Tarik Ulur Pemindahan Pedagang Bonbin Ke Taman Bank Indonesia

bonbin
© 2017 Zahra/Bul
Pedagang Bonbin akan dipindahkan kembali ke Taman BI. Fakultas Filsafat telah ditunjuk sebagai pengelolanya. Namun, masih terdapat ketidak sepahaman mengenai cara pengelolaannya.

Berbicara mengenai pedagang Bonbin, tentu tidak dapat dilepaskan dari sisi historisnya. Bonbin diresmikan oleh Rektor almarhum Koesnadi Hardjosoemantri, sekitar 1987. Pada saat itu, beliau membangun beberapa lokasi untuk menampung PKL di sekitar UGM, sejak saat itu pula pedagang Bonbin mulai dikenal oleh mahasiswa UGM. Setelah sebelumnya harus pindah dari Taman Sosiohumaniora ke Pusat Jajanan Lembah akibat pembangunan, kini pedagang Bonbin harus bersiap pindah kembali. Tempatnya bukan di Taman Sosiohumaniora lagi, tetapi di Taman Bank Indonesia, sebuah lokasi baru di sebelah barat Fakultas Filsafat UGM.

Perjalanan Pedagang Bonbin

Pada tahun 2009, Kantin Bonbin mendapatkan perbaikan dari pihak Direktorat Aset UGM. Namun, pada bulan September tahun 2015 Direktorat Aset melakukan sosialisasi mengenai relokasi pedagang Bonbin, hingga pada akhirnya pedagang Bonbin diminta untuk meninggalkan tempat mereka saat itu (Taman Sosiohumaniora) menuju lokasi yang telah ditentukan oleh Direktorat Aset. Pemindahan tersebut dilakukan dengan alasan Taman Sosiohumaniora akan digunakan oleh Direktorat Aset sebagai tempat penanaman genset sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar apabila terjadi pemadaman aliran listrik.

Pemindahan pedagang Bonbin kemudian mendapatkan penolakan, baik dari pedagang Bonbin maupun mahasiswa yang merasakan dampak langsung atas keberadaan Kantin Bonbin. Protes yang terjadi saat itu dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, seperti sejarah Bonbin yang dianggap tidak hanya sebagai tempat makan, tetapi tempat mahasiswa berproses secara akademis maupun pengembangan soft-skill diluar forum-forum formal. Selain itu, harga makanan yang relatif lebih murah juga menjadi pertimbangan mahasiswa mengambil sikap untuk menolak relokasi Bonbin pada saat itu.

Meskipun pada akhirnya pedagang Bonbin resmi direlokasi pada pertengahan April 2016, namun pihak Direktorat Aset telah menjanjikan untuk memperkenankan pedagang Bonbin untuk berjualan kembali di dalam kampus. “Sejak dipindahkan ke tempat ini (Pusat Jajanan Lembah-Red), kami sudah dijanjikan akan dipindahkan kembali ke dalam (kampus –red),” ujar Widodo, seorang pedagang Bonbin yang telah berjualan di kantin Bonbin sejak tahun 1999.

Taman Bank Indonesia (BI) yang mulai dibangun pada akhir 2016, saat ini telah siap digunakan. Menurut Kepala Direktorat Pengelolaan dan Pemeliharaan Aset (DPPA) UGM Prof Ir Henricus Priyo Sulistyo MSc PhD, Taman BI nantinya akan ditempati oleh pedagang Bonbin yang direlokasi pada tahun 2016 lalu. “Untuk tahun ini yang menempati (Taman BI-red) adalah pedagang yang dulunya di Bonbin,” Ujarnya. Taman BI memiliki 16 kavling yang awalnya disediakan oleh DPPA untuk 12 Pedagang Bonbin serta 4 Pedagang di Kantin Filsafat. Namun rencana tersebut masih belum pasti karena Dekan Filsafat belum menyetujui rencana pemindahan Kantin Filsafat ke tempat yang baru.  

Pengelolaan yang Baru

Meskipun sempat ada sosialisasi waktu pindah, nyatanya pemindahan belum juga terealisasi. Menurut Widodo, berdasarkan informasi yang didapatkan dari DPPA, pemindahan akan dilakukan pada awal Agustus, namun hal tersebut urung terlaksana. “Sempat dijanjikan awal Agustus, tetapi hingga saat ini belum ada kejelasan. Katanya sedang menunggu sponsor untuk kursi dan meja,” kata Widodo. Hal senada juga diungkapkan oleh mahasiswa pemerhati Bonbin Fajar Cahyono(Filsafat 15). “Belum ada SK resmi. Tetapi sempat dijanjikan bulan Agustus lalu, namun hingga saat ini belum ada konfirmasi lebih lanjut,” ungkapnya. Dalam penjelasan lain, berdasarkan keterangan Kepala DPPA saat itu, Prof Ir Henricus Priyo Sulistyo MSc PhD, pemindahan akan dilakukan akhir September. Pun, seperti rencana sebelumnya, rencana ini batal. Karena sampai saat ini belum ada pemindahan tersebut.

Sementara terkait pengelolaan Taman BI, Dr. Agus Himawan Utomo, M.Ag. selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan Dan Aset Fakultas Filsafat memberikan keterangan bahwa hingga saat ini Taman BI masih dikelola penuh oleh DPPA meskipun telah muncul wacana megenai pelimpahan wewenang manajerial Taman BI akan dikelola oleh Fakutlas Filsafat “Hingga saat ini DPPA yang bertanggungjawab megelola. Meskipun ada wacana bahwa Fakultas Filsafat yang akan dimandati untuk mengelola, tetapi belum formal, belum ada SK resmi  yang menegaskan,” tegasnya.

Tentang rencana penunjukan Fakultas Filsafat sebagai pengelola telah dibenarkan pula Prof Ir Henricus Priyo Sulistyo MSc PhD. “Rencananya Fakultas Filsafat akan kita tunjuk sebagai koordinator untuk tahun ini dan mungkin 5 tahun ke depan kalau nanti kondisinya membaik, ya kita teruskan Fakultas Filsafat boleh mengelola terus, tetapi nanti kalau dinilai oleh Dekan-Dekan (di sekitar jalan –red) Sosiohumaniora inginnya gantian ya tidak masalah.” Ujarnya memberikan keterangan.

Tugas Fakultas Filsafat dalam mengelola kantin baru tersebut salah satunya adalah menunjuk manajer khusus yang akan mengatur dan mengawasi para pedagang yang ada di kantin tersebut. Manajer kantin harus memastikan pedagang yang berjualan di Taman BI telah mematuhi syarat minimum dari layanan kampus yang ditetapkan oleh DPPA. Syarat tersebut diantaranya berupa bahan makanan yang bebas 5P(Pengawet, Perasa. Pewarna, Penyedap, Pengenyal) serta pengolahan yang sehat dan halal. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan dilibatkan sebagai supervisi/tim penilai kantin kampus. Sistem kerja sama yang akan digunakan antara pihak DPPA dan para pedagang adalah sistem kontrak. “Kontrak yang akan diberlakukan selalu tahunan artinya dia diberi kesempatan setahun. Kalau nanti dinilai baik oleh manajemennya, bisa dimintakan perpanjangan setahun lagi dan seterusnya, tidak lima tahun sekali,” Ungkap Henricus. Sehingga dalam kantin yang baru nanti para pedagang Bonbin tidak berdiri sendiri sendiri seperti dahulu.

Tentang pengelolaan, Widodo sebagai pedagang Bonbin memberikan tanggapan kontrapositif mengenai pengelolaan Taman BI yang nantinya akan jadi tempat pedagang Bonbin berjualan. Ia menyatakan bahwa pedagang Bonbin tidak setuju dengan wacana pengelolaan Taman BI oleh pihak fakultas karena hal tersebut dinilai akan merugikan mereka. “Kami berharap hal tersebut(wacana pengelolaan Taman BI oleh pihak fakultas –red) tidak terjadi karena kantin fakutlas pasti lebih mahal dan kawan-kawan SBM(Save Bonbin Movement) nantinya akan sulit mengawal kami jika terjadi apa-apa,” pungkasnya.

Penolakan ini sudah diketahui pihak DPPA. Penolakan tersebut membuat DPPA akan menyeleksi pedagang-pedagang yang akan berjualan di Taman BI, bersama dengan pihak Fakultas Filsafat. Seleksi dilakukan untuk mendapatkan pedagang-pedagang yang mau diajak bekerja sama berjualan dalam sebuah manajemen kantin seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pihak DPPA juga menyadari bahwa yang dikhawatirkan oleh para pedagang adalah kehilangan para pembeli akibat harga yang lebih mahal. Menurut Henricus hal tersebut adalah konsekuensi dari fasilitas atau kegiatan tambahan berkenaan dengan syarat pelayanan kantin kampus. “Memang akan sedikit lebih mahal karena ada biaya untuk misalnya pengelolaan limbah. Pengelolaan limbah nantinya akan perlu dibuang, disedot ketika sudah penuh. Nah itu kan perlu biaya, biaya tersebut dibebankan kepada biaya manajemen,” Jelasnya.

(Fatimatuz Zahra, Ihsan Nur Rahman/Bul | Hafidz W. Muhammad/Bul )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here