pesona karjaw 4 (1 of 1)

Wildan Sena: Isu Kebangkitan PKI Terlalu Berlebihan

Bulaksumur mewawancarai Wildan Sena Utama, peneliti sejarah UGM, tentang peran memori kolektif dalam kemelut perebutan narasi sejarah.

Apa yang membuat sejarah dipahami berbeda-beda oleh masyarakat?
Kenapa bisa banyak versi? Karena sejarah bukanlah sesuatu yang sifatnya final. Sejarah merupakan tafsir dari sejarawan menurut berbagai sumber. Banyak sejarawan yang memandang sejarah dari sisi yang berbeda, karena sumber mereka berbeda. Hal tersebut juga bisa dipengaruhi oleh latar belakang penulis. Misalnya, penulis yang dekat dengan gerakan Islam, cenderung menulis peristiwa 1965 merupakan kudeta PKI. Kalau orang yang lebih Kiri, mungkin melihat kejadian tersebut dari sisi pembantaian besar-besaran. Memang berdiri di tengah, netral, begitu tidak mungkin sih. Menulis sejarah dengan posisi netral itu sulit, karena sejarah itu subjektif. Tapi bukan berarti menulis sejarah menurut metodologi penulisan sejarah itu tidak bisa. Tetap bisa, dengan menggunakan sumber-sumber yang lebih luas, agar mendapatkan pandangan yang luas terhadap suatu peristiwa sejarah. Kenapa muncul banyak interpretasi terhadap peristiwa 65? Karena banyak orang yang melihatnya dari berbagai sudut pandang. Ada yang melihat dari sudut pandang bahwa PKI melakukan pembantaian, misalnya. Itu tidak bisa disangkal, karena di pedesaan-pedesaan di Jawa Timur, terdapat aksi sepihak yang dilakukan oleh PKI untuk merebut tanah-tanah yang saat itu dimiliki oleh orang yang berlatar belakang santri. Tapi itu juga harus dilihat, konteks perebutan itu. Kenapa bisa muncul? Ada Undang-Undang Reforma Agraria. Karena pada undang-undang tersebut tertulis bahwa tanah harus diredistribusi porsinya. Jadi, tidak boleh ada penguasaan tanah. Dulu kan tuan tanah bisa menguasai tanahnya dengan bebas. Nah, dengan adanya undang-undang seperti itu, tanah tersebut harus dibagikan secara merata kepada petani. Dan itu mengakibatkan konflik yang luar biasa sekali. Jadi, setelah peristiwa 65 tersebut itu, kan ada peristiwa pembantaian terhadap PKI dan simpatisannya, termasuk juga orang-orang Kiri dan para Sukarnois. Kita tidak bisa menyangkal kejadian tersebut. Lalu dari sisi korban peristiwa tersebut, banyak sejarawan yang memiliki berbagai versi, ada yang bilang ratusan ribu bahkan jutaan. Kalau saya sendiri tidak tahu pasti jumlahnya berapa, karena pembunuhan yang terjadi saat itu, sangat rumit, dan berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Seperti tadi peristiwa perebutan tanah di pedesaan Jawa Timur. Di pemerintah pusat sendiri, militer memang sedang konflik dengan PKI. Konflik ini berlangsung secara struktural dan konflik yang ada di golongan atas itu juga mempengaruhi yang di bawah. Mereka ini ibaratnya memang sudah crash sejak awal 60an.

Jadi, tidak bisa dihindari, ya, kalau memang ada versi sejarah dari berbagai sudut pandang? Nah, misalnya, mungkin tidak kalau versi-versi tersebut digabungkan menjadi satu pedoman sejarah?
Menurut saya agak sulit ya, karena itu (sejarah, -red) ditulis sesuai dengan interpretasi penulis. Untuk merumuskannya dalam satu buku yang membahas satu peristiwa itu sulit, karena penelitian sejarah itu sifatnya tidak pernah final, akan selalu ada yang menemukan sumber baru. Misalnya, sekarang untuk memandang peristiwa 65, itu sekarang dibuka dokumen milik CIA untuk dideklasifikasi . Nah, konteks Perang Dingin ini yang banyak dilupakan orang dalam memandang peristiwa 65. Padahal perang dingin itu sangat berpengaruh, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara Asia. Kalau dilihat pada tahun 65 itu, tidak hanya presiden Soekarno yang jatuh. Orang-orang yang ingin membentuk sebuah perekonomian yang lebih berdikari dan tidak ingin berada di bawah kaki tangan Amerika rata-rata “jatuh” pada tahun 60-70an. Nah, dimensi untuk melihat peristiwa itu banyak sekali. Misalnya jika dilihat dari dimensi dalam negeri, saat itu terjadi konflik antara militer dengan PKI. PKI saat itu hitungannya merupakan salah satu partai terbesar. Dan di tengah, berdiri Soekarno sebagai wasit. Saat itu, Soekarno cenderung membiarkan ini (konflik, -red) semua terjadi di Indonesia, sebab pemikiran Soekarno kan cenderung NASAKOM (Nasionalis Agamis Komunis, -red). Jadi, menurut saya visi Soekarno pada saat itu sangat sulit ditebak, atau barangkali sangat brilian, bahwa dia memandang di Indonesia itu tidak hanya persatuan agama, suku dan budaya, tetapi juga ideologi. Suatu hal yang menurut saya benar-benar sulit, karena di mana-mana komunis kan sulit untuk diajak bersatu dengan Islam. Tapi, Soekarno menganggap kalau mereka mau maju, ya mereka harus bergerak bersama-sama.

Lalu, bagaimana hubungan antara kekuasaan dan sejarah yang terjadi selama ini di Indonesia? Soalnya kan, selama ini ada anggapan yang menyatakan kalau yang menulis sejarah itu adalah pihak yang menang.
Ya, itu benar. Sejarah yang ditulis negara adalah sejarah yang ditulis oleh versi si pemenang. Lalu, kenapa sekarang ini ada anggapan yang menyatakan seolah-olah PKI akan bangkit kembali? Karena kita selama ini diwariskan tentang memori kolektif kebangkitan komunis. Yang paling aneh menurut saya, katanya peristiwa 65 ini adalah kudeta yang dilakukan terhadap Soekarno. Tapi, kok, yang jatuh adalah Soekarno? Maksudnya adalah kalau ini kudeta terhadap Sukarno dan gagal, harusnya Sukarno dilindungi, dong. Namun kenyataannya, Sukarno malah tumbang. Berarti itu kan dimensinya sangat luas. Orang sering melupakan berbagai dimensi, misalnya seperti dimensi dari internasional. Sangat kompleks sekali. Itulah penyebabnya kenapa peristiwa ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang.

Akhir-akhir ini, kan, marak pemberitaan mengenai kasus yang terjadi di YLBHI. Lalu, ada isu-isu bahwa PKI akan bangkit lagi. Bagaimana menurut Anda?
Kalau menurut saya, masalah ini adalah pengaruh dari pewarisan ingatan. Karena semenjak Orde Baru, isu-isu komunis ini sering diangkat untuk menaikkan popularitas pemerintah. Sementara kita tahu, bahwa setelah tahun 65, terjadi “penenggelaman” terhadap orang-orang yang dianggap Kiri. Tapi kalau dilihat, penerapan ideologi komunis di Indonesia itu susah, karena ideologi tersebut memang sudah kalah. Perang dingin saja sudah usai pada tahun 91, dengan kejatuhan Soviet. Akhirnya, Soviet berubah menjadi Rusia dan memilih untuk lebih demokratis. Tembok Berlin runtuh, Jerman Timur bersatu dengan Jerman Barat. Dan di situ Amerika menang. Amerika menjadi satu-satunya negara yang bisa mempengaruhi semuanya. Di dunia ini, negara yang masih memegang ideologi komunis itu negara apa? Paling hanya Korea Utara. China apa bisa kita sebut sebagai komunis? Karena dalam praktiknya, China lebih ke kapitalis. Terus, apa sekarang yang menjadi role model negara komunis? Kita mau ngikutin Korea Utara? Saya pikir, pemerintahan kita itu tidak bodoh ikut-ikut dengan model pemerintahan seperti itu. Jadi menurut saya, pengangkatan isu ini terlalu berlebihan. Apalagi yang di LBH kemarin banyak yang mengaitkan orang-orang yang memakai baju dengan simbol-simbol tertentu dengan kebangkitan komunis. Itu hal yang berlebihan sekali. Perlu digarisbawahi juga, kalau orang-orang Kiri itu kadang memiliki sifat yang genit juga. Genit di sini, maksudnya, suka memakai barang-barang yang memiliki hubungan dengan komunis. Tapi aslinya, mereka itu kadang-kadang nggak ngerti. Coba tuh, mereka yang pakai baju Che Guevara, Karl Max, terus coba tanya mereka tentang Marxisme. Nggak ngerti. Itu menurut saya cuma upaya kegenitan. Baru belajar Marxisme, lalu memakai sesuatu yang memiliki simbol-simbol terkait seperti itu. Kan di kampus kita banyak, nggak usah jauh-jauh. Lalu, menurut saya, ada yang berusaha memanfaatkan peristiwa LBH ini untuk meraih kepentingan politik. Kan dari dulu sampai sekarang, tokohnya sama saja, Kivlan Zein misalnya. Dan akhir-akhir ini, isu-isu tersebut mulai diarahkan untuk menyerang Jokowi. Jokowi juga agak tersudut dalam kasus ini karena dia sering dikaitkan dengan komunis. Makanya, dia mengeluarkan statement “Gebuk Komunis”, yang menurut saya merupakan ungkapan kekesalan dia yang sering dikaitkan dengan PKI. Contohnya seperti isu bahwa Jokowi adalah anak dari seorang PKI, tapi tidak terbukti sampai sekarang. Jadi yang saya takutkan, ada yang memanfaatkan isu PKI bangkit ini untuk mengadu domba. Kita juga harus memahami teori konflik, bahwa di mana ada konflik, di situ juga ada satu pihak yang diuntungkan. Konflik itu diciptakan untuk meraih sesuatu. Tapi, memang tidak semua konflik itu diciptakan, ada juga konflik yang terjadi secara proses atau harafiah. Tapi tetap, kita harus selalu kritis melihat hal itu. Kaum intelektual harus bisa melihat dengan cerdas hal-hal seperti itu.

Reporter: Zahri Firdaus
Penyunting: Floriberta Novia Dinda S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *