dopamination tahun ini memiliki rangkaian acara yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2015 lalu hanya diperingati dengan satu acara yaitu “Cerita Keren” atau Ceker, maka mulai tahun 2016 panitia berinisiatif untuk membentuk sebuah rangkaian acara. Rangkaian acara ini terdiri dari Tour the Faculty, Curcol (Curhat College Life Bareng Konselor), Lomba Esai dan Fotografi, talkshow Cerita Keren, dan Hypnosis sebagai puncak acaranya.

Selain penampilan bintang tamu, acara ini juga menyediakan beberapa booth menarik, salah satunya booth Sehati. Sehati merupakan sebuah platform yang dibentuk oleh salah satu komunitas di Fakultas Psikologi UGM sebagai penyedia layanan untuk membantu pengembangan diri remaja berkenaan dengan kesehatan mental.

Berbicara mengenai kesehatan mental, ada keterkaitan antara musik dengan kesehatan mental itu sendiri. “Kalau ada hubungannya sih jelas ada. Jadi ada istilah namanya katarsis kan. Tau kan katarsis? Kita meluapkan dengan sesuatu yang kita senangi. Misalkan lewat musik gitu. Bahkan kalau kita dengerin musik kan kita bisa terbawa dengan suasananya,” jelas Illona, musisi sekaligus mahasiswi Fakultas Psikologi UGM.

Menurut Cakka Nuraga juga, seorang musisi muda pentolan The Finest Tree, musik memiliki kontribusi dengan kesehatan mental manusia. Ia mengatakan, ”Kalau menurut aku pribadi musik itu kan juga sebagai sarana kita dalam menyampaikan pesan kan. Sementara mental itu adalah salah satu part dari diri kita, yang dimana mental itu ada hubungannya sama psikologi atau kejiwaan. Nah, kalau misalkan kita sampaiin lewat musik pesan yang baik, mungkin akan sampai ke mental dan mental itu akan terbentuk menjadi mental yang baik. Kalau kita menyampaikan lewat musik pesan yang buruk, maka mentalnya pun tersebut akan menjadi mental yang buruk.”

Dikarenakan tujuan acara ini untuk memperingati hari Kesehatan Mental, maka panitia berharap acara ini dapat menyentuh hal yang paling mendasar tentang pengetahuan mengenai kesehatan mental. “Jadi kita pengen teman-teman itu sadar dulu bahwa ternyata selain kesehatan fisik kita juga mengenal adanya kesehatan mental, seperti itu,” tutup Wahada, ketua panitia sekaligus mahasiswi Fakultas Psikologi angkatan 2015.

 

Penulis : Desi Yunikaputri/Bul