asrama ugmFoto: Dhila/Bul

Mahasiswa Baru UGM akan Diwajibkan Tinggal Di Asrama, Benarkah?

Beberapa waktu lalu, tim SKM UGM Bulaksumur melakukan wawancara dengan Supervisor Asrama Darmaputera Santren Deresan, Krisjihantoro. Dalam wawancara tersebut dikatakan bahwa ada kemungkinan rektorat mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan mahasiswa baru untuk bertempat tinggal di asrama mahasiswa. Mengenai hal tersebut tim SKM UGM Bulaksumur kemudian melakukan konfirmasi ke Direktorat Aset UGM.

Tak sedikit dari mahasiswa UGM yang datang dari luar kota sehingga harus mencari tempat tinggal sementara seperti kos, pondok, kontrakan, ataupun asrama milik UGM. Di sekitar kampus pun banyak berdiri kos-kosan yang siap dipilih mahasiswa untuk disewa. Dalam memilih tempat tinggal, tentunya mahasiswa juga memperhatikan lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang kondusif juga akan menunjang keberhasilan akademik mahasiswa. Oleh karena itu, untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, UGM mencoba menambah jumlah asrama bagi mahasiswa.

Pembangunan asrama baru

Saat ini ada satu asrama yang sedang dalam proses pembangunan lanjutan dari dua asrama yang sudah lama “mangkrak” yaitu di daerah Sendowo (asrama Sendowo) sedang satu asrama lain di daerah Barek (asrama Kinanthi II) yang diharapkan dapat dilanjutkan pada tahun 2018. Pembangunan lanjutan dua asrama tersebut terhambat oleh masalah pendanaan yang tidak tersedia di Kemenristek Dikti, demikian  diungkapkan oleh Prof. Ir. Henricus Priyosulistyo M.Sc., Ph.D., selaku Direktur Direktorat Aset UGM pada bulan September 2017 lalu, “Dulu awalnya didanai oleh APBNP yang dimulai pada bulan Oktober 2010, sehingga dengan waktu yang tersedia hanya tiga bulan (tahun anggaran selesai pada akhir bulan Desember 2010), maka hanya dapat dikerjakan kerangka strukturnya saja pada kedua gedung tersebut. Ini memang sudah sesuai dengan target yang direncanakan.”

Akibat dari kendala dalam pendanaan, Universitas (Direktorat Aset dan Direktorat Perencanaan dan Pengembangan) akhirnya pada awal tahun  2015 meminta bantuan kepada Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyelesaikan masalah gedung yang belum selesai tersebut. Namun, karena Kementrian PUPR saat itu belum memiliki skema untuk meneruskan bangunan mangkrak dari kementrian lain – termasuk Kemenristek Dikti, maka pembangunan kedua asrama ini ditangguhkan sejak tahun 2015. Baru pada awal tahun 2017 Kementrian PUPR dapat melakukan pembanguan pada salah satu dari dua asrama ini dan akan segera dikebut agar bisa segera dipakai oleh mahasiswa. ”Baru pada bulan Juni atau Juli 2017, saya agak lupa persisnya, kita dapat kepastian bantuan hibah dari Kementrian PUPR  untuk meneruskan unit yang ada di Sendowo. Kemudian pada tahun 2018, kalau masih ada dana, akan dilanjutkan lagi (pembangunan asrama lainnya –red),” tutur Henricus.

Foto: Bagus/Bul

Daya tampung asrama

Saat ini, sudah berdiri enam asrama di UGM yang terdiri dari tiga asrama putra (Asrama Dharmaputera Baciro, Asrama Dharmaputra Karanggayam, dan Asrama Dharmaputera Santren) dan tiga asrama putri (Asrama Ratnaningsih Sagan, Asrama Ratnaningsih Bulaksumur, dan Asrama Kinanthi I) yang ditujukan khususnya untuk mahasiswa baru. Dari total keenam asrama tersebut, terdapat fasilitas-fasilitas yang sama dan ada sejumlah 1640 tempat tidur (921 kamar) yang siap ditempati. Namun sayangnya belum semua kamar ditempati oleh mahasiswa. Saat inipun tingkat occupancy tempat tidur  asrama mahasiswa di UGM baru mencapai 62 persen.

Kemampuan daya tampung asrama mahasiswa di UGM dengan 1640 tempat tidur, atau baru sekitar 3,4 persen dari jumlah seluruh mahasiswa UGM, sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan universitas lain di luar negeri. Secara umum, menurut Henricus, universitas di luar negeri bisa menyediakan jumlah tempat tidur hingga 45 persen dari keseluruhan mahasiswa. Nanyang Technological University, Singapura misalnya memiliki angka rasio jumlah tempat tidur tersedia dan jumlah mahasiswa hingga 1:1,6. “Artinya, setiap 1600 mahasiswa, ada 1000 bed yang disediakan. Semua mahasiswa baru boleh masuk dalam asrama. Sehingga suasana kampus menjadi sepi dari hiruk pikuk kendaraan bermotor. Umumnya para mahasiswa berjalan kaki, padahal di sana disediakan juga bus yang keliling setiap 15 menit,” jelas Henricus.

Mengenai kemungkinan menetapkan kebijakan yang membuat mahasiswa untuk tinggal di asrama, Henricus menjelaskan bahwa rencana Universitas saat ini lebih mengutamakan  kebutuhan asrama bagi mahasiswa baru. Namun hal itu masih menjadi wacana mengingat daya tampung yang ada saat ini belum memadai, bahkan untuk mahasiswa baru yg jumlahnya sekitar 8000 sampai dengan 9000 saja masih belum bisa dipenuhi. Rencana untuk membangun asrama untuk mengimbangi jumlah mahasiswa juga menghadapi beberapa batasan, mulai dari keterbatasan lahan hingga peraturan di kota Yogyakarta yang melarang pembangunan sebuah bangunan lebih dari empat lantai sedang di kabupaten Sleman dibatasi oleh peraturan penerbangan dari Lanud Adisucipto (sekitar tujuh lantai maksimum).

Rencana pengasramaan mahasiswa baru ini ditanggapi berbeda-beda oleh mahasiswa, menurut Nabila Puteri (Psikologi ’16) yang hingga saat ini tinggal di Asrama Putrni Ratnaningsih Bulaksumur mengatakan tidak setuju jika mahasiswa baru harus bertempat tinggal di asrama.”Kurang setuju karena mahasiswa juga punya kepentingan yang berbeda-beda dan kalau harus tinggal di asrama itu seperti mengekang mereka, biarkan mereka memilih sendiri,”ujarnya. Berkebalikan dengan Nabila, Upik Krismareta (Kimia’17), menyatakan setuju jika pengasramaan mahasiswa dilakukan. Nabila beralasan dengan tinggal di asrama dapat membuat lebih akrab dengan teman dari fakultas lain, selain itu fasilitas asrama cukup memadai dan aman bagi mahasiswa.

Oleh:Anisa Sawu Dwi A., Trishna Dewi W./Bul
Penyunting: Hafidz W. Muhammad/Bul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *