Estetika Selebgram, Untuk Apa?

Hidup di era kecanggihan teknologi memang gampang-gampang susah. Di satu sisi, kita dimudahkan dalam mengakses berbagai informasi. Namun di sisi lain, media sosial juga bisa meloloskan beragam nilai asing ke otak kita. Kebebasan untuk dilihat dan disukai membuat beberapa orang mampu menawarkan “nilai baru”. Kemudian, hal ini menjadi terkenal lewat media sosial, misalnya instagram—karena terdapat kebebasan untuk melihat dan menyukai. Kira-kira begitulah gambaran bagaimana istilah—bisa jadi sebuah profesi—‘selebgram’ muncul ke permukaan dan memiliki penggemarnya sendiri. Namun, sebuah pertanyaan ringan dari teman beberapa waktu lalu membuat saya ‘terpelatuk’, “Lalu, apa sih gunanya ada selebgram?”

Tidak salah bukan, menanyakan apa manfaat selebgram bagi pribadi penikmat selebgram itu sendiri? Memang, tidak sedikit selebgram yang terkenal karena bakat dan prestasi diri mereka sehingga mampu menginspirasi serta mendorong orang lain untuk turut berkreasi. Dian Pelangi, misalnya. Lalu, bagaimana dengan sisanya? Apakah mereka sekadar pelengkap jagad maya?

Hadirnya selebgram memang menjadi ladang uang tersendiri bagi sejumlah penggiat online shop dan pelaku selebgram sendiri. Namun di sisi lain, selebgram dapat menjadi sumber meningkatnya perilaku konsumtif masyarakat, termasuk mahasiswa. Pasalnya, mayoritas penggemarnya menyukai mereka dari segi gaya berpakaian, gaya berfoto, feeds timeline sampai gaya hidup, bukan dari prestasi konkret atau bakat yang mumpuni. Apalagi sebagian besar aesthethic selebgram ini sebenarnya hanya punya dirinya sendiri beserta kehidupannya untuk “dijual”. Sehingga yang bisa mereka tunjukkan adalah foto rupawan seolah berseni hasil aplikasi, juga prestasi mencari uang sendiri yang sering ditunjukkan dengan gaya hidup borjuis.

Bagi remaja yang masih mencari panutan untuk menentukan jati diri, nilai-nilai kehidupan yang ditawarkan selebgram sangat menyilaukan sehingga dipandang menyenangkan. Maka dari itu, banyak penggemar kaum selebgram adalah remaja-remaja tanggung. Mereka cenderung ingin mencontoh setiap gaya idolanya yang dianggap goals, mulai dari gaya berpakaian hingga obsesi menjadi selebgram. Tak jarang, uang orang tua pun dikorbankan demi pernak-pernikhits yang lekat dengan idolanya agar tampak gaul di media sosial.

Tidak hanya remaja tanggung, kalangan mahasiswa yang masih termasuk generasi Y, suka atau tidak suka, rawan terkena imbas hadirnya selebgram. Kembali pada kebebasan untuk dilihat, kontroversi yang ditimbulkan baik dari gaya hidup maupun gaya berpakaian yang kadang di luar norma, seringkali membuat selebgram menarik diperbincangkan. Pro atau kontra seseorang terhadap sang objek perbincangan, mereka akan tetap terdorong untuk mengikuti linimasa selebgram kontroversial tersebut. Alhasil, mereka turut menjadi target empuk endorsement produk yang menjadi ladang uang selebgram. Bukan tidak mungkin, lho, seorang yang kontra terhadap selebgram terdorong untuk membeli suatu barang yang mengingatkannya pada public figure tertentu.

Dari paparan di atas, dapat diketahui bahwa munculnya selebgram sebagai public figure sedikit banyak berpengaruh dalam meningkatnya perilaku konsumtivisme di kalangan millennials. Mayoritas diwujudkan dalam bentuk belanja online. Ungkapan Ketua Umum Aprindo membenarkan bahwa generasi mudalah yang meningkatkan penjualan onlinesaat ini.Apalagi dengan meluasnya slogan ”nakal dulu baru sukses” mengiming-imingi jiwa yang masih lemah untuk mencari kesenangan sebelum mampu menghasilkan uang sendiri. Ide ini justru menjerumuskan remaja pada hedonisme. Padahal, tidak setiap orang mampu memiliki nasib yang sama dengan cara yang serupa. Bukankah setiap orang akan sukses dengan cara dan pada waktunya masing-masing? Mengembangkan bakat dan potensi diri adalah cara yang lebih tepat dan lebih keren untuk mencari keberhasilan.Jadi, apa gunanya selebgram yang hanya menjual estetika di media sosial? Apakah menjadi hiburan mata? Cuci mata? Atau hanya menjadi sarana belanja mata?

Penulis: Sesty Arum/ Mahasiswi Fakultas Psikologi UGM 2016
Penyunting: Kartika Natasha