Ilustrasi: Rofi Muhammad/BulIlustrasi: Rofi Muhammad/Bul

Potmasevo, untuk Siapa?

Akhir-akhir ini, isu iuran Perkumpulan Orang Tua Mahasiswa SV UGM atau Potmasevo sedang ramai dibicarakan. Memanasnya berita ini terkait dengan munculnya kabar pemberlakukan sanksi oleh Dekan SV UGM berupa penundaan legalisasi ijazah bagi mahasiswa yang tidak membayar iuran. Ketetapan ini sebenarnya baru disahkan pada tahun 2016 lalu dan semestinya hanya berlaku untuk mahasiswa tahun angkatan 2017. Namun, pada penerapannya, kebijakan ini juga dikenakan pada mahasiswa angkatan 2014. Kurangnya sosialisasi dari pengurus Potmasevo diyakini sebagai penyebab kesalahpahaman dalam pemberlakuan kebijakan.

“Potma (Iuran Potmasevo, -red) itu sebenarnya niatnya baik, karena memang tujuan awalnya untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan. Kita dari BEM SV pun setuju menyikapi adanya Potmasevo ini. Tapi memang sayangnya, sistem di Potmasevo tersebut belum baik dan harus dipatok harga yang sangat mahal,” ujar Dwi Cahyo Ramadhan (DTE ‘15) selaku Ketua Kastradvo BEM SV.

Dekan Sekolah Vokasi, Wikan Sakarinto ST MSc PhD juga sempat membahas isu Potmasevo yang sedang bergejolak ini di akun instagramnya (@wikan_sakarinto) dengan menuliskan caption pada 29 Agustus lalu.

Ilustrasi: Rofi Muhammad/Bul

“Iuran Potmasevo adalah kesepakatan di antara para orang tua mahasiswa SV yang terketuk hatinya untuk menyumbang iuran POTMASEVO (Perkumpulan Orang Tua Mahasiswa SV UGM). Pengurus Potmasevo telah menyampaikan kepada Pimpinan SV UGM, terkait mekanisme iuran Potmasevo ini. Dana disumbangkan ke rekening Potmasevo (sama sekali bukan rekening SV) dan bersifat sukarela. Pimpinan SV UGM tidak berhak atas dana yang terkumpul tersebut. Pengelola Potmasevo dan seluruh orang tua Mahasiswa SV yang berhak atas pemanfaatan dana tersebut….”

Klarifikasi tersebut memang kurang mampu menjawab pertanyaan mahasiswa, namun ternyata iuran Potmasevo hanya disarankan pada Mahasiswa golongan UKT 3 hingga UKT 6.

Persoalan iuran ini juga menuai komentar beberapa mahasiswa, salah satunya Hendra Adi Setiawan, wisudawan Teknik Mesin SV periode Agustus 2107. Ia menuturkan bahwa himbauan serta besaran iuran hanya diberitahukan melalui media sosial menjelang wisuda. Ia berharap kebijakan ini dapat segera diperbaiki. “Harusnya semua elemen dilibatkan dalam pengambilan keputusan, sehingga semua akan lebih jelas dan tidak terkesan pemaksaan. Tujuan mulia harus pula diimbangi dengan proses yang mulia dan terbuka. Kami semua percaya petinggi SV tidak akan pernah menzalimi kami, karena tujuan kami semua sama untuk kemajuan SV, sehingga kami bergerak bersama dan mengambil kebijakan bersama untuk kepentingan bersama yang jauh lebih mulia,” pungkasnya.

Penulis: Akyunia Labiba, F Zahra, Aulia Hafisa/Bul
Penyunting: Keval Diovanza H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *