Kompas Mengarungi Zaman© 2017 Arif Wahyu/Bul

Cara Kompas Mengarungi Zaman

Sebuah surat kabar yang mampu menyesuaikan diri dengan dinamika zaman, tapi tetap memegang teguh prinsipnya. Sebuah prinsip yang muncul dari kolaborasi visi kedua pendirinya. Atas keteguhannya itu ia mendapat kepercayaan yang begitu besar dari masyarakat Indonesia.

Bisnis surat kabar adalah bisnis pengaruh. Modal utamanya adalah kepercayaan dari pembacanya. Ini yang sekaligus membikin bisnis surat kabar menjadi aneh. Semakin kita memberikan perhatian penuh pada kepentingan masyarakat, seperti menyediakan informasi yang faktual, berimbang, nonpartisan, maka semakin tinggi kepercayaan pembaca dan surat kabar kita akan berumur panjang. Tidak muncul secara heboh lalu cepat tenggelam. Meskipun kalau dipandang secara sekilas, surat kabar tersebut seperti tidak memikirkan keadaannya sendiri (baca: pemiliknya), tetapi yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Dengan mengutamakan kepentingan publik berarti surat kabar itu sedang membangun brand yang sangat berharga.

Sebagai koran nasional, Kompas dalam kerja jurnalistiknya fokus pada isu-isu yang menyangkut kepentingan nasional. Halaman pertama Kompas diisi berita-berita yang punya pengaruh besar terhadap kebijakan nasional. Bila memerhatikan berita-berita yang dimuat, terasa benar konsistensi dari Kompas, terutama sudut pandang pemberitaannya. Tidak mudah untuk sebuah surat kabar bertahan selama 51 tahun apalagi di Indonesia.

Pada awal-awal masa berdirinya (Kompas berdiri tanggal 28 Juni 1965), kebijakan redaksional Kompas lebih mengarah pada karakter P.K. Ojong. Kompas sangat frontal dan lebih banyak menyorot hitam-putih suatu peristiwa. Kompas sibuk menilai mana yang benar dan mana yang salah. Ini memang sesuai dengan panasnya suhu perpolitikan kala itu. Tulisan-tulisan di media dipenuhi dengan kata-kata yang keras, seperti kata “ganyang”.

Ketika dibredel tahun 1978, Jakob Oetama memilih untuk menandatangani kesepakatan dengan pemerintah agar Kompas dapat kembali terbit. Tentu saja itu adalah pilihan yang sulit karena Kompas harus mengubah beberapa cara kerjanya. Bahkan Ojong pada awalnya tidak setuju dengan hal tersebut. Tetapi Jakob berpendapat bahwa tetap hidup lebih bisa melanjutkan perjuangan daripada mati. Sebuah pilihan yang dapat dirasakan manisnya di kemudian hari.

Kompas kemudian tak lagi menjadi pers hitam-putih. Ia tidak hanya berbicara tentang hasil dan sasaran. Kompas sadar bahwa pers juga harus menyoroti proses dari berbagai gejolak peristiwa. Untuk mendukung tugas itu, maka perlu dibangun suatu metode pengamatan, pencatatan, dan penulisan suatu berita agar pesan dari media tersebut sampai ke pembaca. Sejak itulah muncul istilah Jurnalisme Pembangunan.

Sebetulnya banyak yang memandang sinis Jurnalisme Pembangunan. Jurnalisme macam ini hanya dianggap sebagai suatu cara agar pers tetap dapat hidup di tengah represi yang kencang dari pemerintah. Ia dianggap jauh dari jati diri pers yang berasal dari jerih payah perjuangan dan tugas pokoknya sebagai “anjing penjaga”. Pers sejenis ini disindir hanya memberitakan yang baik-baik saja. Tidak kritis, tidak progresif, kontra-revolusioner!

Jakob Oetama memang mengakui bahwa dalam prakteknya, bisa saja muncul pers yang sedemikian rupa. Namun dalam tataran konsep, sebetulnya, Jurnalisme Pembangunan hanya ingin lebih memunculkan harapan di tiap-tiap pemberitaannya. Ada harapan agar kepentingan-kepentingan nasional dapat berjalan dengan cepat dan lancar. Tentu saja jurnalisme gaya ini tetap memunculkan kritik. Tidak kemudian memuja-muja apa saja yang dilakukan pemerintah. Fungsi “anjing penjaga” tetaplah ada. Tetapi mungkin Kompas lebih memilih untuk menjadi “anjing penjaga yang santun”. Kompas mengkritik, tetapi kritiknya disampaikan dengan baik-baik, tidak dengan caci maki berupa diksi sensasional demi kepopuleran yang instan. Wujud dari cita-cita ini dapat dilihat dari konsistennya Kompas dalam penggunaan gaya bahasa hingga detik ini. Meski hal tersebut juga perlu dikritisi karena diksi yang digunakan Kompas kurang ramah bagi beberapa kalangan.

Cita-cita dari Jurnalisme Pembangunan semestinya membuat kita sadar bahwa, fungsi pers kecuali sebagai “penjaja berita”, juga harus turut mendorong kemajuan kualitas hidup pembacanya. Hal ini bisa terwujud jika pendiri dari perusahaan pers tersebut memang mempunyai komitmen terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Sehingga, tiap-tiap keputusan yang akan diambil dan arah pemberitaannya selalu menyertakan kepentingan publik. Pers yang seperti ini tidak akan asal menjual informasi demi keuntungan perusahaannya.

Seiring perkembangan zaman, Kompas dihadapkan dengan perkembangan cyber media dan media sosial. Informasi menjadi berhamburan. Tiap detik kita menelan data dan kata. Dalam masa-masa seperti ini Kompas mengembangkan suatu cara yang kemudian disebut sebagai Jurnalisme Makna. Sebab yang terpenting saat ini ketika kita selalu dijejali banjir informasi – sekeras apapun kita membendungnya – adalah memberi makna pada setiap informasi yang kita dapatkan. Salah satu contohnya, Litbang Kompas mengumpulkan beragam berita dari 5 media nasional, termasuk Kompas sendiri, dan mengelompokkannya secara struktur sesuai tema. Pekerjaan ini dipublikasikan dalam bentuk buku yang diberi judul Buku Pintar Kompas. Buku ini terbit tiap tahun. Membaca buku tersebut dapat membuat kita terus dapat mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu sehingga bisa lebih bijak saat menghadapi permasalahan yang serupa. Dengan begitu kita dapat memberi makna pada tumpukan data yang telah memenuhi otak kita.

Namun memang tak dapat dipungkiri, perkembangan media digital terus menguji Harian Kompas untuk menyesuaikan diri. Meski Jakob Oetama malah mengajukan pertanyaan yang menantang. Benarkah akan datang zaman paperless world? Benarkah kehadiran media cetak tinggal hitungan jari? Karena menurut Jakob, dengan memahami sejarah, dapat dipahami bahwa kemunculan medium baru tidak serta-merta menggantikan medium lama. Contohnya, radio tidak menggantikan surat kabar. Begitu juga, televisi tidak menggantikan radio. Yang terjadi adalah kolaborasi di antara medium-medium itu.

Kompas cukup banyak belajar dari The New York Times tentang kolaborasi media cetak dan digital. Ada dua hal yang dipelajari Kompas. Pertama, transformasi media dari cetak ke digital harus mempertemukan dua platform berbeda tersebut dalam satu keredaksian dan nama brand yang sama (Kompas Way, Jacob’s Legacy, 2016). Artinya, dengan membuat kualitas keredaksian digital sama dengan cetak, kualitas kedua medium tersebut tetap sama. Kompas sebetulnya sadar akan hal itu. Meski saat ini kualitas media digitalnya masih jauh di bawah cetak. Tetapi Kompas juga sudah mulai berusaha memberi kesan baik di media digital dengan memindahkan tulisan-tulisan di cetak ke digital.

Munculnya tulisan Bre Redana (redaktur harian Kompas) di rubrik Udar Rasa yang berjudul “Inikah Senjakala Kami”, juga menjadi tanda bahwa tidak semua punggawa Kompas mengerti poin pertama ini.

Bre Redana menyebut bahwa kualitas media digital tidak bisa menyamai media cetak karena jurnalis media cetak lebih punya keuletan dalam hal pencatatan. Sedangkan jurnalis media digital, demikian Bre, lebih suka hal-hal praktis seperti mencatat di handphone dan saling salin transkrip antarwartawan. Meski hal ini memang benar-benar terjadi, tapi tentu saja itu tak hanya terjadi di kerja jurnalis media digital saja. Jurnalis cetak pun melakukannya. Pernyataan Bre tersebut lebih terkesan sebagai sebuah usaha mengenang kejayaan masa lalu. Bre mungkin lupa bahwa media-media digital juga ada yang berkualitas. Maka, kritik terhadap sebuah media semestinya diarahkan pada kualitasnya, bukan mediumnya.

Yang kedua, untuk melakukan transformasi itu, semua pihak harus satu pemahaman, dari pekerja sampai jajaran pemimpin. Dalam kasus The New York Times, dibentuk tim khusus untuk melakukan penelitian yang kemudian menghasilkan buku Innovation Report. Buku ini menjadi panduan menjalankan The New York Times di periode-periode selanjutnya. Sebab mereka sadar bahwa mereka harus berubah, sehingga melakukan persiapan yang serius. Namun mereka juga sadar untuk tidak meninggalkan prinsip-prinsip awal pendirian koran tersebut. Karena, sebuah media menjadi besar dan tahan lama bukan karena uang, tapi karena gagasan besar ketika mendirikannya.

Penulis: Dandy Idwal Muad
Penyunting: Mutia Fauzia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *