Seks Bukan Ukuran Kesetiaan - Opsional terong© 2017 Johan Ferdian JR/Bul

Seks Bukan Ukuran Kesetiaan

Saya sering bertanya pada teman-teman, bahkan nyaris setiap hari kepada diri saya sendiri: apakah kesetiaan di dunia percintaan merupakan paket dari rasa sayang dan hasrat seksual milik berdua saja? Pertanyaan yang muncul karena tidak mudah bagi beberapa orang untuk bercinta dengan seorang saja, atau, minimal tertarik untuk melakukannya dengan orang lain. Dengan catatan bahwa ia tetap setia kepada pasangannya.

Definisi setia bagi mayoritas orang adalah untuk selalu ada di masa susah dan senang, tidak meninggalkan satu sama lain, dan tentu, untuk menjadi pasangan seks—satu-satunya. Padahal, ketertarikan seksual—atau hanya sekedar ingin mencium orang yang kita inginkan—sangat mungkin terjadi pada kita. Sehingga bagi saya, terdapat ketidaktegasan makna setia di kebanyakan pasangan. Apakah itu berarti setia dalam semua hal, atau tidak termasuk hal-hal yang menyangkut kebutuhan seksual. Akankah kita harus menutup rapat, mengubur dalam, membakar perasaan dan hasrat bercinta dengan orang lain—yang bagi saya, dan beberapa teman, merupakan hal yang biasa dan normal terjadi—tetapi bagi sebagian lain berpendapat hal itu sudah sangat menyimpang dari norma. Ketidaksetiaan kepada pasangan dalam beberapa hal, akan dengan mudahnya dicap telah melakukan perselingkuhan.

Hal tersebut semakin membuat saya bertanya-tanya dan berakhir dengan jawaban saya sendiri, Apakah norma dibuat untuk menata kehidupan bermasyarakat agar tertib, atau untuk memaksakan suatu hal yang dianggap normal dan bermoral kepada semua orang—tanpa mengindahkan pola pikir dan pendapat mereka?

Sayangnya, meski saya telah belajar sosiologi ketika SMA mengenai nilai dan norma, seiring berkembangnya waktu, meluasnya pengetahuan, dan makin banyaknya opini yang masuk di dalam otak saya, tetaplah ada keinginan untuk memperoleh penjelasan perihal pertanyaan, sekaligus opini, yang saya tuliskan pada paragraf satu.

Jika norma kesetiaan terhadap pasangan yang selama ini dianut masyarakat tetap dipaksakan, akankah hal itu akan semakin dilanggar? Atau yang lebih buruk lagi, diam-diam dilanggar?

Bagi saya, tidak masalah jika hubungan seksual dilakukan terhadap orang lain yang bukan pasangannya—secara resmi. Tentu hal ini merupakan pelanggaran keras terhadap norma kesetiaan dan mungkin akan menyakiti pasangan. Tetapi apakah hal tersebut lebih baik daripada kedua belah pihak menahan nafsu seksual mereka terhadap orang lain—dengan catatan orang lain yang dikehendaki setuju? Mengapa dua belah pihak yang ingin saling bercinta harus dilarang oleh kata setia?

Jika saja kedua orang yang sedang berkomitmen untuk setia itu mempertimbangkan hal ini, mungkin akan semakin sedikit drama klasik yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Ketika dua orang sudah berkomitmen dengan jelas dan detil, terutama mengenai definisi setia menurut mereka berdua, maka hubungan yang terjalin tidak mustahil akan bersih dari kebohongan dan perselingkuhan.

Ilustrasi bercinta

Jika bercinta dengan orang lain—tanpa melibatkan perasaan—bisa memuaskan hasrat dan kebutuhan seksual, mengapa tidak? Mengapa tidak boleh memenuhi kebutuhan diri sendiri? Dan jika kedua belah pihak sudah setuju untuk melakukannya, mengapa harus ada pihak lain yang merasa diselingkuhi—padahal pasangannya tetap setia mendengarkan keluh kesahnya, menemani kemana ia pergi, menjaga rahasianya, dan tetap membahagiakan pasangannya?

Tentu saja hal ini mungkin terlihat sangat aneh, amoral, atau terbaca  sebagai pembelaan bagi kaum-kaum yang dianggap tidak setia. Tetapi ingatlah, bahwa manusia memiliki keinginan dan hasrat seksual yang berbeda. Begitu juga dengan pasangan kekasih, memiliki definisi setia mereka masing-masing.

Penulis: Tiffani Rizki Putri Baihaqi / Sastra Inggris FIB UGM 2016
Penyunting: Mutia Fauzia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *