Boneka Barbie (Juno)© 2017 Johan Ferdian JR/Bul

Barbie: Simbol Feminisme Sejati

Bahasan tentang feminisme beberapa tahun ini memang sedang marak. Berbagai kampanye untuk mencintai tubuh kita sendiri pun sering kita temui, baik di lini masa media sosial ataupun media massa. Dove, sebagai contoh, merupakan salah satu brand yang menggalakkan ‘real beauty campaign’ pada tahun 2004 silam. Ia menampilkan tubuh model-model yang masuk dalam kategori overweight. Sejatinya, kegiatan tersebut dilakukan Dove untuk menunjukkan bahwa kecantikan hadir dalam segala bentuk. Meski memiliki tujuan yang positif, tetapi kampanye yang dilakukan Dove tersebut juga menuai berbagai tanda tanya. Apakah untuk menyandang status ‘real beauty’ seseorang harus mengikuti bentuk tubuh seperti yang ditampilkan pada kampanye tersebut? Apakah wanita berbadan kurus, baik karena pilihan ataupun takdir, bukanlah sosok yang pantas menyandang status tersebut? Hal itu pun dikhawatirkan akan menjadi suatu double-standard tersendiri, yang kerap kita temui di masyarakat dewasa ini. Fenomena lain yang juga kerap memicu perdebatan serupa dapat kita telusuri kembali ke salah satu boneka paling populer di dunia, Barbie.

Selama ini Barbie hampir selalu menjadi cercaan publik, utamanya dari kaum ‘feminis’. Bahkan, seringkali hubungan Barbie dan feminisme dilukiskan bak air dan api, yang mau tidak mau menghancurkan kedua elemen apabila dipaksakan bertemu. Boneka yang setia menemani masa kanak-kanak sebagian besar kaum hawa ini pun tak pelak menjelma menjadi sosok efiji yang dibenci oleh feminis abal-abal. Dalam pandangan masyarakat modern, produk Barbie juga sering diasosiasikan sebagai wujud dari representasi unrealistic beauty standard. Alhasil, Barbie kerap dijadikan kambing hitam oleh masyarakat akan maraknya diet yang tidak sehat hingga operasi plastik.

Karena alasan-alasan yang telah disebutkan pada paragraf sebelumnya, tak sedikit yang lantas menyematkan label ‘berbahaya’ pada boneka tersebut untuk perkembangan mental anak. Namun, pada umumnya anak-anak tidak memiliki masalah dengan penampilan Barbie tersebut. Mereka belum menaruh perhatian khusus terhadap penampilan. Kecemasan orang dewasa tersebut malah secara tidak langsung mendukung anggapan bahwa tubuh adalah main concern di masyarakat. Menurut beberapa penelitian, rupanya pembentukan body image di pikiran anak-anak justru dipengaruhi oleh sikap orang tua ketimbang faktor eksternal lainnya. Body image yang ‘ideal’ diperoleh anak melalui pujian dan komentar orang dewasa terhadap penampilannya. Adapun hasil penelitian yang dilakukan oleh Harvard Medical School menunjukkan bahwa seorang ibu yang menaruh perhatian besar pada berat badan mereka cenderung menurunkan perilaku tersebut ke anak mereka.

Berbagai komentar bernada negatif yang terus menerus menyerang memang sempat membuat angka penjualan boneka tersebut turun sebesar 16% pada 2014 lalu. Namun, apabila kita menilik lebih dalam, maka kita akan menyadari bahwasanya Barbie justru merupakan simbol feminisme sejati yang mampu menginspirasi anak-anak perempuan di seluruh dunia.

Barbie pertama kali dirilis ke pasar pada tanggal 9 Maret 1959, tepat sehari setelah perayaan International Women’s Day ke-48. Meski pada masa-masa itu budaya patriarki di Barat masih cukup terasa, Barbie berani menyajikan dirinya dalam berbagai outfit yang melambangkan karier-karier tertentu. Adapun pilihan karier yang tak hanya identik dengan wanita, tetapi juga yang tergolong ‘maskulin’. Peluncuran Barbie dengan karier executive dan astronot pada tahun 1963 dan 1965 pun menjadi bukti, bahwa produksi boneka tersebut berjalan beriringan dengan feminisme, tepatnya second wave feminism. Hingga saat ini, Mattel telah meluncurkan ratusan Barbie Career dengan pilihan karier seperti pilot, polisi, dokter hewan, hingga presiden; yang dapat dilihat sesuai tahun rilisnya di situs resmi Barbie. Adapun cuplikan video berjudul ‘Imagine the Possibilities’ oleh akun resmi Barbie yang menampilkan fantasi anak-anak perempuan dalam bekerja sesuai karier yang diinginkannya.

Feminisme tak sekadar memperjuangkan kesetaraan, namun juga pilihan.

Dalam hal ini, Barbie pun membuktikan dirinya sebagai seorang feminis sejati. Ia memperjuangkan haknya sendiri untuk bebas dari dikte masyarakat dengan tetap memilih berpenampilan ‘menarik’. Mungkin terdengar tak masuk akal, tetapi saat ini memilih untuk berpenampilan ‘menarik’ merupakan suatu tantangan tersendiri di masyarakat. Sebagian mereka menganggap bahwa kesuksesan seorang wanita ‘cantik’ semata-mata berkat penampilannya saja, bukan berkat otak dan usahanya. Hal itu biasa disebut dengan istilah bimbo effect. Sayangnya, anggapan tersebut justru diamini oleh kebanyakan mereka yang mengaku feminis.

Orang-orang berkata, bahwa kita perlu menghargai orang jangan hanya dari fisiknya saja, tetapi juga pencapaiannya. Namun, ketika disodori boneka Barbie, mendadak mereka menjadi hipokrit. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa Barbie hanyalah suatu respresentasi unrealistic beauty standard dalam wujud boneka, tanpa melihat ‘hikmah’ pencapaian kariernya. Padahal, apabila ditilik dari perspektif lain, Barbie merupakan role model yang baik untuk anak-anak perempuan. Ia memiliki karier yang cemerlang dan tetap memilih untuk berpenampilan sesuai yang ia inginkan. Perlu ditekankan, bahwa berpenampilan ‘menarik’ tak selalu didorong oleh motivasi dress to impress. Apabila Barbie mengubah penampilannya sedemikian mungkin semata-mata agar terlihat lebih ‘pintar dan berprinsip’, maka bisa disimpulkan ia masih terpenjara dalam opini masyarakat.

Dalam feminisme, kita tidak mengenal trade-off antara gender dan karier. Maka, sudah seharusnya pula, kita tanamkan dalam pikiran, bahwa penampilan adalah sebuah pilihan, dan bukan merupakan sebuah trade-off dari kapasitas intelektual seseorang.

Penulis: Hanum Nareswari/Bul
Penyunting: Dandy Idwal Muad


Referensi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *