aidacerpen_eskalator

Eskalator

Oleh : Ifan Afiansa
Editor: Budi Utomo

Anak itu tampak kebingungan di depan eskalator yang berjalan turun itu. Di ujung eskalator, sang ibu menatap anaknya dengan raut khawatir. Anak itu tak kunjung menapak anak tangga, ia kebingungan dengan anak tangga yang terus berjalan. Sepertinya, baginya itu kali pertama menuruni tangga eskalator. Kakinya mencoba perlahan menapak, tetapi keraguan membuatnya menarik kakinya kembali. Sang ibu semakin cemas.

Dilanda kekhawatiran yang amat sangat, ibu mencoba menaiki anak tangga itu. Eskalator yang menuju ke lantai atas terlalu jauh. Sang ibu takut kejadian-kejadian yang ada di televisi menimpa anaknya. Sang ibu terlihat terpogoh-pogoh menaiki anak tangga yang berjalan turun. Si anak yang melihat upaya sang ibu, menjadi khawatir. Ia memberanikan diri untuk kembali menapak anak tangga. Tangga dan pegangan yang terus berjalan membuatnya takut. Namun ia juga kasihan membiarkan usaha sia-sia sang ibu yang terus menaiki escalator yang terus berjalan turun.

Suasana menjadi sedikit riuh. Beberapa orang yang melihat kejadian itu lantas merekam melalui gawai mereka. Sementara itu, dengan perlahan, kaki kanan sang anak menapak anak tangga, bersamaan dengan itu tangan mungilnya meraih pegangan eskalator. Kaki satunya juga telah menginjak anak tangga. Pijakan kaki kanannya sedikit goyah, namun akhirnya anak tersebut berhasil menuruni eskalator itu dengan sempurna.

Tak jauh dari eskalator, seorang wanita berusia 20-an tahun, dengan smartphone di tangan kanannya, mengamati kejadian tersebut. “Cih, ibu macam apa yang membiarkan anaknya naik eskalator sendirian,” cibirnya dan menuliskannya di linimasa media sosial.

Yogyakarta, 19 November 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *