Media Massa Kini dan Pembodohan Kaum Muda Indonesia

Media Massa Kini dan Pembodohan Kaum Muda Indonesia

Di zaman yang modern ini, semua orang tentunya ingin mendapatkan informasi terbaru mengenai banyak hal. Seperti pertandingan sepak bola, kegiatan politik, penemuan baru, dan lainnya. Dari alasan tersebut, lahirlah suatu entitas yang disebut sebagai “media massa”. Salah satu bentuk media massa yang paling populer adalah media sosial. Kepraktisan dan berbagai fitur multifungsi yang diberikan oleh media sosial, ditambah desain yang menarik, membuat layanan tersebut semakin digandrungi oleh kaum muda masa kini. Media sosial menjadi penghubung untuk menjalankan aktivitas dan bisnis mereka. Sebagai kaum muda yang penuh aspirasi dan berjiwa sosial, tentunya Anda juga pemakai media sosial bukan?

Media sosial, bersama dengan internet yang memotorinya dan juga televisi yang program-programnya makin beragam menjadi media yang paling populer di Indonesia. Namun media massa yang semula digemari akan muatannya yang informatif, kini lebih sering dipakai untuk mendapatkan konten hiburan. Meskipun hiburan juga sesuatu yang penting, tetapi hiburan yang dipermasalahkan adalah jenis konten yang kurang mendidik bagi para penikmatnya, serta bertujuan hanya untuk memberikan kesenangan serta sensasi belaka.

Apabila Anda menonton televisi, kebanyakan program yang ditayangkan adalah jenis infotainment penuh rumor, sinetron, dan acara-acara hiburan yang diisi dengan selebriti yang berjoget dan bernyanyi bersama. Meski masih ada program yang informatif, namun program hiburan yang disebutkan di ataslah yang mendapatkan rating tertinggi dari para penonton. Artinya tayangan-tayangan seperti itulah yang paling digemari masyarakat. Padahal, informasi yang ditayangkan oleh program-program tersebut kurang mendidik dan tidak memperkuat moral, tetapi makin merusaknya. Bukan hanya televisi lokal menayangkan program yang kurang mendidik, tak terkecuali saluran televisi luar negeri yang saat ini mudah diakses ke Indonesia.

Banyaknya program-program gosip yang ditonton oleh masyarakat akan membuat mereka semakin gemar untuk membicarakan orang-orang lain. Semakin seseorang melahap gosip, maka ia akan semakin mudah untuk dipengaruhi oleh pihak-pihak yang ucapannya sejalan dengan gosip tersebut. Pada akhirnya akan menyebabkan kemerosotan mental yang rawan sekali untuk meluas di lingkungan sekitar. Contoh lain yaitu reality show buatan Indonesia yang sudah sering “diatur” saja masih digandrungi oleh kaum muda, tidak heran jika reality show milik barat akan lebih digemari lagi. Padahal, dengan besarnya perbedaan kultural antara Indonesia dan negara-negara barat seperti AS, tentu saja terdapat banyak tindakan dan ucapan di program buatan barat yang kurang pantas jika ditiru oleh kaum muda kita. Parahnya lagi, anak-anak di bawah umur sudah menganggap reality show dan drama-drama buatan barat sebagai tayangan favoritnya.

Satu hal yang mungkin lebih parah dari banyaknya program televisi yang kurang mendidik di atas adalah maraknya konten-konten negatif di media sosial. Kemudahan yang ditawarkan media sosial justru kurang digunakan secara sehat dan bijaksana. Media sosial bisa digunakan sebagai sarana berbagi informasi akan tetapi pelaksanaannya masih salah sasaran. Masih ada pengguna yang mengunggah isi pikiran mereka dengan seenaknya, dengan kata-kata yang tidak sopan, gambar-gambar yang tidak sesuai, dan cenderung terkesan melebih-lebihkan. Unggahan semacam itu diperparah dengan kolom komentar berisi perang mulut penuh makian antar warganet yang biasanya mengikuti. Selain membuat kaum muda makin tidak sopan dan tidak menghargai orang lain, juga dapat memberikan pengaruh apatis bagi orang-orang yang membacanya. Sikap ini muncul karena menganggap kolom komentar hanya ladang keributan dan dinilai tidak akan menemui titik temu. Hal lain yang berbahaya adalah maraknya akun-akun yang menjadi penyebar konten negatif dan kutipan-kutipan berlebihan yang tidak memotivasi kaum muda. Hal-hal buruk tersebut makin diperparah dengan lagi-lagi mudahnya akses anak-anak di bawah umur untuk melihat konten-konten yang sudah dijelaskan di atas.

Relakah kita apabila teman dan adik kita dirusak mentalnya oleh sisi buruk media massa kini? Marilah bersama kita mengurangi ketergantungan terhadap acara-acara televisi yang hanya hiburan dan memakai media sosial dengan positif. Dengan begitu, permintaan acara hiburan akan semakin berkurang dan pihak media akan lebih fokus pada acara yang informatif. Jangan lupa untuk selalu mengingatkan sesama dalam menggunakan media dengan baik dan jangan pernah kehilangan harapan bahwa generasi muda Indonesia adalah sebuah kesatuan pembangun bangsa yang kuat, kreatif, dan peduli!

Penulis: Mohammad Hadyan Radifan
Editor: Larasati PN 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *