Angkringan EnaknanFoto: Handayani Listaningtyas/Bul

Yuk, Nongkrong di Angkringan Enaknan!

Bicara soal kuliner khas Jogja, angkringan tentu tidak dapat terpisah darinya. Tempat makan yang terkenal dengan menu sego kucing  atau nasi kucing ini memang sudah menjadi salah satu ikon di Jogja. Hara yang ditawarkan pun terbilang murah dan merakyat. Tak mengherankan jika angkringan selalu melekat di hati siapa saja yang singgah di Kota Gudeg ini. Tak terkecuali bagi para pendatang, seperti pelajar dan mahasiswa.

Seperti namanya, angkringan acapkali dijadikan tempat nangkring atau nongkrong andalan ketika isi dompet sudah menipis. Meskipun  banyak kafe menjamur di Jogja, akan tetapi eksistensi angkringan tidak bisa dihilangkan. Malahan kini, angkringan juga eksis sebagai tempat nongkrong  layaknya sebuah kafe. Misalnya saja, Angkringan Enaknan.

Angkringan Enaknan ini terletak beberapa puluh meter saja dari arus jalur lingkar utara Jogja. Tepatnya di Jalan Kaliurang Km. 5.8 Gang Pandega Satya 10. Selain menjual berbagai menu dengan harga terjangkau, angkringan ini sering dijadikan tempat berdiskusi, mengerjakan tugas atau hanya sekadar nongkrong bersama teman.

Menurut Rosyid (owner Angkringan Enaknan), dengan berbekal konsep simple, ia ingin mengolah masakan tradisional menjadi makanan yang terasa lebih berkelas. Cita rasanya pun diolah sedemikian rupa sehingga diharapkan mampu memuaskan rasa lapar pengunjung. Meskipun terdengar “berkelas”, tetapi harga makannya masih terjangkau, yaitu mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 20.000.

Menu yang ditawarkan pun beragam. Meskipun demikian, nasi goreng tetap menjadi hidangan favorit para pengunjung. “Paling laris, sih, nasi goreng karena itu masakan umum. Di sini juga ada  berbagai variasi seperti nasi goreng ayam, teri hingga petai. Yang campur-campur juga ada, menyesuaikan selera,” jelas Rosyid. Demi menumbuhkan rasa nyaman bagi para pengunjung, Angkringan Enaknan juga menyediakan beberapa fasilitas pendukung seperti perpustakaan kecil dan koneksi WiFi. Kedua fasilitas ini bisa diakses secara cuma-cuma alias gratis.

Diakui Rosyid, segmen pasar utamanya adalah mahasiswa. Namun bukan tidak mungkin angkringan ini juga dipenuhi oleh orang-orang umum. Terlebih lagi, ketika musim liburan, banyak wisatawan yang berkunjung ke sana untuk menghabiskan waktu luangnya. Dalam sebulan, Rosyid mengaku bisa mendapatkan omzet sebesar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Tentunya bukan nominal yang sedikit bukan?

Pada waktu awal dibuka, yaitu pada tanggal 17 September 2016, angkringan ini gencar melakukan pelayanan delivery sebagai media promosi. Namun dalam perkembangannya, angkringan ini semakin ramai sehingga Rosyid memutuskan untuk fokus pada pelayanan on the spot tanpa menghilangkan pelayanan delivery.

Berbekal tagline Urip mung mampir ngangkring”, Rosyid berharap agar para pengunjung mampu menghidupi angkringannya dengan saling bercengkrama sembari duduk santai.

Penulis: Handayani Listaningtyas, Adika Faris/Bul
Penyunting: Floriberta Novia D S