Indonesia Culinary Conference and Creative Expo: Mengulik Ragam Kuliner dalam Negeri

Selama ini, sektor kuliner memberikan kontribusi besar dalam bidang perekonomian di Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengusaha yang bergelut di bidang kuliner. Berbagai inovasi pun diciptakan, sehingga makin banyak variasi kuliner yang bisa ditemui di berbagai daerah.

Bicara soal kuliner, tentu tidak lepas dari bahasan sustainable tourism alias pariwisata berkelanjutan yang diusung menjadi tema utama dalam Hari Pariwisata Internasional tempo hari. Menurut Wawan Rusiawan, Direktur Riset dan Pengembangan BEKRAF, kuliner Nusantara dan pariwisata ibarat dua sisi sisi koin yang tidak dapat dipisah. Pengembangan destinasi wisata pastinya juga akan berdampak pada kuliner lokal di daerah tersebut.

Oleh karena itulah, BEKRAF bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) pun menyelenggarakan festival kuliner pada Rabu (04/10) kemarin. Festival yang bertajuk “Indonesia Culinary Conference and Creative Expo” ini diselenggarakan hanya satu hari saja dan bertempat di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM. Diakui Wawan, festival ini  secara tidak langsung turut mengkampanyekan pentingnya pariwisata berkelanjutan dan korelasinya perkembangan dunia kuliner.

“Jadi kami berharap masyarakat bisa memetik manfaat dari event ini, terutama pada kaum muda, kaum yang kreatif. Anak-anak muda dapat belajar, mencoba, kemudian menggeluti bisnis dunia kreatif di bidang kuliner ini,” tuturnya.

Festival kuliner ini terdiri dari beberapa rangkaian acara. Mulai dari seminar, pameran kuliner Nusantara, kelas memasak hingga bazaar jajanan lokal yang dikembangkan oleh UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah, -red). Acara dibuka pada pukul 08.00 oleh Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan BEKRAF, Abdur Rohim Boy Berawi bersama Prof. Panut Mulyono sebagai Rektor UGM. Setelah pembukaan, acara pun dilanjutkan dengan seminar yang membahas tentang kuliner soto dan kopi.

Jika melihat aula PKKH sebagai tempat berlangsungnya seminar, bagian utama aula tersebut telah disulap menjadi pameran masakan khas Nusantara dari 34 provinsi yang berbeda. Makanan yang disajikan juga bukan replika, melainkan makanan asli yang dimasak langsung  oleh para chef ahli dari berbagai provinsi.

Lalu, berbelok ke ruang pameran PKKH, di sana pengunjung bisa menemui eksibisi berbagai macam masakan khas Nusantara. Mirip seperti di aula utama, akan tetapi menu yang dihadirkan lebih lengkap dan disertai dengan informasi terkait dengan menu tersebut. Pengunjung juga bisa bertanya langsung mengenai menu yang dimaksud kepada perwakilan dinas dan ormada (organisasi mahasiswa daerah, -red). Uniknya, para perwakilan daerah ini berbusana khas daerah masing-masing lho! Selanjutnya, ada kelas memasak yang berlangsung di depan ruang pameran. Di spot inilah, banyak ibu dan wanita muda berkumpul untuk mengikuti kelas memasak soto dan meramu kopi.

Tidak ketinggalan, di lapangan parkir utara PKKH, juga terdapat bazaar UMKM jajanan lokal. Ada puluhan stand dan semuanya bertemakan “Kedai Klangenan, Kekunoan & Kekinian”. Sesuai temanya, semua stand UMKM ini menjual berbagai macam jajanan lawas, namun dibalut dengan kemasan ‘kekinian’. Misalnya saja seperti es puter rasa duren atau es jeruk yang dihias ala kekinian.

Penulis : Adika Faris
Penyunting : Floriberta Novia D S

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here